Ishfah Seven

Semangat dan Mimpi

Penyakit Hati : Dengki

Leave a comment

“Kok dia udah dapet cewek lagi aja, padahal baru putus.”

“Ih, mobil dari mana tuh? Pasti ngredit lah ya. Mobil baru terus tapi ngutang.”

“Apa, tetangga kita jadi besanan sama pengusaha batu baru dari Sumatera itu? Hmm.. mencurigakan.’

Dan ada banyak contoh lainnya yang mirip, yang mungkin saat ini sedang kamu rasakan. Apa itu? Dialah sebuah penyakit hati bernama iri hati, dengki, atau hasud. Rasa dengki dan iri tumbuh ketika orang lain menerima nikmat. Biasanya jika seseorang mendapatkan nikmat, maka akan ada dua sikap pada manusia. Pertama, ia benci terhadap nikmat yang diterima kawannya dan senang bila nikmat itu hilang darinya. Sikap inilah yang disebut hasud, dengki dan iri hati. Kedua, ia tidak menginginkan nikmat itu hilang dari kawannya, tapi ia berusaha keras bagaimana mendapatkan nikmat semacam itu. Sikap kedua ini dinamakan ghibthah (keinginan). Yang pertama itulah yang dilarang sedangkan yang kedua diperbolehkan.

Sifat iri adalah kesedihan yang mendalam karena kelebihan yang dimiliki seseorang. Orang yang  iri hati akan mengerahkan segala kemampuannya untuk mencelakakan orang lain. Karena tujuannya adalah melenyapkan kelebihan yang dimiliki orang tersebut. Irinya iblis kepada Nabi Adam merupakan dosa pertama kali yang diperbuat di atas langit.

Dari sifat irinya Qabil kepada Habil, maka terjadilah pertumpahan darah dan itu merupakan perbuatan dosa pertama kali yang dilakukan di muka bumi. Adapun sifat iri, merupakan salah satu sumber dari segala maksiat. “Barangsiapa yang terbebas dari tiga sifat ini, maka dia akan terlindung dari segala macam kejelekan. (Ketahuilah), kekafiran itu berasal dari sifat sombong. Maksiat berasal dari sifat tamak. Sikap melampaui batas dan kezholiman berasal dari sifat dengki (hasad).” (Ibnul Qoyyim –rahimahullah)

Nabi SAW bersabda, “Jauhilah semua sifat dengki/iri hati itu, karena sesungguhnya sifat dengki itu bisa menghabiskan amal-amal kebaikan sebagaimana api menghabiskan kayu bakar .” (HR Abu Dawud)

Sebab-sebab iri hati atau dengki :

