Nikmat Paling Berharga

Bismillahirrahmanirrahim!

Teman-teman sekalian, di dalam Al-Quran Surat At-Taubah ayat 124 menjelaskan sesuatu yang sangat berharga untuk kita renungkan yaitu iman.

Kita sering mendengar ungkapan dari para ulama bahwa iman itu yajidu wa yanqusu (bertambah dan berkurang). Iman itu pada tabiatnya tidak selalu stabil. Ada kalanya iman berada dalam keadaan nyaman dan kuat tetapi di lain waktu iman itu bisa drop dan lemah. Sedangkan kita selalu membutuhkan iman itu selama 24 jam dalam sehari.

Kita membutuhkan iman selayaknya kita pada udara. Karena dengan iman maka jiwa kita bisa hidup dan hati bisa ‘bernafas’.  Kita membutuhkan iman lebih dari pulsa dan handphone. Bahkan kalau seseorang keluar rumah lalu meninggalkan handphone pasti dia akan kembali ke rumah meskipun telah jalan jauh. Itu semua karena saking butuhnya dia terhadap handphone.

Begitu juga dengan iman. Kita tak bisa meninggalkan rumah tanpa membawa iman. Kita butuh iman dalam banyak adegan kehidupan. Seperti iman saat diuji supaya bisa sabar dan tabah menghadapinya. Iman juga dibutuhkan saat beribadah supaya kita bisa khusyu dan semangat. Saat bergaul atau bermuamalah dengan orang lain pun iman diperlukan agar bisa berlapang dada terhadap sikap-sikap orang lain yang kadang-kadang tidak berkenan di hati. Ketika menghadapi orang jahil, iman tetap diperlukan agar kita mampu memaafkan kesalahan orang lain. Kita selalu membutuhkan iman dalam keadaan apapun, bahkan saat sedang diberikan sebuah nikmat agar bisa bersyukur.

Dalam hubungan rumah tangga butuh iman. Demikian juga dengan bertetangga. Nabi Muhammad bersabda, “Iman seseorang itu tidak akan sempurna hingga dia mencintai saudaranya (orang lain) sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.”

Pada hadits lain disebutkan bahwa, “Siapapun orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kiamat maka hendaknya dia memuliakan tamunya.”

Pada hadits lain disebutkan bahwa, “Siapapun orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kiamat maka hendaknya dia memuliakan tetangganya.”

Artinya semua hal dalam kehidupan ini berlandaskan iman. Iman menjadi salah satu kebutuhan penting dalam hidup. Bahkan mungkin lebih daripada udara untuk kita bernafas, air untuk minum dan makanan untuk makan. Kita membutuhkan iman lebih daripada semua hal itu.

Saking pentingnya iman dalam kehidupan kita, para ulama mengumpamakan iman itu ibarat sebuah akar dari pohon. Akarnya iman, pohonnya sabar dan buahnya adalah kebaikan-kebaikan yang kita lakukan dalam kehidupan. Sehingga kalau kita ingin selalu menjadi orang yang baik, happy, lapang dada, mudah memaafkan kesalahan orang lain, gak baperan, gak gampang latah, drop dan putus asa maka yang pertama harus kita pupuk dan siram itu adalah akar keimanan di dalam hati.

Siapapun yang ingin tangguh dalam ujian hidup, siapapun yang ingin survive dalam setiap musibah, siapapun yang ingin melihat adanya keajaiban-keajaiban terjadi dalam hidupnya maka dasar yang harus ia kuatkan itu adalah iman.

Kalau seseorang punya iman maka Allah akan beri banyak kejutan dan kebaikan bagi dirinya. Oleh karena itu Nabi Muhammad menyebut mukmin (orang beriman) dengan sebutan ‘azaban artinya menakjubkan.

Apapun kondisnya seorang mukmin itu tetap menakjubkan, baik saat ia sedang susah atau senang. Karena saat senang ia bersyukur dan saat sedih ia bersabar. Pertanyaannya adalah bagaimana cara kita agar iman bisa selalu stabil, tidak turun, atau berkurang dan bisa selalu bertambah? Bagaimana cara kita agar bisa recharging iman?

Teman-teman sekalian, pernah gak ngerasain momen di mana hati kita merasa dekat dengan Allah, kangen kepada Allah dan Rasulullah maka rasanya ibadah yang dijalankan itu nyaman. Membaca Al-Quran nyaman, shalat malam itu nyaman bahkan sebelum tidur kita ingin shalat tahajjud dulu, tengah malam ingin bangun lalu bersujud dan berdoa kepada Allah, saat berdoanya kita bisa menangis karena saking khusyu dan takut kepada Allah. Kapan hal ini terjadi kepada kita?

Rata-rata jawabannya adalah kita bisa merasakan suasana hati senyaman itu saat sedang banyak masalah. Padahal kita bisa merasakan hal yang sama tanpa menunggu datangnya masalah. Bagaimana caranya?

Caranya adalah duduklah dalam majlis ilmu. Ketika kita mendengar nasihat-nasihat dari para ulama, ayat-ayat dibacakan hadits-hadits disampaikan, cerita-cerita dikisahkan maka pada saat itu kita akan merasakan kelezatan iman yang sama saat kita sedang diuji. Dan perasaan itulah yang bakal menjadi bahan bakar dalam hidup kita untuk bisa melanjutkan perjalanan hidup, menghadapi tantangan hidup. Bahan bakar itu bernama ladzatul iman (kelezatan iman) atau halawatul iman (manisnya iman) di hati kita.

Kalau teman-teman menambahkan budget untuk membeli kuota paket data internet di handphone maka seharusnya budget yang jauh lebih besar harus berani dikeluarkan demi menambah kuota iman.

Kalau teman-teman bersusah payah berolahraga supaya sehat fisiknya maka seharusnya kita jangan ragu-ragu untuk bersusah payah dalam mencari ilmu dan iman.

Kalau teman-teman sabar menunggu handphone terisi daya baterainya maka seharusnya kita juga sabar duduk dalam majlis ilmu selama 1, 2 atau 3 jam supaya iman bisa full.

###

Yuk nongkrong bareng UHA di sini!