Tabayyun

Adab (etika) sebagai muslim dalam menyikapi berita hoax adalah dengan Tabayyun. Tabayyun berasal dari kata bayan (jelas/terang/tidak samar/tidak tersekat). Tabayuun artinya usaha untuk menyingkap tabir/tirai yang menghalangi sesuatu di belakangnya. Maksudnya adalah usaha kita untuk mencari tahu dan mengklarifikasi suatu berita. Jangan cepat menyimpulkan, memberi vonis hukum dan menyebar suatu berita sebelum mengecek kebenarannya. Dan jika sudah ada pembuktian dari berita itu maka disebut dengan Bayyinah. Sedangkan Fasiq adalah orang yang merusak. Perbuatannya disebut Fasaq artinya keluar dari aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh Allah.

Islam mengajarkan umatnya agar tidak menyebarkan berita bohong, meng-ghibah dan namimah karena hal itu sangat merugikan diri sendiri dan orang lain. Apakah kamu tahu apa itu ghibah dan namimah? Ghibah artinya kamu membicarakan kejelekan orang lain yang memang benar ada di diri orang itu. Dan jika yang kamu bicarakan itu salah (tidak ada di diri orang itu) maka kamu telah berdusta dan melakukan fitnah. Sedangkan namimah adalah mengadu domba atau memprovokasi dua pihak agar saling bermusuhan.

Tetapi tahukah kamu bahwa ada 3 aib atau kejelekan yang boleh diceritakan? Berikut adalah rinciannya :

  1. Istifta yaitu untuk meminta fatwa atau mencari nasihat
  2. Untuk memperoleh putusan hukum di pengadilan saat ditanya hakim
  3. Untuk menyelamatkan orang lain dari kejahatan seseorang

Contoh pertama dari Istifta adalah kisah pada zaman nabi. Waktu itu ada seorang istri yang mengadu kepada Rasulullah Muhammad Shollallahu Alaihi Wassallam. Ia bercerita bahwa suaminya tidak memenuhi kebutuhan hariannya untuk keluarga. Nafkah yang diberikan tidak cukup. Suaminya ingin makan ini dan itu tetapi uang yang diberikan tidak sesuai. Lebih besar pasak daripada tiang. Suaminya itu terlampau pelit, bahkan untuk keluarganya. Lalu perempuan itu bertanya apakah ia boleh mengambil uang dari harta si suami tanpa sepengetahuannya. Rasulullah Muhammad Shollallahu Alaihi Wassallam menjawab, boleh. Dengan syarat si istri mengambil uang sesuai kadarnya dan tidak berlebihan. Karena rezeki anak dan istri itu di antaranya dititipkan pada harta suami. Jadi sebenarnya si istri sedang mengambil haknya. Tetapi kita mesti paham bahwa kejadian ini terjadi pada suami yang pelit yang tidak wajar memberikan nafkah kepada keluarganya padahal ia mampu. Jadi, tidak boleh seorang istri menuntut hak nafkahnya secara berlebihan kepada suami apabila memang nafkah tersebut sudah diberikan oleh suami sesuai dengan kemampuan suami.

Contoh kedua dari Istifta yaitu ketika seorang gadis menemui Rasulullah Muhammad Shollallahu Alaihi Wassallam dan meminta nasihat tentang kedua pemuda yang berniat untuk melamarnya. Rasulullah Muhammad Shollallahu Alaihi Wassallam mengenal mereka berdua. Kemudian Rasulullah Muhammad Shollallahu Alaihi Wassallam mengatakan pendapatnya tentang si pemuda A. Kata Rasulullah Muhammad Shollallahu Alaihi Wassallam, si pemuda A itu tidak pandai mencari rezeki. Ia senang bermalas-malasan dan tidak mau bekerja. Untuk menghidupi dirinya sendiri saja ia tidak bersungguh-sungguh apalagi untuk hidup berdua bersama calon istrinya. Selanjutnya tentang pemuda yang kedua, Rasulullah Muhammad Shollallahu Alaihi Wassallam berkata bahwa si pemuda B ini tangannya selalu terangkat. Artinya adalah ia ringan tangan atau selalu memukul orang jika kehendaknya tidak dituruti. Ia punya potensi untuk melakukan KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga). Setelah mendengar penjelasan dari Rasul, akhirnya si gadis itu pulang dan tidak memilih salah satu pun di antara kedua pemuda itu.

Dari cerita pertama, kita bisa melihat bahwa ada seorang istri yang dengan sengaja menceritakan kejelekan suaminya. Di cerita kedua, justru Rasulullah Muhammad Shollallahu Alaihi Wassallam yang menceritakan kejelekan kedua pemuda itu kepada si gadis. Hal ini diperbolehkan karena untuk mencari nasihat/fatwa (istifta) dari permasalahan yang sedang dialami oleh kedua perempuan tadi.

Contoh berikutnya tentang menceritakan aib di depan pengadilan. Seorang saksi diperbolehkan menceritakan kejelekan seseorang (misalnya adalah si terdakwa) agar Hakim bisa mengambil vonis yang tepat di kasus tertentu.

Contoh terakhir tentang menyelamatkan seseorang dari kejahatan orang lain. Misalnya Mas Azhar memiliki seorang pembantu bernama Bi Ros. Dia hanya bekerja sekitar 5 bulan di rumahnya sebagai pembantu. Tetapi ia kemudian diberhentikan oleh Mas Azhar karena Bi Ros kepergok sedang mengambil emas dan barang berharga lainnya di rumah Mas Azhar. Setahun kemudian Mas Azhar bertemu dengan temannya, Mas Randi. Mas Randi bertanya tentang Bi Ros yang akan ia rekrut menjadi pembantu di rumahnya. Ia tahu karena dulu ia masih ingat pernah bertamu ke rumah Mas Azhar dan ada Bi Ros di sana. Lalu Mas Azhar menceritakan kejadiannya setahun yang lalu tentang kasus pencurian yang dilakukan oleh Bi Ros. Setelah mengetahuinya, akhirnya Mas Randi tidak jadi mempekerjakan Bi Ros.

Jadi, kita mesti bijak dalam memilih dan menerima berita yang datang kepada kita. Jika ada indikasi hoax maka segera tabayyun untuk mencari tahu kebenarannya sebelum latah menyebarnya kepada orang lain. Sebaliknya, kita jangan menyembunyikan berita tentang kejelekan seseorang jika itu bisa menyelamatkan orang lain.

Semoga kita bisa lebih berhati-hati dalam menyaring berita agar tidak terjebak dalam hoax, ghibah dan namimah. Semoga Allah senantiasa memberikan kita petunjuk agar kita bisa menjaga diri dari hal buruk tersebut. Karena sebagai seorang muslim, kita ingin kembali kepada Allah dalam  keadaan bersih. Kita harus berusaha untuk menghindari ghibah, namimah dan menyebar hoax agar tidak menjadi dosa yang akan memberatkan kita di pengadilan Akhirat.

###

View My Daily Post

Published by Fahmi Ishfah

A blogger who loves blogging. Visit my blogs here : https://ishfah7.wordpress.com/ --- https://projectishfah.wordpress.com/ --- https://brotherishfah.wordpress.com/ --- https://ishfahmemory.wordpress.com/

%d bloggers like this: