Ishfah Seven

Semangat dan Mimpi

Kisah Umar Bin Khattab 6 – Ketegasan

2 Comments

Kesederhanaan Umar timbul karena ia memiliki sifat zuhud. Zuhud adalah orang yang mengambil kebutuhan dunia seperlunya dan lebih mengutamakan urusan akhirat. Watak zuhud Umar ini sangat menonjol. Dialah pahlawan yang paling berani di medan perang, dialah imam yang paling khusyu di mesjid dan tidak jarang ia akan menangis dalam shalatnya jika sedang membaca ayat yang menceritakan tentang neraka. Jadi kesederhanaan dan kezuhudan Umar ini bukan hanya teori tetapi langsung melalui amal perbuatan nyata dan konkret yang bisa menjadi contoh yang baik bagi kita. Dan ini adalah prinsip keteladanan yang Umar tiru dari Baginda Nabi.

Selain cerita keadilan Umar di post sebelumnya (tentang gubuk Orang Yahudi), ada cerita lain mengenai hal ini. Kalau Umar sudah bicara tentang hukum maka dia tipe orang yang tidak pernah kenal kompromi.

Suatu ketika ada seorang pemuka Nasrani masuk Islam. Namanya adalah Jabalah bin Aiham. Pada saat ia berhaji, kain ihram miliknya terinjak oleh jamaah haji lainnya. Yang menginjak kain ini badannya hitam legam dan berasal dari suku Arab Badui. Jabalah merasa jengkel dan kesal karena ia merupakan mantan tokoh terkenal atau pemuka agama. Enak aja nih maen injak kaen ihram punya orang. Udah jelek, nginjek lagi. Orang Arab Badui ini lalu dipukul oleh Jabalah. Setelah pulang berhaji orang Arab Badui itu melaporkan hal ini kepada Umar.

“Panggil Jabalah bin Aiham,” perintah Umar.

Setelah Jabalah datang, Umar bertanya kepada orang Arab Badui itu, “Kamu dipukul kan? Sekarang pukul Jabalah!”

Jabalah pun dipukul oleh orang Arab Badui di hadapan Umar. Jadi bukan karena ada seseorang yang terhormat di sukunya, lantas setelah masuk Islam ia tetap diperlakukan istimewa saat menghadapi sebuah hukum. Tidak. Umar memerintah dengan adil dan bijaksana. Siapa yang salah maka dia akan dihukum.

Sisi keadilan dalam diri Umar ini juga ditanamkan di dalam keluarga Umar. Umar mewanti-wanti dan memperingatkan bagi seluruh keluarganya untuk tidak menganggap posisi Umar yang sebagai Khalifah menjadi sebuah keuntungan bagi pribadi masing-masing anggota keluarganya. Tidak boleh ada yang aji mumpung dan memanfaatkan kekuasan dari Umar. Umar pun tidak memiliki rencana dan keinginan untuk mewariskan kekhalifahan kepada anak-anaknya.

Pernah ia berkata dalam sebuah musyawarah, “Saya ini bingung, kenapa sulit sekali mencari orang untuk dijadikan sebagai Gubernur Kuffah. Diangkat orang yang lemah, rakyatnya mengeluh. Diangkat orang yang berwatak keras, rakyat pun mengeluh.”

“Tuan, ada satu calon yang pas dan pantas untuk posisi ini. Dialah Abdullah bin Umar, anak dari Tuan Khalifah.”

Umar melotot, “Jangan macam-macam kau! Cukup satu orang (dari keluarga) Umar yang memegang jabatan (di pemerintahan). Kalau berhasil dalam memerintah, kami, keluarga Umar akan merasakannya. Kalau gagal maka cukuplah kegagalan seorang Umar.”

Umar tidak berusaha mengorbitkan atau mempromosikan anaknya agar maju menjadi seorang pejabat negara. Umar meminta untuk mencari calon yang lain.

“Tapi Abdullah bin Umar adalah orang yang telah memenuhi syarat sebagai seorang Gubernur. Dia sholeh juga bertaqwa kepada Allah.”

“Orang yang sholeh dan taqwa itu bukan hanya anak dari Umar. Anak orang lain juga banyak yang sholeh dan taqwa.”

Itu adalah prinsip Umar. Sehingga ketegasan dari Umar ini membuat orang lain menjadi sungkan dan segan. Tidak ada seorang pun yang berani mengiriminya upeti, hadiah, parsel atau gratifikasi.

Suatu ketika pernah ada pejabat dari Azerbaijan yang memberikan hadiah kue untuk Umar.

“Ini kue enak sekali. Apakah kue ini adalah makanan sehari-hari orang sana?” tanya Umar.

“Bukan, Tuan. Ini adalah makanan para elit dan orang kaya di sana.” jawab kurir pengirim.

Umar lalu membungkus kembali sisa kue yang masih ada dan menyuruh kurir tadi untuk mengirimkan kembali kue tersebut kepada Gubernur Azerbaijan dan sampaikan salam Umar untuknya sambil berpesan, “Kenyangkanlah dulu rakyatmu dengan makanan semisal ini, barulah kami belakangan yang akan memakannya. Jadi kalau ada rakyat yang lapar maka pemimpinnya yang merasakan duluan rasa lapar. Jika rakyatnya makmur dan kenyang maka biarlah pemimpinnya yang terakhir merasa kenyang. Utamakanlah kepentingan rakyat terlebih dahulu.”

Prinsip ini bagus dan patut untuk dicontoh. Jangan dibalik pemahamannya. Kalau ada rakyat yang kelaparan maka dia buru-buru mengenyangkan perutnya duluan. Dengan sikap keadilan ini membuat hukum di bawah pemerintah Umar menjadi berwibawa.

Beliau pernah jalan-jalan bersama sahabat bernama Aslam. Mereka berdua pergi ke sebuah lorong kota Madinah yang bernama Haraq. Ada seorang anak dan ibu-ibu yang terlihat kelaparan. Anaknya berulang-kali merengek kepada ibunya karena perutnya sudah sakit akibat rasa lapar yang luar biasa. Ibu itu terlihat sedang memasak. Terdengan bunyi rebusan air yang beradu dengan panci yang digunakan untuk merebus. Dari kejauhan Umar memperhatikannya. Mulai dari anak itu nangis, merengek, nangis lagi hingga akhirnya kecapean dan tertidur, masakan yang dibuat ibu tadi belum juga matang. Umar penasaran dan menghampiri ibu tersebut.

“Ibu ini sedang masak apa? Dari tadi saya perhatikan, sudah lama ibu memasak tetapi masih belum matang juga.”

“Saya tidak masak apa-apa, Tuan.”

“Lah suara dari dalam panci berisik, itu apa?”

Ketika dibuka isinya ternyata hanya air yang mendidih.

“Ibu ternyata sudah membohongi anak ibu sendiri.”

“Saya mesti bagaimana, Tuan. Saya sudah tidak memiliki bahan makanan untuk dimasak. Sementara perut gak kenal kompromi. Satu-satunya cara adalah saya membohongi anak saya bahwa saya sedang memasak makanan untuknya.”

“Memangnya Khalifah Umar gimana sih ngurusin rakyatnya menurut Ibu?”

“Dia seorang yang dzalim. Dia memimpin kami tetapi tidak tahu nasib keluarga fakir miskin seperti kami. Anak kelaparan dan keluarga terlantar.”

“Oh, begitu.”

“Iya. Dzalim sekali itu Umar bin Khattab.”

“Kalau begitu tunggu sebentar, Bu.”

Umar pulang bersama Aslam lalu menuju Baitul Mal. Umar mengambil tepung satu karung dan ia pikul sendiri.

“Ya Khalifah, biar saya yang bawa,” kata Aslam.

“Jangan.”

“Kenapa?”

“Apa kamu sanggup memikul dosa saya nanti di akhirat? Biarkan saya memikul karung ini sendiri.”

Umar membawa karung itu ke tempat ibu tadi. Umar sendiri yang memasaknya dan setelah matang dia mempersilakan ibu itu memakannya bersama anaknya

“Alhamdulillah, semoga Allah memberkahi Tuan. Tuan lebih baik daripada Umar bin Khattab yang dzalim itu. sebenarnya Tuan ini siapa?”

“Saya adalah Umar bin Khattab yang Ibu bilang orang dzalim.”

Seketika itu badan si ibu gemetar hebat karena takut. Tapi Umar memang seorang yang peka dan menghargai kritikan dari orang lain dan tidak membungkam orang yang bernada sumbang (berkata jelek/buruk tentangnya). Umar pun menenangkan ibu tadi.

Umar pernah berkata, “Saya khawatir kalau orang terlalu segan kepada saya lalu gak ada yang berani negur kalau saya telah berbuat salah.”

Karena biasanya pemimpin yang disegani itu anak buahnya selalu mengamini (membenarkan) setiap perkataan pemimpinnya, berkata oke bos atau asal bapak senang. Pemimpinnya juga maunya dianggap benar, kalau ada yang menyalahkannya ia akan marah besar lalu orang itu disingkirkan (dipecat/dimutasi/dibunuh karakternya).

Umar khawatir jika tidak ada orang yang berani menegurnya jika ia salah. Hingga datang seorang anak muda yang berkata, “Demi Allah, saya akan menegur Tuan dengan pedang saya ini jika Tuan berbuat salah dan keliru.”

Mendengar hal ini cerah muka Umar dan senyum bibirnya, “Alhamdulillah, anak muda, saya memerlukan orang semacam kau. Yang berani berkata YA terhadap hal yang benar dan TIDAK terhadap yang tidak benar, apa pun dan bagaimana pun resikonya.”

Di sini kita dapat melihat sikap beliau menghadapi orang yang berbeda pendapat dengannya. Keadilan, keberanian, ketegasan dan cepat menerima kebenaran merupakan serentetan dari sifat-sifat beliau, mulai dari ia masuk Islam hingga menjadi seorang Khalifah yang kedua. Bahkan dengan jasa beliau, Islam mulai tersebar menembus dinding jazirah Arabiah, memasuki Byzantium dan Persia sehingga beliau juga dikenal sebagai pemimpin dalam periode Alfutuhat Al-Islamiyah.

Saudara, inilah cuplikan atau cerita kecil dari kehidupan seorang Umar bin Khattab yang agung dan besar. Karena keterbatasan kata-kata sehingga tidak mampu melukiskan keagungan dan kebesarannya itu. Jika kisah teladan dari Umar sudah begitu hebatnya sebagai sahabat Nabi maka teladan dan akhlaq dari Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi Wassallam jauh lebih utama daripada Umar.

Semoga kita semua bisa mengambil pelajaran, baik dari kisah hidup Baginda Nabi atau para sahabat-sahabatnya. Meski hanya sedikit cerita tentang Umar, mudah-mudahan hal ini juga bisa menjadi sumbangan moril bagi kita guna memperbaiki diri menuju kehidupan yang lebih baik.

Semoga bermanfaat.

###

Tausyiah lainnya dari K.H Zainudin MZ ada di sini

Advertisements

Author: Fahmi Ishfah

i am cool, tough, smart, kind and complex

2 thoughts on “Kisah Umar Bin Khattab 6 – Ketegasan

  1. Jadi inget waktu dulu denger K.H Zainudin Mz di radio 😁

Apa komentarmu tentang postingan ini?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s