  1. Kecintaan kepada dunia. Dengki biasa terjadi di antara orang-orang terdekat : antar keluarga, antar teman, antar tetangga dan orang-orang yang berdekatan lainnya. Kecintaan kepada dunia yang mengakibatkan dengki antar sesama disebabkan oleh banyak hal. Di antaranya karena permusuhan. Ini adalah penyebab kedengkian yang paling parah. Ia tidak suka orang lain menerima nikmat, karena dia adalah musuhnya. Bila musuhnya itu mendapat nikmat, hatinya menjadi sakit karena bertentangan dengan tujuannya. Permusuhan itu tidak saja terjadi antara orang yang sama kedudukannya, tetapi juga bisa terjadi antara atasan dan bawahannya. Sehingga sang bawahan, misalnya, selalu berusaha menggoyang kekuasaan atasannya.
  2. Ta’azzuz (merasa paling mulia). Ia keberatan bila ada orang lain melebihi dirinya. Ia takut apabila orang lain mendapatkan kekuasaan, pengetahuan atau harta yang bisa mengungguli dirinya.
  3. Takabur atau sombong. Ia memandang remeh orang lain dan karena itu ia ingin agar dipatuhi dan diikuti perintahnya. Ia takut apabila orang lain memperoleh nikmat, berbalik dan tidak mau tunduk kepadanya. Termasuk dalam sebab ini adalah kedengkian orang-orang kafir Quraisy kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang seorang anak yatim tapi kemudian dipilih Allah untuk menerima wahyu-Nya. Kedengkian mereka itu dilukiskan Allah dalam firman-Nya, yang artinya: “Dan mereka berkata: Mengapa Al Qur’an ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Makkah dan Thaif) ini?” (QS. Az Zukhruf: 31) Maksudnya, orang-orang kafir Quraisy itu tidak keberatan mengikuti Muhammad, andai saja beliau itu keturunan orang besar, tidak dari anak yatim atau orang biasa.
  4. Ta’ajub atau heran terhadap kehebatan dirinya. Hal ini sebagaimana yang biasa terjadi pada umat-umat terdahulu saat menerima dakwah dari rasul Allah. Mereka heran manusia yang sama dengan dirinya, bahkan yang lebih rendah kedudukan sosialnya, lalu menyandang pangkat kerasulan, karena itu mereka mendengkinya dan berusaha menghilangkan pangkat kenabian tersebut sehingga mereka berkata: “Adakah Allah mengutus manusia sebagai rasul?” (QS. Al-Mu’minun: 34). Allah menjawab keheranan mereka dengan firman-Nya, yang artinya: “Dan apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepada kamu peringatan dari Tuhanmu dengan perantaraan seorang laki-laki dari golonganmu agar dia memberi peringatan kepadamu ?” (QS. Al A’raaf: 63)
  5. Takut mendapat saingan. Bila seseorang menginginkan atau mencintai sesuatu maka ia khawatir jika mendapat saingan dari orang lain, sehingga tidak terkabul apa yang ia inginkan. Karena itu setiap kelebihan yang ada pada orang lain selalu ia tutup-tutupi. Bila tidak, dan persaingan terjadi secara sportif, ia takut kalau dirinya tersaingi dan kalah. Dalam hal ini bisa kita contohkan dengan apa yang terjadi antara dua wanita yang memperebutkan seorang calon suami, atau sebaliknya. Atau sesama murid di hadapan gurunya, seorang alim dengan alim lainnya untuk mendapatkan pengikut yang lebih banyak dari lainnya, dan sebagainya.
  6. Ambisi memimpin (hubbur riyasah)Hubbur riyasah dengan hubbul jah(senang pangkat/kedudukan) adalah saling berkaitan. Ia tidak menoleh kepada kelemahan dirinya, seakan-akan dirinya tiada bandingannya. Jika ada orang di penjuru dunia ingin menandinginya, tentu itu menyakitkan hatinya, ia akan mendengkinya dan menginginkan lebih baik orang itu mati saja, atau paling tidak hilang pengaruhnya.
  7. Kikir dalam hal kebaikan terhadap sesama hamba Allah. Ia gembira jika disampaikan kabar kepadanya bahwa si fulan tidak berhasil dalam usahanya. Sebaliknya ia merasa sedih jika diberitakan, si fulan berhasil mencapai kesuksesan yang dicarinya. Orang semacam ini senang bila orang lain terbelakang dari dirinya, seakan-akan orang lain itu mengambil dari milik dan simpanannya. Ia ingin meskipun nikmat itu tidak jatuh padanya, agar ia tidak jatuh pada orang lain. Ia tidak saja kikir dengan hartanya sendiri, tetapi kikir dengan harta orang lain. Ia tidak rela Allah memberi nikmat kepada orang lain. Dan inilah sebab kedengkian yang banyak terjadi.

Allah melarang kita iri pada yang lain karena rezeki yang mereka dapat itu sesuai dengan usaha mereka dan juga sudah jadi ketentuan Allah.

Iri hanya boleh dalam dua hal yaitu dalam hal bersedekah dan ilmu. Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Tidak ada iri hati kecuali terhadap dua perkara, yakni seorang yang diberi Allah harta lalu dia belanjakan pada jalan yang benar, dan seorang diberi Allah ilmu dan kebijaksnaan lalu dia melaksanakan dan mengajarkannya.“

SUMBER

###

View My Daily Post

Advertisements

Author: Fahmi Ishfah

i am cool, tough, smart, kind and complex

Apa komentarmu tentang postingan ini?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s