Terhasut, Tergoda, Terjerumus

(Cerita ini dituturkan oleh Ustadz Hanan Attaki di salah satu kajian ceramahnya. Diceritakan kepada  para pemuda yang menjadi jamaahnya. Dengan bahasa yang lebih santai dan perumpamaan yang mudah dibayangkan)

Ada tiga orang pemuda. Sholeh-sholeh semuanya. Mereka punya satu adik perempuan. Dia anak bungsu, cantik dan masih jomblo. Negara itu sedang berada dalam peperangan. Mereka dipanggil untuk mengikuti wajib militer. Tapi mereka khawatir dengan kondisi adik perempuannya. Siapa yang akan menjaganya.

Karena mereka tidak tahu kepada siapa harus menitipkan adik perempuannya, sebab seluruh keluarganya ada di luar kota. Intinya, gak ada yang mereka bisa percaya selain seorang ahli ibadah yang ada di negeri mereka. Cuma beliau ini nih yang paling sholeh, amanah, baik. Bukan ustadz biasa lah. Seorang legend. Senior banget. Akhirnya mereka sepakat, “Kita titipin aja adik kita ke Syekh itu.”

Mereka datang ke Syekh itu yang bernama Barsisa (atau Barsiso). “Syekh, kami mendapatkan tugas militer dan kami ingin menitipkan adik kami kepada Syekh. Tidak ada orang yang bisa kami titipkan kecuali kepada Anda, Syekh.”

Syekh itu menolaknya. Wajar dong. Dia orang sholeh. Takut terjadi fitnah. “Saya gak bisa. Saya gak pernah dititipin kayak gini.” Kebetulan Syekh ini belum menikah karena saking sibuknya beribadah. Saking sholehnya.

Beliau ini kayak Imam Nawawi. Imam Nawawi itu gak nikah sampai akhir hayat. Ketika ditanya, “Kenapa Anda belum menikah.” Dia menjawab, “Astagfirullahal adzim, Saya lupa menikah. Karena saya sudah menikahi ilmu.” Maksudnya adalah saking cintanya Imam Nawawi terhadap ilmu, bagi beliau ilmu itu lebih penting daripada istri. Sehingga tidurnya dengan buku. Bangunnya dengan buku. Kesehariannya selalu dengan buku.

Nah, Syekh Barsisa menolak permintaan para pemuda itu. Tapi mereka tetap bersikukuh. “Please, Syekh. Kami tidak tahu lagi mesti nitipin adik kami ke siapa. Kami khawatir dengan adik kami.”

Karena mereka memaksanya maka Syekh Barsisa menerimanya. “Ya udah deh. Kalau mau seperti ini, buatkan satu ruangan atau kamar untuk adik kalian, yang gak campur dengan rumah saya.” Singkat cerita, akhirnya kamar itu pun jadi. Sebuah kamar sederhana untuk si adik perempuan. Kamar itu berada di belakang rumah Syekh. Syekh biasa beribadah di musholla. Letak rumah Syekh, musholla dan kamar perempuan itu beredekatan. Setelah itu para pemuda lekas pergi untuk berjihad.

(Selanjutnya si adik perempuan ini akan disebut Fulanah, untuk memudahkan dalam penyebutannya di cerita. Dalam Bahasa Arab, jika ada seseorang disebutnya si Fulan (si anu atau si dia laki-laki). Kalau perempuan disebut Fulanah artinya si anu yang perempuan)

Hari-hari pertama, Syekh itu tidak berkomunikasi dengan Fulanah satu patah kata pun. Karena dia diamanahi nafkah untuk kebutuhan Fulanah, maka setiap hari Syekh membeli roti untuk makanannya. Dia menaruh roti di depan pintu kamar Fulanah. Lalu ia balik lagi ke musholla untuk berdzikir.

Fulanah sudah tahu jam atau waktu kapan saja Syekh itu akan mengantarkan roti. Dia buka pintu, mengambil roti lalu memakannya di dalam kamar. Mereka gak pernah berkomunikasi. Selalu begitu selama beberapa hari.

