Bertengkar Sampai Kapan?

Kalau setiap kali bertengkar dengan pasangan lalu aku tidak merasa cocok, maka kira-kira sudah 47 kali aku sudah diceraikan oleh istriku. Pertengkaran itu tidak boleh dilihat sebagai tanda ketidakcocokan. Kalau pasangan saling mencintai maka pertengkaran itu sebagai tanda mencocokkan diri satu sama lain. Kalau setiap kali bertengkar dinilai sebagai ketidakcocokan maka tidak ada pernikahan yang awet. Kalau berpikir positif, pertengkaran itu adalah tanda penyesuaian diri.

Logikanya seperti ini. Misal ada seorang wanita yang bertemu dengan laki-laki. Mereka berdua sudah dewasa dan matang. Saat usia semakin bertambah maka sifat manusia itu seperti lilin. Semakin lama akan semakin dingin dan kaku, dalam artian karakternya sudah terbentuk di dalam diri. Jika masih muda, proses-proses penyesuain diri (seperti bertengkar) itu memang wajar terjadi.

Kalau pasangan saling mencintai maka cinta mereka itu akan melembutkan kekakuan yang ada di dalam diri masing-masing. Sehingga kalau tidak cocok, dicocokkan. Nah dalam proses itu, mereka bertengkar daa beradu argumen atau pendapat. Bertengkar itu karena masing-masing mau enaknya sendiri. Tapi setiap pertengkaran yang terjadi mesti berhenti untuk kebaikan bersama.

“Kamu dong yang berubah. Jangan aku.” Kalau pasangan saling mencintai, kalimat itu tidak terlontar. Alih-alih berkata, “Oke, aku akan berubah demi kebaikan hubungan pernikahan kita.” Nah, kalau pasangannya tidak mau berubah? Itu artinya dia tidak mencintaimu.

Jadi kalau pasangan sungguh-sungguh mau rukun, maka berubahlah menjadi baik sebagai tanda saling mencintai. Mau mendengarkan pasangan, sebagai tanda mau berubah.

Pertengkaran kalau disikapi sebagai derita maka itu adalah alasan untuk berpisah. Tetapi kalau pertengkaran itu dilihat sebagai tanda untuk menyesuaikan diri, maka perhatikan keadaan setelahnya. Seusai bertengkar, hubungan dengan pasangan bisa lebih mesra lagi, istri jadi lahap makan, suami semakin lepas tertawanya dan sebagainya.

Pernah lihat ada kakek-nenek yang masih mesra dan hangat dengan pasangannya? Aku pernah melihatnya dan aku yakin pada masa muda dulu, di awal-awal fase pernikahan, mereka pun ada saat di mana bertengkar lalu baikan, bertengkar lagi lalu menyesuaikan diri hingga akhirnya tahu sifat, sikap dan keinginan dari pasangan..

Jadi sebelum menjadi tua renta, dingin dan kaku seperti lilin, maka bertengkarlah dan salinglah mencari cara untuk menyesuaikan diri dengan pasangan.

Semoga bermanfaat!

###

(SUMBER : Channel Youtube – Mario Teguh)

Perlu motivasi lainnya? Klik di sini.