Ishfah Seven

Semangat dan Mimpi

Kisah Umar Bin Khattab 4 – Khalifah Umar

Leave a comment

Saudara, diperlukan orang yang memiliki keberanian seperti Umar. Ia berani karena panggilan hidayah, bukan berani babi (nyeruduk tanpa arah dan pertimbangan). Keberanian tanpa pertimbangan pada akhirnya akan menyulitkan diri sendiri. Sayyidina Umar itu gagah, pemberani dan memiliki kuasa. Semua itu ia jadikan sebagai backing atau pendukung bagi dakwah Nabi. 

Dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik, karena dengan hal ini kamu bisa mengambil hati orang lain. Dalam hadits lain dikatakan bahwa, “Kamu tidak bisa menyenangkan orang banyak dengan hartamu tetapi kamu bisa mengambil hati mereka dengan budi pekerti yang luhur dan muka yang manis.”

Dengan harta, kita belum tentu bisa menyenangkan semua orang tetapi dengan budi pekerti yang luhur dan muka yang manis (ramah dan mudah tersenyum), itulah yang bisa menyenangkan orang lain.

Setelah Baginda Nabi wafat, Abu Bakar pernah berkata kepada Umar dalam sebuah perkumpulan, “Umar, saya akan bai’at kamu untuk menjadi Khalifah.”

Umar menjawab, “Justru saya yang akan membai’at Tuan sebagai Khalifah.”

“Tapi Anda lebih utama daripada saya, Umar.”

“Keutamaan saya akan saya berikan kepada Tuan untuk mendukung kekhalifahan Tuan.”

Di sini kita bisa melihat watak Umar yang tidak ambisius terhadap jabatan. Beliau gagah, berani dan perkasa tetapi tahu diri. Gak nyelonong (merebut/memangkas antrian). Beliau tidak menggunakan kekuasaan dan kegagahannya untuk maksud yang sewenang-wenang. Oleh karena itu, setelah Abu Bakar wafat dan beliau dilantik menjadi Khalifah, keluarlah pidatonya yang terkenal.

“Hai manusia, aku telah dipilih menjadi pemimpin kalian padahal aku bukanlah orang terbaik di antara kalian. Kalau bukan karena aku melihat keutamaan dan keteguhan yang dapat melindungi kalian, berat rasanya aku memikul amanah (jabatan) ini. Karena alangkah beratnya menunggu hari perhitungan nanti di akhirat terhadap diriku sebagai seorang Khalifah.”

Bagi Umar menjadi seorang Khalifah (Raja/Presiden di masa sekarang) itu dirasakan lebih berat karena beliau akan dihisab tentang jabatan yang didudukinya itu. Andaikan saja boleh memilih, Umar ingin dirinya sebagai Umar saja bukan sebagai seorang pemimpin yang akan berat hisabnya di hadapan Allah kelak di hari kiamat.

Sehingga benar sabda Nabi dalam sebuah hadits yang berbunyi, “Janganlah kamu memberikan jabatan kepada orang yang memintanya (jabatan tersebut).”

Sebab kalau seseorang sudah meminta jabatan, apalagi pakai jilat-jilat (mendekati orang yang memegang kekuasaan atas sesuatu dengan harapan ia bisa mendapat keuntungan darinya) dan pemungutan upeti-upeti (suap/sogok), tentu di sana ada tendensinya. Ada batu di balik udang. Kalau udang di balik batu kan mungkin gak kelihatan. Sedangkan ini batunya (keinginan dan ambisinya) sudah terlihat sangat jelas walau ia bersembunyi di balik udang (alasan/alibi).

Jangan memberikan jabatan kepada orang yang memintanya. Seakan di dalam batinnya Sayyidina Umar menyesali, kenapa Umar tidak jadi Umar saja kok malah jadi Khalifah. Alangkah berat perhitungan buat saya di akhirat nanti.

Setelah menjadi Khalifah ada beberapa hal yang patut kita ambil contoh dan pelajaran dari kehidupan Umar sebagai seorang Khalifah di lingkungan keluarga.

Kedudukan sebagai keluarga Umar bin Khattab bukan merupakan kedudukan istimewa. Hal ini ditanamkan ke dalam pemahaman di keluarganya. “Jangan mentang-mentang ayahmu seorang khalifah, lantas kamu sebagai anaknya bisa menggunakan semua fasilitas yang disediakan oleh negara, bisa berbuat sekehendak hatimu tetapi kamu justru harus punya tanggung jawab dan beban moril serta memberikan contoh yang lebih baik kepada rakyat.”

Hal inilah yang ditekankan oleh Umar kepada keluarganya. Kalau beliau akan mengeluarkan sebuah Undang-undang maka Undang-undang itu akan lebih dulu ia bicarakan dengan keluarganya. Umar akan mengumpulkan semua anggota keluarganya. “Ada Undang-undang A, jika kalian mau menaatinya, silakan. Jika tidak pun, silakan. Tapi saya ingatkan, kalau ada dari anggota keluarga Umar yang melanggar aturan (Undang-undang) yang akan dikeluarkan ini, maka dia akan dihukum dua kali lipat karena ia adalah keluarga saya.”

Beliau akan menghukum anggota keluarganya dua kali lipat dari hukuman biasa. Jadi bukan mentang-mentang anak babeh (penguasa) lantas bisa kebal terhadap hukum.

Umar juga merupakan sosok yang berwibawa. Ia sangat menjaga keluarganya. Suatu hari ia berkunjung ke rumah anaknya, Abdullah bin Umar. Ketika Umar masuk ke rumahnya, ia melihat Abdullah sedang memakan daging. Muka Umar langsung merah. “Mentang-mentang anak Khalifah, anak Amirul Mukminin, lihat tuh rakyat kita masih banyak yang makan roti keras.”