Di minggu kedua, datanglah setan menggoda Syekh. Yuwaswisu fii sudurin nas. Dia berbisik-bisik di hati manusia. Setan menggodanya pakai perasaan, gak pake logika. Perasaan Syekh itu yang diusik oleh setan.

Setan itu berkata, “Kasihan juga tuh cewek, kesepian. Masa gak disapa sama sekali. Ntar disangka sombong loh. Ya, sapa sederhana aja. Gak usah berlebihan. Kayak nanya kabar, gimana sehat? Gitu doang.” Syekh itu pun melakukan saran dari setan.

Besoknya setan datang lagi dan berkata, “Masa cuma nyapa doang. Siapa tahu dia pengen sesuatu tapi gak berani ngomong karena kaku. Ya, lebih peka lagi lah. siapa tahu dia memang butuh sesuatu, tapi dia gak ngomong juga karena malu.”

Syekh itu pun melakukannya. Dia datang ke depan kamar Fulanah. “Teh, Sehat? Kalau butuh sesuatu kasih tau saya yah.” Fulanah menjawab dari dalam, “Iya, Syekh. Terima Kasih”

Kemudian datang setan yang lain membisiki Fulanah, “Syekh itu baik banget yah. Perhatian sekali. Kamu, kalau ada apa-apa, jangan sungkan. Ngomong aja ke beliau. Beliau orangnya sholeh kok. Seneng ngebantu orang.”

Hari-hari berikutnya, ketika Syekh bertanya Fulanah butuh apa, Fulanah memberanikan diri untuk mengatakan keinginannya seperti nitip ingin dibelikan ini dan itu.

“Saya pengen beli makanan ini. Ini uangnya.”

“Gak apa-apa. Ini uangnya udah ada. Titipin dari kakak-kakaknya Teteh.”

“Oh, ya udah. Maaf yah merepotkan, Syekh.”

“Gak apa-apa.”

(Nah, udah mulai nih ada hubungan)

Syekh itu pergi ke pasar. Beliin roti, susu dan makanan yang diinginkan Fulanah. Setelah sampai rumah, dia pun memberikan kepada Fulanah. “Syekh, kita bagi dua aja rotinya. Masa saya makan sendiri. Pasti gak akan habis.”

Setan berbisik, “Bener tuh gak akan habis. Mubazir kan. Kebanyakan tuh. Udah bagi dua aja.” Setan yang satu lagi ikut membisiki Syekh, “Udah jangan diterima. Malu atuh sama cewek.” Akhinya Syekh itu menolak tawaran Fulanah dan berkata, “Udah buat Teteth aja. Nanti kalau memang bener gak habis, saya yang akan makan.”

(Cie… mulai kan hubungannya sedikit lebih erat)

Setan itu berbisik lagi, “Coba tanya si cewek ini, siapa tahu dia pengen belajar. Nyantri aja sekalian sama kamu. Belajar agama. Tanya dia pengen nanya apa aja tentang agama. Bukankah membantu orang lain itu adalah kebaikan? Nanti kamu bakal dapat pahala lebih.”

Lalu Syekh itu berkata kepada Fulanah, “Teh, nanti kalau butuh apa-apa yang berkaitan tentang agama, tanya aja ke saya. Insya Allah saya nanti akan bantu jawab sebisanya. Kalau gak tahu, nanti saya tanya kepada yang lebih alim.”

Bak gayung bersambut, Fulanah menjawab, “Oh iya, Syekh. Kebetulan saya tuh lagi mau nanya tentang ini dan itu.”

(Udah mulai bisa akrab nih)

Tapi mereka masih di terhalang oleh pintu kamar. Syekh di luar, berdiri agak jauh dan Fulanah di dalam. Setan berbisik, “Iya bener di luar aja. Jangan ketemu si cewek itu. Ntar jadi fitnah dong.” Jadi akhirnya kalau ada pertanyaan dari Fulanah, Syekh akan menjawabnya dari luar sambil berteriak.

