Ishfah Seven

Semangat dan Mimpi

Kisah Umar Bin Khattab 3 – Keburukan dan Kebaikan

Leave a comment

Setelah masuk Islam, Umar juga sering mengunjungi tempat-tempat yang dulu ia pernah melakukan maksiat dan kesalahan. Hingga ia berkata, “Tak ada tempat yang saya pernah melakukan kesalahan di sana sebelum masuk Islam melainkan saya melakukan kebaikan di sana setelah masuk Islam.”

Bahkan dalam satu riwayat mengatakan bahwa meski perawakan beliau yang kekar, tinggi tegap dan orang lain takut menghadapinya, di sisi lain hati Umar mudah tersentuh ketika mendengar ayat-ayat Al-Qur’an.

Diceritakan kadang-kadang Umar ketika shalat dan menoleh ke kanan ia tersenyum sedangkan jika menoleh ke kiri ia menangis berurai air mata. Jika ditanya tentang hal ini, Umar menjawab, “Semua ini karena saya sedang mengingat betapa jahil-nya saya sebelum masuk Islam. Jika menoleh ke sebelah kanan dan saya tersenyum itu karena saya sedang menertawakan kelakuan konyol saya dulu yang membuat berhala sendiri dari pohon kurma lantas saya sembah sebagai Tuhan. Setelah saya sembah, saya makan itu kurma. Adapun jika saya menoleh ke kiri, saya teringat putri saya. Pada waktu itu saya terbawa oleh tradisi Jahiliyah, takut menanggung aib karena memiliki anak perempuan hingga saya menguburnya hidup-hidup, bayi yang masih kecil itu saya bunuh, anak saya sendiri. Betapa sekarang saya sangat bersedih hati jika mengingat hal ini.”

Padahal Nabi sudah memberikan jaminan bahwa orang kafir yang masuk Islam maka seluruh dosa yang lalu (saat masih kafir) akan diampuni oleh Allah dan perhitungan amal baik dan buruknya untuk akhirat kelak dihitung (dihisab) sejak ia masuk Islam.

Cinta Umar kepada Baginda Nabi itu sungguh luar biasa. Dalam setiap pertempuran, Umar selalu berada di barisan terdepan untuk membela agama Islam. Bahkan di hari wafatnya Baginda Nabi, Umar tidak langsung mempercayainya saat berita itu sampai kepadanya.

“Ya Umar, Baginda Nabi sudah wafat.”
“Kamu ngomong apa, hah?”

Bukannya sedih, Umar malah mengeluarkan pedangnya dan matanya melotot lalu berteriak, “Siapa yang bilang bahwa Muhammad telah mati maka saya akan tebas batang lehernya.”

Begitu cintanya beliau kepada Nabi Muhammad, sehingga ia tidak langsung menerima bahwa Nabi telah wafat. Ia berkeliling kota dan menantang siapa saja yang berani mengatakan bahwa Nabi telah wafat akan ia bunuh. Hingga datang Abu Bakar dan beliau berpidato di antara kerumunan banyak orang.

“Wahai manusia, siapa saja yang menyembah Muhammad, maka ketahuilah bahwa ia telah meninggal dunia. Tetapi siapa saja yang menyembah Allah, maka ketahuilah Dia tidak mati melainkan Maha Hidup.”

Mendengar pidato ini, Umar pun sadar bahwa sebenarnya yang tidak bisa mati itu adalah Allah. Bagaimana pun agungnya Baginda Nabi, tinggi budi pekertinya, bagus akhlaknya tapi beliau adalah manusia dan manusia pasti akan mati.

Kemudian dibacakan Surat Ali Imran Ayat 144

Mendengar ayat ini, Umar berurai air matanya dan menangis dalam kesedihannya. Hal ini merupakan salah satu bentuk kecintaan Umar kepada Rasulullah.

Saat masih hidup, Bagiinda Nabi mengajarkan sesuatu kepada Umar tentang amal buruk yang dulu pernah ia lakukan bisa ditebus dengan melakukan kebaikan.

Taqwa itu tidak kenal tempat. Di mana saja kamu berada, kamu mesti bertaqwa kepada Allah. Di rumah, kantor, di tengah orang banyak atau pada waktu sendirian, kamu tetap harus bertaqwa kepada Allah. Jangan bertaqwa dikaitkan pada tempat. Misal, kamu hanya taqwa jika sedang berada di dalam mesjid saja.

Dan iringi perbuatanmu yang salah dengan kebaikan. Jika nanti kamu berbuat salah maka cepat-cepatlah berbuat kebaikan dengan harapan bahwa kebaikan yang kamu lakukan itu bisa menutupi atau menggugurkan dosa yang kamu lakukan.

Banyak ngomongin orang, lantas beristigfar. Istigfarnya itu semoga bisa menutupi dosa akibat membicarakan orang lain. Misal pernah dengan sengaja mengambil barang orang lain maka imbangilah dengan sering memberikan sedekah kepada orang lain. Pernah menyakiti hati orang lain maka imbangilah dengan melakukan hal yang bisa menyenangkan hati orang lain. Inilah yang dilakukan oleh Sayyidina Umar yaitu mengiringi perbuatan buruk dengan perbuatan baik.

Saudara, diperlukan orang yang memiliki keberanian seperti Umar. Ia berani karena panggilan hidayah, bukan berani babi (nyeruduk tanpa arah dan pertimbangan). Keberanian tanpa pertimbangan pada akhirnya akan menyulitkan diri sendiri. Sayyidina Umar itu gagah, pemberani dan memiliki kuasa. Semua itu ia jadikan sebagai backing atau pendukung bagi dakwah Nabi.

Dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik, karena dengan hal ini kamu bisa mengambil hati orang lain. Dalam hadits lain dikatakan bahwa, “Kamu tidak bisa menyenangkan orang banyak dengan hartamu tetapi kamu bisa mengambil hati mereka dengan budi pekerti yang luhur dan muka yang manis.”

Dengan harta, kita belum tentu bisa menyenangkan semua orang tetapi dengan budi pekerti yang luhur dan muka yang manis (ramah dan mudah tersenyum), itulah yang bisa menyenangkan hati orang lain.

###

Tausyiah lainnya dari K.H Zainudin MZ ada di sini

Advertisements

Author: Fahmi Ishfah

i am cool, tough, smart, kind and complex

Apa komentarmu tentang postingan ini?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s