Padahal daging yang dimakan oleh Abdullah bin Umar itu halal dan ia peroleh atas usahanya sendiri. Ini adalah salah satu bentuk kehati-hatian Umar dalam menjaga pandangan orang terhadap keluarga Khalifah. Sebab apa yang dilakukan oleh keluarga Khalifah akan menjadi contoh bagi masyarakat luas.

Di lain waktu, Umar pergi ke sebuah pasar dan melihat ada banyak sapi yang berbadan gemuk-gemuk, sedangkan di tempat lain sapinya kurus-kurus. Umar kemudian bertanya kepada warga di sana, “Ini sapi-sapi yang gemuk punya siapa?”

“Itu kepunyaan anakmu, Abdullah bin Umar.”

“Panggil dia ke sini.”

Tidak berapa lama, anaknya pun datang menghadap Umar.

“Abdullah bin Umar, ceritakan kepadaku tentang sapi-sapi milikmu ini.”

“Begini, Ayah. Dulu saya membeli beberapa ekor sapi yang berbadan kurus kemudian saya mempekerjakan orang lain untuk merawatnya hingga sekarang sapi-sapi itu menjadi gemuk. Saya berencana untuk menjualnya nanti dan tentu keuntungannya itu merupakan sesuatu yang halal bagi saya.”

“Kau ini adalah anak Amirul Mukminin (Khalifah), juallah sapi-sapimu itu. Ambil modalnya dan keuntungannya itu berikan kepada Baitul Mal untuk mengurus kepentingan umat Islam.”

Umar tidak ingin anaknya itu menjalankan bisnis karena ikut mendompleng nama ayahnya sebagai pemimpin. Karena mentang-mentang anak Khalifah maka semua bisnisnya menjadi lancar. Orang lain takut karena dia anak Khalifah. Dan Umar tidak ingin senya hal ini terjadi.

Ada cerita yang lain tentang pembagian Ghanimah (harta dari peperangan). Putri beliau yang namanya Hafsah (istri Baginda Nabi), pernah meminta bagian Ghanimah kepada Umar.

“Ayah, kami kaum kerabat Khalifah. Bagilah kami Ghanimah terlebih dulu.”

“Karena kamu kerabatku maka jatahmu nanti dari ayahmu. Harta Ghanimah ini masih lebih banyak dibutuhkan untuk kepentingan umat Islam. Jatahmu nanti, belakangan. Kalau ada sisanya.”

Hal yang diceritakan di atas merupakan beberapa contoh sikap Umar terhadap keluarganya. Lalu bagaimana sikapnya Umar saat ia sedang memimpin?

Pertama adalah kesederhanaan. Beliau adalah satu-satunya Khalifah atau Amirul Mukminin yang hanya memiliki 2 buah jubah atau gamis, dan yang satunya lagi itu milik anaknya. Dan bajunya tersebut terdapat banyak tambalan akibat pernah tersobek atau tergores kainnya.  Beliau pernah terlambat Shalat Jumat. Sebelum naik mimbar, beliau meminta maaf dulu kepada jamaahnya karena telat. Penyebabnya adalah ia harus menunggui cucian jubahnya hingga kering agar bisa ia pakai kembali.

Pada waktu beliau menjadi Khalifah, diangkatlah Amr bin Ash menjabat sebagai seorang Gubernur di Mesir. Kehidupan Amr bin Ash itu lebih mirip seperti kaisar yang glamor dan mewah. Istananya besar dan pakaiannya bagus. Ada satu hal yang paling mengganggu pikiran Amr bin Ash yaitu tepat di sebelah istananya itu berada sebuah gubuk tua yang sudah jelek dan reot (akan rubuh) miliki orang Yahudi.

“Ah ini, gak pantes bener. Masa di samping Istana seorang gubernur ada gubuk reot. Orang Yahudi lagi yang punya. Sudahlah, saya mau panggil Dinas Tata Kota dan membuat rencana untuk membuat proyek pembangunan mesjid yang akan dibangun oleh negara. Bikin gambarnya, susun anggarannya lalu tender ke vendor yang mau dan mampu.”

Orang Yahudi pemilik gubuk reot itu pun dipanggil ke Istana dan diberitahukan rencana tentang pembangunan mesjid dan gubuk itu akan dihilangkan karena termasuk ke dalam area pembangunan mesjid. Amr bin Ash berencana untuk membeli gubuk itu tetapi orang Yahudi ini menolak meskipun sudah ditawarkan harga berkali lipat dari harga rumah gubuk pada umumnya. Ia tetap menolak. Alasannya adalah gubuk itu merupakan tempat tinggal dia sejak kecil, ia juga bekerja setiap hari dan istirahat di gubuk itu di malam harinya. Orang Yahudi ini tidak mau rumah tempat tinggalnya itu digusur oleh pihak Istana.

Karena orang Yahudi ini tetap menolak maka pihak Istana menghancurkan gubuk reot itu dengan paksa. Orang Yahudi itu sedih dan berurai air matanya. Tapi dia tidak putus asa. Dia berpikir bahwa Amr bin Ash bukanlah pejabat tertinggi karena masih ada Khalifah yang jabatannya jauh lebih tinggi daripada Gubernur. Maka dengan tekad kuat, orang Yahudi ini pun pergi dari Mesir menuju Madinah untuk menemui Umar bin Khattab dan melaporkan semua perilaku yang ia terima di bawah kepemimpinan Gubernur Mesir.

###

Tausyiah lainnya dari K.H Zainudin MZ ada di sini

Advertisements

Author: Fahmi Ishfah

i am cool, tough, smart, kind and complex

Apa komentarmu tentang postingan ini?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s