Lama-lama, setan datang lagi, “Mungkin sebetulnya si Teteh itu ada pertanyaan yang privasi, gak enak kalau nanyanya sambil teriak-teriak. Kayak nanya masalah cara membersihkan darah haid. Kan gak enak kalau didengar orang lain. Ya udah, kamu lebih dekat lagi. Duduk dekat pintu kamarnya. Jangan berdiri agak jauh dari kamarnya.”

Syekh pun mengikuti bisikan setan itu. Di lain hari dia berkata kepada Fulanah, “Teh, kalau mau banya apa-apa, saya siap jawab di dekat pintu ini. Jadi gak perlu teriak-teriak lagi.” Akhirnya mereka berdua duduk dekat pintu. Syekh di luar, Fulanah di dalam. Pintu masih tertutup.

Besoknya setan datang lagi dan berbisik, “Apa kata orang lain, ngelihat kalian ngobrol kayak gini? Satu di dalam, satu di luar dekat pintu. Kan nanti bisa jadi fitnah. Dikira semua orang ada apa-apa. Lebih baik, masuk aja ke dalam. Biar agak ada orang yang ngelihat. Tapi pintunya dibuka. Awas jangan ditutup. Ntar digoda setan.”

(Padahal yang membisikinya itu setan)

“Teh, boleh di dalam aja? Gak enak dilihat orang.”

“Oh iya Syekh, gak apa-apa. Masuk aja.”

Setan yang menggoda Fulanah berbisik, “Gak apa-apa. Syekh itu orangnya amanah. Bisa kamu percaya kok.”

Akhirnya Syekh bisa masuk ke dalam rumah, walau masih dekat ke pintu. Tapi tentu rasanya berbeda dengan sebelumnya. Sekarang Syekh bisa bertatapan dan melihat langsung Fulanah. Pertama, Fulanah gak pernah dekat dengan cowok manapun. Kedua, Syekh ini juga gak pernah dekat dengan cewek. Ini adalah pertama kali mereka berinteraksi antar lawan jenis. Berdekatan dan tidak ada siapa pun selain mereka berdua.

Setan berbisik lagi, “Jangan kaku-kaku amat ta’lim tuh. Bercanda lah dikit.”

Mereka pun mulai saling bercanda, akrab, haha-hihi.

Setan berbisik lagi, “Malu atuh kalau dilihat orang dari luar. Udah, tutup aja pintunya. Kalian kan udah saling kenal dan percaya.”

Pintu pun ditutup. Mereka berdua ngobrol terus-menerus sampai akhirnya Fulanah curhat.

“Syekh, saya sudah anggap Anda seperti keluarga saya. Saya sudah percaya. Boleh saya curhat masalah pribadi?”

Syekh mengiyakan. Fulanah pun membuka cadarnya dan mulai menceritakan semua keluh-kesah dalam hidupnya. Setelah melihat wajahnya, pikiran Syekh pun mulai kemana-mana. Karena terbawa suasana sedih saat bercerita, Fulanah menangis.

Setan yang lain datang membisikinya, “Kalau cewek lagi nangis kayak gitu jangan didiemin. Kasih bahumu untuk bersandar. Cewek kalau lagi melow kayak gitu gak akan tersinggung. Pasti dia akan berpikiran positif kepadamu. Kasih bahu saat dia sedang emosional kayak nangis gini. Dia akan terima.”

Setelah adegan itu, Syekh mengusap-usap kepala Fulanah dan langkah demi langkah akhirnya mereka berzina. Naudzubillahi min dzalik! Berzina sekali, dan berpikir udah terlanjur dosa, kemudian berzina lagi dan lagi. Kagok euy!

“Dah, jangan manggil Syekh lagi yah. Manggil Aa aja.”

Mereka berdua semakin akrab. Beberapa bulan kemudian, Fulanah hamil. Syekh ini menjadi ketakutan. Dia khawatir kakak-kakak Fulanah akan mengetahuinya. Syekh kalut dan panik. Kemudian datang setan lain kepadanya. “Lo udah ngehamilin adik mereka. Lo gak bakal dibiarin hidup. Ah, udah terlanjur. Udah lo abisin aja tuh cewek. Gak usah banyak mikir. Bunuh!”

