Ishfah Seven

Semangat dan Mimpi

MSM 6 – Traktiran

2 Comments

–GILANG—

Sepuluh hari sudah berlalu dan sekarang aku sudah berada di kamar kosan. Kangen rasanya untuk bisa kembali kerja, bertemu dengan teman-teman dan melakukan aktifitas sehari-hari seperti biasa. Kabar baiknya, aku berencana untuk kembali bekerja hari ini. Insya Allah, aku sudah benar-benar fit dan sehat.

Teman baikku, Sam, bolak-balik ke kosan sejak aku pulang dari rumah sakit untuk sekedar menemaniku. Jarak kosan dengan kantor yang dekat, membuatnya bisa sering mengunjungiku. Bahkan sebelum aku jatuh dari atap pun, Sam sudah menganggap kosanku sebagai ‘base camp’ miliknya.

Tetapi aku tidak bisa menemuinya di kantor. Hari ini dia mau mengantar anak keduanya untuk daftar ke sekolah Taman Kanak-kanak di dekat rumahnya. Kalau melihat kehidupan Sam yang rukun dan harmonis dengan istri dan anak-anaknya, aku jadi iri. Ingin sekali bisa cepat berkeluarga seperti Sam.

Hari ini aku tidak membuat rencana apa-apa. Aku tidak mempunyai ekspektasi apa pun. Aku hanya ingin ke kantor. Itu saja. Walau tak ada Sam, tidak apa-apa. Masih ada teman yang lain.

Sambil berjalan kaki ke kantor, aku mengecek pesan chat di handphone. Tapi masih belum ada balasan chat dari Dini. Walau aku belum berhasil menghubunginya, Ira sudah mengabariku kalau Dini tidak bisa menjengukku sewaktu aku dirawat di rumah sakit karena dilarang oleh Mamanya dan handphonenya juga disita oleh Mamanya. Aku turut prihatin atas apa yang sedang terjadi kepada Dini. Semoga ia bisa segera keluar dari situasi dilematis itu. Aku juga berharap bahwa setelah kejadian di atap gedung kantor itu, Dini masih mau pergi bekerja dan melanjutkan hidupnya.

Tak berapa lama aku sudah sampai di kantor. Aku tak menyangka respon dari teman-teman kantor begitu haru dan agak dramatis. Ada yang menyalamiku, menepuk-nepuk pundak, merangkul, mengajak adu tos dan ada yang hanya tersenyum. Mereka menyambutku kembali ke kantor bak Bapak Bupati yang masuk ke daerah pedesaan nun jauh di sana.

Di antara kerumunan teman-teman itu, aku melihat ada sosok Wulan yang berdiri dari kejauhan sedang memandangiku. Setelah kehebohan pagi hari itu selesai, semuanya kembali ke tempat kerja masing-masing. Wulan masih saja berdiri sambil bersender di dinding kantor. Tanpa pikir panjang, aku segera menghampiri, bersalaman dan mengucapkan terima kasih kepadanya.

“Kalau mau berterimakasih pada Wulan, traktir makan dong,” Wulan menggodaku sambil tersenyum.

“Boleh. Ayo, ayo. Kapan bisanya? Nanti aku ajak Sam.”

“Pulang kerja saja, A. Tapi kayaknya Aa Sam gak bisa ikut deh. Dia kan cuti kerja hari ini.”

Oh iya, aku lupa. Kalau Sam tidak ikut berarti aku berdua saja sama Wulan. Atau aku ajak saja teman yang lainnya? Misalnya Putri, teman satu timnya Wulan. Belum sempat aku melanjutkan bicara, Wulan sudah ngacir ke tempat kerjanya sambil tersenyum sendirian. Bisakah aku ngobrol lama dengan Wulan? Bicara sebentar dengannya dan diberi senyuman semanis itu saja sudah membuatku bergetar.

Ya sudahlah, bagaimana nanti saja. Sekarang aku harus mulai fokus dan mengumpulkan semua energiku untuk bekerja lagi. Mudah-mudahan aku masih ingat dengan apa yang harus aku lakukan. Harusnya sih bisa. Karena yang sakit ada di punggung dan lututku, bukan bagian kepala yang bisa menyebabkan amnesia.

###

Hari ini aku bisa pulang lebih cepat. Setelah membereskan barang-barang di meja kerja, aku pamitan pulang ke teman-teman yang lain. Aku mampir dulu ke meja Wulan tetapi Wulan sedang online. Tampaknya ia sedang menerima telpon yang serius. Bisa kulihat dari wajahnya yang tegang dan pucat. Lalu dia memberiku isyarat nanti aku hubungi. Ia menempelkan tangan kiri di pipinya dengan jari kelingking dan ibu jari yang dikeluarkan, sementara tiga jari lainnya ia kepalkan.

