Ishfah Seven

Semangat dan Mimpi

Kisah Umar Bin Khattab 5 – Keadilan dan Kesederhanaan

Leave a comment

Pada waktu Umar bin Khattab menjadi Khalifah, diangkatlah Amr bin Ash menjabat sebagai seorang Gubernur di Mesir. Kehidupan Amr bin Ash itu lebih mirip seperti kaisar yang glamor dan mewah. Istananya besar dan pakaiannya bagus. Ada satu hal yang paling mengganggu pikiran Amr bin Ash yaitu tepat di sebelah istananya itu berada sebuah gubuk tua yang sudah jelek dan reot (akan rubuh) miliki orang Yahudi.

“Ah ini, gak pantes bener. Masa di samping Istana seorang gubernur ada gubuk reot. Orang Yahudi lagi yang punya. Sudahlah, saya mau panggil Dinas Tata Kota dan membuat rencana untuk membuat proyek pembangunan mesjid yang akan dibangun oleh negara. Bikin gambarnya, susun anggarannya lalu tender ke vendor yang mampu.”

Orang Yahudi pemilik gubuk reot itu pun dipanggil ke Istana dan diberitahukan rencana tentang pembangunan mesjid dan gubuk itu akan dihilangkan karena termasuk ke dalam area pembangunan mesjid. Amr bin Ash berencana untuk membeli gubuk itu tetapi orang Yahudi ini menolak meskipun sudah ditawarkan harga berkali lipat dari harga rumah gubuk pada umumnya. Alasannya adalah gubuk itu merupakan tempat tinggal dia sejak kecil dan banyak kenangan di dalamnya. Orang Yahudi ini tidak mau rumah tempat tinggalnya itu digusur oleh pihak Istana.

Karena orang Yahudi ini tetap menolak maka pihak Istana menghancurkan gubuk reot itu dengan paksa. Orang Yahudi itu sedih dan berurai air matanya. Tapi dia tidak putus asa. Dia berpikir bahwa Amr bin Ash bukanlah pejabat tertinggi karena masih ada Khalifah yang jabatannya jauh lebih tinggi daripada Gubernur. Maka dengan tekad kuat, orang Yahudi ini pun pergi dari Mesir menuju Madinah untuk menemui Umar bin Khattab dan melaporkan semua perilaku yang ia terima di bawah kepemimpinan Gubernur Mesir.

Di sepanjang jalan, dia berpikir dan membanding-bandingkan kehidupan antara Gubernur Mesir dengan Sang Khalifah. Kalau Istana Gubernur saja sudah mewah maka Istana Khalifah pasti jauh lebih besar dan mewah. Kalau Gubernurnya galak dan maen gusur rumah orang, apalagi Khalifahnya, pasti lebih galak. Dan saya juga bukan orang Islam. Apa mungkin aduan dan laporan saya ini akan didengar oleh Khalifah? Apa bisa mendapatkan tanggapan dan respon dari Khalifah?  Tetapi ia tetap melanjutkan perjalanan walau dengan hati yang harap-harap cemas.

Sampailah dia di pintu kota Madinah. Di sana dia menemukan ada seseorang yang sedang tidur di bawah pohon kurma. Dia pun mendatangi dan menyapanya. Orang itu pun bangun.

“Selamat siang, Pak!”

“Ya, ada apa?”

“Saya mau nanya.”

“Nanya apa?”

“Apakah Bapak tahu Khalifah Umar bin Khattab?”

“Tahu.”

“Istananya di mana, Pak?”

“Istananya di atas lumpur.”

“Siapa pengawalnya? Banyak?”

“Banyak.”

“Siapakah mereka?”

“Mereka itu anak-anak yatim piatu, janda-janda tua, orang-orang miskin dan orang-orang lemah. Itulah pengawalnya.”

“Lalu, pakaian kebesarannya itu sutra atau apa?”

“Pakaian kebesarannya adalah rasa mau dan taqwa.”

“Saya gak ngerti, Pak.”

“Itulah Umar bin Khattab.”

