Ishfah Seven

Semangat dan Mimpi

Majas Perbandingan

Leave a comment

Majas adalah suatu gaya bahasa yang berbentuk kiasan atau perumpamaan yang digunakan untuk memperindah suatu kalimat baik itu lisan atau pun tulisan dengan memanfaatkan kekayaan bahasa untuk menimbulkan kesan imajinatif bagi penyimak dan pembicaranya. Secara garis besar Majas terbagi menjadi 4 macam yaitu, Majas Perbandingan, Majas Pertentangan, Majas Sindiran dan Majas Penegasan. Untuk contohnya aku akan membuat tema tentang Rangga dan Cinta.

Majas yang akan dibahas pada post ini adalah Majas Perbandingan. Secara ringkasnya, majas ini membandingkan sesuatu dengan sesuatu yang lain untuk menimbulkan kesan tertentu. Majas perbandingan memiliki banyak macam, yaitu :

  1. Personifikasi
  2. Metafora
  3. Hiperbola
  4. Litotes
  5. Asosiasi
  6. Metonimia
  7. Eufismisme
  8. Alegori
  9. Alusio
  10. Simile
  11. Antropomorfisme
  12. Sinestesia
  13. Aptronim
  14. Sinekdoke
  15. Fabel
  16. Parabel
  17. Perifrase
  18. Eponim
  19. Simbolik
  20. Disfemisme
  21. Depersonifikasi
  22. Hipokorisme

Personifikasi

Majas personifikasi ialah gaya bahasa yang melukiskan suatu benda dengan memberikan sifat-sifat manusia kepada benda-benda mati sehingga seolah-olah seperti benda hidup.

Contoh :

Hari telah gelap. Matahari kembali ke peraduan. Aku mulai menatap langit malam di atas beranda lantai 2. Dari atas sini, aku bisa melihat pemandangan alam yang luar biasa indah. Bintang pun mulai terlihat dari kejauhan. Kerlip-kerlip cahayanya genit menggodaku yang sedang sendirian. Tapi, aku tidak akan tergoda rayuanmu, Bintang. Karena asaku masih tertambat pada Cinta. Satu-satunya perempuan yang aku sayangi dengan sepenuh hati.

Metafora

Majas metafora ialah majas yang melukiskan sesuatu dengan perbandingan langsung dan tepat atas dasar sifat yang sama atau hampir sama.

Contoh :

Hmm… aku tahu dia itu nyebelin banget. Susah ditebak jalan pikirannya. Misterius. Tapi entah kenapa aku suka hal itu. Rangga itu sedingin es dan sekokoh gunung. Ia susah sekali aku debat. Sebal, sebal, sebal. Sekarang, udah jam berapa nih? Kok dia masih belum muncul juga. Apa jangan-jangan dia masih marah sama aku, gara-gara pertengkaran tadi malam?

Hiperbola

Majas hiperbola ialah pengungkapan yang melebih-lebihkan kenyataan sehingga tidak masuk akal.

Contoh :

“Rangga, lihat antriannya mengular sepanjang sungai Nil,” teriak Cinta kepadaku. Hari ini aku dan Cinta sedang jalan-jalan di Dunia Fantasi. Yaelah, dari dulu juga, dari zaman saya TK Dufan emang udah kayak gini. Dasar Cinta lebay.

Litotes

Majas litotes ialah ungkapan yang melukiskan keadaan dengan kata-kata yang berlawanan artinya dengan kenyataan yang sesungguhnya dengan tujuan merendahkan diri.

Contoh :

Dan inilah rumah Nenek. Mari masuk! Ini memang bukan istana. Hanya gubuk jelek peninggalan zaman Belanda.” Nenek mengajak aku dan Rangga ke rumahnya di Yogyakarta.

Asosiasi

Majas asosiasi adalah ungkapan yang membandingkan sesuatu dengan keadaan lain karena persamaan sifat.

Contoh :

Satu hal yang aku suka dari Cinta adalah semangatnya yang selalu mau membara. Bahkan sejak masa SMA dulu hingga sekarang, Cinta selalu punya semangat dan motivasi yang tinggi dalam setiap hal yang dilakukannya.

Metonimia

Majas metonimia adalah gaya bahasa yang menggunakan merek dagang atau nama barang untuk melukiskan sesuatu yang dipergunakan sehingga kata itu berasosiasi dengan benda keseluruhan.

Contoh :

Uhhh..segarnya minum Aqua dingin. Setelah jogging keliling komplek akhirnya selesai dan beruntung aku tidak lupa membawa air mineral.

Eufimisme

Majas eufimisme ialah pengungkapan kata-kata yang dianggap tabu atau dirasa kasar dan mengganti dengan kata-kata lain yang lebih halus atau pantas.

Contoh :

Satpol PP itu merazia banyak pedagang kaki lima dan beberapa tunawisma. Tapi gak harus berbuat kasar juga kan. Kasihan itu ibu-ibu yang sudah tua dan menggendong anak ditertibkan dengan paksa karena sering mengemis di area dekat perkantoran Sudirman.

Alegori

Majas alegori ialah gaya bahasa yang menyatakan dengan cara lain, melalui kiasan atau penggambaran.

Contoh :

Aku berharap Rangga adalah calon Imamku nanti. Dia akan menjadi suami terbaik dan paling menyayangiku. Seorang Imam adalah pemimpin dalam rumah tangga kita nanti. Aduh.. jadi malu sendiri nih. Udah ngomongin ‘kita’ aja. Hehe.. tapi serius deh, aku tuh pengennya kamu. Iya, kamu. My lovely Rangga.

Alusio

Majas alusio ialah pemakaian ungkapan yang tidak diselesaikan karena sudah dikenal.