Aku mengangguk pelan kemudian pergi ke luar menuju lobi kantor. Di sana ada sebuah meja. Di atasnya tergeletak beberapa buah majalah. Aku iseng-iseng buka salah satu majalah dan membacanya. Hingga ada satu artikel yang menuliskan sesuatu yang menarik perhatianku.

“Pernahkah kamu sangat menginginkan sesuatu tetapi yang datang justru sesuatu yang lain?”

Rasanya aku sedang mengalaminya sekarang. Sekilas aku jadi melamunkan wajahnya Dini dan Wulan. Dua orang yang berbeda karakter dan penampilan. Dua orang perempuan yang sama-sama bisa membuat hatiku degdegan setiap kali berada di dekatnya.

Sedang asyik melamun, sebuah notifikasi muncul di layar handphone. Ternyata dari Wulan. Wulan memberitahuku agar berangkat lebih dulu ke restoran tempat kami janjian. Jaraknya dari kantor tidak terlalu jauh. Sekitar lima belas menitan kalau mengendarai motor. Tadi pagi aku sudah janji mau traktir Wulan makanan favoritnya, Crusty Grilled Peppercorn Steaks. Ia beralasan mau menangani satu case yang belum selesai meski sudah sekitar 50 menit di-handle olehnya. Dia juga ingin aku untuk memesankan makanan favoritnya tersebut.

###

Pukul 5 sore, aku sudah berada di Restoran Yummy and Tasty di pinggiran jalan Dago. Aku sedang menunggu Wulan untuk datang. Menurutnya, makanan di sini enak dan lezat. Well, aku harus mencari tahu sendiri kebenarannya. Sambil menunggu pesananku dan Wulan datang, aku iseng jepret sana-sini memotret isi ruangan di restoran.

Restoran ini dikelilingi oleh kaca yang lebar dan besar di bagian depan. Orang-orang yang melihat dari luar seolah-olah sedang menyaksikan aquarium raksasa berisi manusia. Dindingnya diukir dan dihias seperti pohon-pohon di hutan rimba. Warna cokelat dan hijau menjadi padu-padan yang unik dan mendominasi ruangan. Meja makan terbuat dari kayu jati yang kokoh dan bersih. Oh ya, aku sampai tidak sadar jika lantainya hanya menggunakan blok-blok batu sebagai pijakan dan pembatas antara meja yang satu dengan yang lainnya. Sedangkan, di bawah meja ini tumbuh rumput-rumput hijau yang bisa dijadikan sebagai alas kaki untuk bersantai. Bahkan seorang ibu muda di sebelahku, melepas sepatunya dan membiarkan kedua kakinya menyentuh rerumputan. Jarak antara lantai dan langit-langit pun cukup jauh sekitar 6 meter. Di sekeliling atap tersedia banyak ventilasi sebagai sistem sirkulasi udara. Di sudut paling kanan, terpasang sebuah exhaust fan besar guna menyedot udara panas dari dalam restoran. Lampu yang menempel di atap pun hanya menyala jika ruangan gelap. Untuk penerangan di siang hari, restoran ini memanfaatkan cahaya matahari sebagai lampu penerang alami. Alhasil, Restoran Yummy and Tasty terasa sejuk dan pastinya hemat listrik. Wow, sebuah ide bisnis yang brilian.

Saat perutku mulai keroncongan, Wulan datang bersamaan dengan pelayan yang membawa pesanan.

“Wah, aku pas banget datang ya, A.”

Aku tersenyum dan mengangguk. “Ayo, kita makan dulu. Pasti kamu juga lapar.”

###

Cerita selanjutnya dapat kamu baca di sini.

Advertisements

Author: Fahmi Ishfah

i am cool, tough, smart, kind and complex

2 thoughts on “MSM 6 – Traktiran

  1. Jatuh dari ketinggian brp mdpl mas??😁

    • berapa mdpl ya? kira-kira sekitar 10 meter di atas tanah hehe… Gak setinggi gunung Bromo sih. Gilang jatuh dari atap nyelamatin Dini (ups,, spoiler)

      ini cerita fiktif, karangans sendiri. kalau ada waktu luang coba deh baca yang chapter pertamanya ya.

      mudah-mudahan suka. 😀

Apa komentarmu tentang postingan ini?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s