“Lalu orangnya sekarang ada di mana, Pak?”

“Dia ada di depanmu.”

Orang Yahudi pun baru sadar bahwa sosok Khalifah Umar bin Khattab yang ingin ia temui ternyata adalah orang yang berada di depannya yang sedari tadi ia ajak bicara. Orang itu gemetar badannya dan keringat bercucuran. Dia memikirkan kembali kata-kata Umar tadi tentang Istana Khalifah yang berada di atas lumpur, para pengawalnya dan pakaian kebesarannya.

Kenapa Umar berkata demikian? Sebab Umar berprinsip, bagaimana saya bisa menghayati nasib umat jika saya tidak bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Bagaimana saya bisa tahu sakitnya lapar jika saya tidak pernah tahu rasanya kelaparan.

Lalu Umar bertanya, “Kamu datang dari mana?”

Orang Yahudi itu menjawab, “Dari Mesir, Pak.”

“Ada apa ke sini?”

“Saya mau melaporkan Gubernur Mesir yang bernama Amr bin Ash.”

“Kenapa dengan dia?”

“Dia telah menggusur rumah saya, seenaknya.”

“Bagaimana ceritanya?”

“Gubernur mau membangun Mesjid di sebelah Istananya. Area pembangunan itu meliputi tanah dan rumah saya yang sederhana dan kecil juga sudah reot. Saya gak mau rumah itu dijual. Tapi ujung-ujungnya rumah saya itu tetap digusur. Saya ke sini untuk mencari keadilan kepada Tuan Khalifah.”

“Begitu ya. Oke, begini. Kamu lihat di sana ada tempat sampah?”

Orang Yahudi itu mengangguk.

“Di sana terdapat banyak tulang-belulang unta. Coba kamu ambil salah satunya dan bawa ke sini.”

Orang Yahudi itu kebingungan.

“Pak, saya ke sini mau mencari keadilan. Kalau nyari tulang, di Mesir juga banyak.”

“Sudahlah. Pokoknya kamu ambil saja tulang itu!”

Dia pun bergegas menuju tempat sampah itu dan mencari-cari tulang dan akhirnya mendapatkan satu tulang lalu dia memberikannya kepada Umar. Tulang itu pun dibuat garis lurus oleh pedangnya Umar. Kemudian tulang itu ia berikan kembali kepada orang Yahudi,

“Ambil ini dan berikanlah kepada Amr bin Ash.”

Orang Yahudi itu semakin bingung. Suruh bawa tulang unta doang terus digaris sekali saja.

“Nanti saya ngomong apa ke Amr bin Ash?”

“Sudahlah, bawa saja.”

Singkat cerita, orang Yahudi itu kembali ke Mesir dan menemui Amr bin Ash.

“Tuan Gubernur, saya baru pulang dari menghadap Khalifah Umar. Kemudian beliau menyuruh saya memberikan ini kepada Tuan.”

Orang Yahudi itu memberikan tulang yang ia bawa dari Madinah. Ketika Amr bin Ash melihat tulang yang ada goresan lurus dari pedang, badannya langsung bergetar hebat dan keluar keringat dingin. Ia kemudian memanggil Kepala Proyek Pembangunan Mesjid.

“Proyek pembangunan mesjid ini dibatalkan. Mesjid gak jadi didirikan dan gubuk orang Yahudi ini dirikan dan bangun lagi.”

Orang Yahudi ini semakin bingung dan bengong. Ini Gubernur dapet tulang doang, segitu takutnya.

“Ada apa sebenarnya, Tuan Gubernur?”

“Kamu tahu? Ini adalah nasihat pahit untuk saya dari Amirul Mukminin Umar bin Khattab. Seolah-olah beliau berkata. ‘Hai Amr bin Ash, jangan mentang-mentang kamu sedang berkuasa karena pada suatu saat nanti kamu pun akan mati dan menjadi seperti tulang ini maka mumpung kamu masih hidup dan berkuasa, berlaku adil dan luruslah kamu seperti garis di atas tulang ini. Lurus, adil dan jangan bengkok. Sebab kalau kamu bengkok, nanti aku yang akan meluruskannya dengan pedangku.’”

Siapa yang gak ngeper (ketakutan) digituin? Sampai akhrnya orang Yahudi itu berkata kepada Amr bin Ash, “Pak, kalau begitu Islam itu adil ya?”

Amr bin Ash menjawab, “Ya, Islam itu adil.”

“Kalau gitu, tentang tanah dan rumah saya itu, saya mau berikan saja kepada engkau, Tuan Gubernur.”

Selanjutnya orang Yahudi itu pun masuk Islam karena keadilan dari Umar bin Khattab.

Begitulah keadilan dari seorang Umar bin Khattab. Hal yang yang bisa diceritakan adalah tentang kesederhanaan hidupnya Umar, sampai yang ironi adalah Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Thalhah dan Zubair pernah berkumpul karena mendengar kabar bahwa Sayyidina Umar memiliki utang. Bayangkan, seorang Khalifah untuk melangsungkan hidupnya ia harus berutang. Padahal Baitul Mal berada di bawah kekuasaanya. Mereka berempat berunding dan sepakat untuk membahas hal ini melalu anaknya Umar yaitu Hafsah. Karena jika mereka yang langsung berhadapan dengan Umar, mereka tidak berani dan segan.

Hafsah bicara kepada Umar, “Ayah, bagaimana jika gaji Khalifah dinaikkan agar bisa membayar utang Ayah.”

“Hafsah, siapa yang menyuruhmu untuk membicarakan hal ini?”

“Gak ada.”

“Ada. Pasti. Karena kamu gak mungkin ngomong seperti ini kepada Ayah kalau tidak ada yang memintamu. Tapi orangnya kalau saya tuntut, mereka pasti gak mau. Sekarang saya tanya, Hafsah. Kau kan istri Rasulullah? Suamimu makannya apa? Daging?”

“Bukan, Ayah. Beliau memakan roti.”

“Tempat tidurnya itu kasur empuk?”

“Bukan. Beliau menggunakan kain kasar, yang kalau musim panas kami bentangkan dan kalau musim dingin kami jadikan sebagian kainnya sebagai selimut.”

“Berapa banyak pakaian yang dibelikannya untukmu?”

“Cuma dua, Ayah.”

“Nah, beliau adalah guru saya. Beliau adalah orang yang paling saya cintai dan cara hidup beliau yang saya ikuti.”

Bahkan setelah Umar wafat, utangnya itu dibebankan kepada anaknya Abdullah bin Umar dan itu pun melunasi utang dengan cara menjual rumahnya, sehingga rumah Umar disebut dengan nama Darul Qodho artinya Rumah Untuk Bayar Utang.

Itulah kesederhanaan Umar. Jadi bukan karena aji mumpung. Mumpung jadi Khalifah tangannya ibarat gurita yang rakus mengambil apa saja yang ia mau. Atau seperti mental monyet. Monyet selalu ingin mengambil makanan yang lain meskipun tangan kiri dan kanan serta mulutnya sudah penuh oleh makanan. Temannya dikasih makanan, ia masih ingin makanan itu lantas merampasnya.

Kenapa kesederhanaan Umar timbul? Karena ia memiliki sifat zuhud. Zuhud itu adalah orang yang mengambil kebutuhan dunia seperlunya dan lebih mengutamakan urusan akhirat. Watak zuhud Umar ini sangat menonjol. Dialah pahlawan yang paling berani di medan perang, dialah imam yang paling khusyu di mesjid dan tidak jarang ia akan menangis dalam shalatnya jika sedang membaca ayat yang menceritakan tentang neraka. Jadi kesederhanaan dan kezuhudan Umar ini bukan hanya teori tetapi langsung ia lakukan.

###

Tausyiah lainnya dari K.H Zainudin MZ ada di sini

Advertisements

Author: Fahmi Ishfah

i am cool, tough, smart, kind and complex

Apa komentarmu tentang postingan ini?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s