Singkat cerita, Syekh itu membunuh Fulanah karena takut ketahuan sudah menghamili adik perempuan para pemuda itu. Fulanah  dikubur di belakang rumah Syekh. Tapi setan sudah memberikan alibi kepada Syekh, “Ntar bilang aja si cewek itu sakit keras terus meninggal.”

Di hari berikutnya, ketiga pemuda itu datang menemui Syekh. Mereka menanyakan kondisi adiknya. Dengan berpura-pura, Syekh ini menampakkan wajah sedih dan menyebutkan bahwa adik mereka sakit lalu meninggal dunia.

Setelah ketiga pemuda itu pulang, malam hari di dalam mimpi, setan datang ke dalam mimpi ketiga pemuda itu. Dalam mimpi itu setan memberitahu bahwa adik mereka mati bukan karena sakit melainkan karena dibunuh oleh Syekh dan sebelumnya sudah dihamili. Dan setan memberitahukan letak kuburan adik mereka.

Esok hari saat bangun tidur, masing-masing menceritakan mimpi semalam. Awalnya tidak percaya tetapi karena mimpi ketiganya sama, akhirnya mereka pergi ke belakang rumah Syekh. Mereka menggali kuburan dan ternyata jasad adiknya yang sedang hamil berada di dalam kuburan tersebut.

Tak butuh waktu lama, Syekh itu ditangkap dan akhirnya akan diadili dan dihukum pancung oleh algojo di negara itu. Sesaat sebelum dia akan dihukum mati, setan pun datang menghampirinya dan menceritakan bahwa semua hal yang terjadi kepada Syekh adalah hasil dari hasutan setan. Di ujung hayatnya itu, Syekh merasa sangat bingung dan sedih. Lalu lagi-lagi setan menghasutnya, “Kalau kamu ingin selamat di Hari Akhir nanti, berjanji setialah untuk mengabdi kepadaku. Maka kamu akan selamat.” Syekh pun mengucapkan kata yang menyatakan bahwa ia beriman kepada si setan itu dan akhirnya ia meninggal dalam keadaan sebagai pezina, pembunuh, pembohong dan syirik. Naudzubillahi min dzalik!

###

Demikian cerita tentang bagaimana setan menggoda manusia, bahkan seorang ahli ibadah pun bisa terjebak ke dalam godaannya. By the way, kamu pernah mengalami atau mendengar bisikan-bisikan seperti ini? Mungkin bisa saja tidak persis cerita atau adegannya tetapi sebagai manusia kita pasti tidak akan lepas dari godaan setan. Semoga Allah selalu menjaga kita dari godaan setan yang terkutuk. Amin.

Silakan dengarkan kajian lengkap dari Ustadz Hanan Attaki tentang cerita Syekh Barsisa di bawah ini :

Yuk nongkrong bareng UHA di sini!

15 thoughts on “Terhasut, Tergoda, Terjerumus

      1. Masa kecil di sebuah desa dimana aku dan seorang teman begitu haus akan bahan bacaan padahal sarana terbatas sehingga semua buku yang ada dibaca tanpa tahu itu buku apa 😀.

            1. Sepertinya dia berkata tak benar tuh. Kalau sudah kehilangan minat baca, gak mungkin lah dia membuat blog. Aktifitas blogger adalah menulis dan membaca. Dan tulisan dia keren-keren loh.

                  1. Aku sudah tanya.
                    Katanya bisa jadi memang minat membaca itu masih ada cuman untuk membuka buku sudah malas. Jadi sekarang minatnya jadi membaca blog orang.
                    Tapi dia bilang, jangan percaya kepada orang yang mengatakan bahwa tulisan dia keren karena itu sama sekali tidak betul.
                    Bisa jadi orang yang mengatakan tulisan dia keren itu mengatakannya hanya basa basi supaya dia tersanjung dan terus menerus mengikuti tulisan yang bilang itu.

                    Begitu katanya 😀😀😀😀😀😀😀😀😀😀😀

Comments are closed.