Contoh :

Alasan Mama pindah rumah ke sini karena banjir rob yang melanda Jakarta beberapa tahun lalu telah membawa trauma bagi keluargaku. Dan pada waktu itu kami sekeluarga kehilangan banyak harta benda dan yang paling menyedihkan adalah hewan peliharaan aku si Blue juga ikut hanyut dibawa banjir.

Simile

Majas simile ialah pengungkapan dengan perbandingan eksplisit yang dinyatakan dengan kata depan dan penghubung, seperti layaknya, laksana, bagaikan, dan lain-lain.

Contoh :

Aku betah menatap wajah Cinta yang bersinar bagaikan bulan purnama di malam hari. Berkas cahayanya seolah menghipnotis dan mengalihkan duniaku.

Antropomorfisme

Adalah kata atau bentuk lain yang berhubungan dengan manusia untuk hal yang bukan manusia.

Contoh :

Aku iseng melihat album foto Rangga. Satu foto yang paling aku sukai adalah saat Rangga berpose layaknya Indiano Jones di mulut goa. Keren.

Sinestesia

Adalah ungkapan yang menghubungkan dengan suatu indra untuk dikenakan pada indra lain.

Contoh :

Malam itu aku menikmati pertunjukan wayang orang yang lihai memerankan tokoh di panggung. I love it!

Aptronim

Majas aptronim ialah pemberian nama yang cocok dengan sifat atau pekerjaan orang.

Contoh :

Teman semasa SMP aku menikah hari ini. Kenangan yang selalu aku ingat dari Edi adalah rambutnya yang kribo mirip pohon beringin. Alih-alih memanggilnya Kribo, teman sekelas lebih suka memanggil Si Hantu Beringin karena selain rambutnya yang lebat dan keriting, Edi juga berperawakan tinggi besar dengan wajah hitam yang (sebenarnya) agak menakutkan seperti hantu.

Sinekdoke

Sinekdoke terbagi 2 macam. Pertama, Sinekdoke Pars pro toto yaitu majas yang melukiskan sebagian untuk keseluruhan. Kedua, Sinekdoke Totum pro parte yaitu majas yang mengungkapkan seluruh untuk sebagian.

Contoh :

Aku, Daniel, Martha, Sigit dan Reno sudah berkumpul sejak pukul 7 pagi di stasiun. Kami berencana untuk pergi mendaki Gunung Merapi. Tapi, Thomas belum kelihatan batang hidungnya sejak kami tiba di sini. Jika kereta berangkat pada pukul 8 pagi, dia masih belum datang, kami akan meninggalkannya.

********

Warga Desa Cibogo memenangkan lomba gerak jalan di acara HUT RI ke-71. Mereka tampak senang dan mensyukuri kemenangannya. Sementara itu, aku terpaku pada kamera yang tidak lepas dari genggamanku. Jepret sana. Jepret sini. Ini adalah momen berharga. Ya, aku harus mengabadikannya.

Fabel

Fabel ialah menyatakan perilaku binatang sebagai manusia yang dapat berpikir dan bertutur kata.

Contoh :

Aku dan Rangga sedang menonton film Jurrasic World. Filmnya keren dan menegangkan. Apalagi saat raptor-raptor mulai berbalik menyerang manusia. Mereka mengintai dan menjebak para tentara agar masuk ke dalam zona perburuan mereka.

Parabel

Parabel ialah ungkapan atau nilai tetapi dikiaskan atau disamarkan dalam cerita.

Contoh :

Dea, keponakanku sedang belajar Bahasa Indonesia. Dia nanya, “Om, contoh Parabel apa?” Aku jawab, “Bisa banyak sih. Tapi kamu bisa ambil contoh Cerita Si Kabayan.”

Perifrase

Ungkapan yang panjang untuk mengganti ungkapan yang lebih pendek.

Contoh :

Kuda besi tua merek Honda tahun 90-an itu masih saja dipakai Rangga untuk menjemput aku. Kenapa sih dia gak beli motor yang baru aja?

Eponim

Menjadikan nama orang sebagai tempat atau pranata.

Contoh :

“Kita ke Husen aja, Ma. Kalau kita ingin cepat sampai ke Surabaya. Dari Bandung bisa lah sekitar satu jam ke sana,” jelasku kepada Mama saat menanyakan nama Bandara di kota Bandung.

Simbolik

Gaya bahasa yang melukiskan sesuatu dengan memakai simbol atau lambang untuk menyatakan maksud.

Contoh :

Cinta mengirimiku sepucuk surat dan dua buah cokelat batangan di hari kita jadian tanda bahwa ia sayang padaku. Boleh juga. Kira-kira aku mau ngasih apa ya ke dia? Sekuntum mawar merah? Hmm.. itu sudah biasa. Mungkin aku bisa memberinya sebuah liontin. Aku harap Cinta suka.

Disfemisme

Pengungkapan pernyataan tabu atau yang dirasa kurang pantas sebagaimana adanya.

Contoh :

“Hei, Surtini kembali kau,” teriak Pak Mus kepada perempuan yang berlari meninggalkannya. Padahal Ibu Surtini adalah kakak iparnya. Lebih tua dari dia.

Depersonifikasi

Pengungkapan dengan tidak menjadikan benda-benda mati atau tidak bernyawa.

Contoh :

Andai Cinta itu buku, maka aku adalah pena.

Hipokorisme

Penggunaan kata yang dipakai untuk menunjukkan hubungan karib.

Contoh :

Aku masih asyik memandangi lukisan karya pelukis terkenal itu. Aku mengaguminya sebagai sebuah karya yang menakjubkan.

SUMBER 

###

View My Daily Post

Advertisements

Author: Fahmi Ishfah

i am cool, tough, smart, kind and complex

Apa komentarmu tentang postingan ini?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s