Keresahan Seorang Bloger

Aku ingin melihat kembali bahwa blog itu bisa menjadi salah satu pilihan utama dalam menyajikan sebuah informasi dan cerita. Pada saat ini, fenomena yang aku lihat dan alami yaitu masyarakat umum di internet atau yang sering kita sebut sebagai netizen itu lebih senang bercerita dan berbagi di akun media sosial Twitter, Facebook dan Instagram.

Pernah dengar cerita hantu KKN Desa Penari? Itu semua berawal dari sebuah thread di Twitter. Dulu, Twiiter hanya dibatasi 144 karakter. Sangat eksklusif. Para tweeps atau pengguna Twitter diberikan ruang yang terbatas dalam sekali melakukan tweet. Ide dasarnya adalah Twitter ingin mengajak para pengguna layanannya untuk bisa berekspresi dalam setiap tweetnya meskipun singkat. Namun perlahan-lahan keistimewaan ini luntur saat Twitter mengubah batasan jumlah karakter per tweet. Sekarang tweeps bisa menulis lebih panjang bahkan ada pilihan membuat thread.

Masalahnya adalah orang-orang yang doyan dan senang bercerita itu cenderung ingin berbagi hal yang banyak dan tulisannya tidak pendek. Tak sedikit orang yang menuliskan cerita dalam beberapa tweet. Meskipun sekarang jumlah karakter per tweet lebih banyak daripada sebelumnya, tetapi pada kenyataannya tidak bisa memberikan ruang banyak untuk para penulis.

Di sini aku menemukan masalahnya. Keinginan orang untuk bercerita tetap tinggi. Ia memilih Twitter sebagai sarana untuk bercerita meskipun dibatasi oleh hitungan jumlah karakter pada sebuah tweet.

Apakah Thread Starter (TS) atau orang yang memulai thread atau yang ingin bercerita ini salah? Tidak. Mereka lebih memilih Twiiter karena sosial media ini masih memiliki tempat di mata netizen, baik yang budiman atau yang beracun mulutnya.

Apakah pihak Twitter salah karena memberikan batasan dalam penulisan per tweet dan thread? Tidak. Ini semua adalah tentang bisnis bagi mereka.

Sebelum berakhir pada kesimpulan, kita lihat juga apa yang terjadi di Facebook dan Instagram. Jumlah karakter yang disediakan Facebook dalam satu kali pos bisa lebih banyak daripada 1 kali tweet di Twitter. Meskipun demikian orang yang ingin bercerita masih belum cukup puas. Mereka membuat cerita dalam pos sebuah status yang panjang dan berantai. Ada part 1, 2 dan seterusnya. Cerita yang paling hangat adalah tentang Layangan Putus. Kamu tahu akan hal ini?

Lalu hal serupa terjadi di Instagram. Pada platform media sosial itu pun caption sebuah gambar dibatasi karakternya. Tapi netizen di Indonesia sungguh kreatif. Jika dirasakan tulisan di caption itu kurang maka dia akan menulis lanjutannya di komentar.

Sahabat, apakah kamu sekarang sudah bisa memikirkan hal yang sama denganku? Apakah kamu bisa menyimpulkan apa maksudnya?

Bagi kamu yang bisa menebaknya aku ucapkan SELAMAT. Berarti kita satu pemikiran. Bagi kamu yang belum paham maka izinkan aku mengupasnya agak lebih dalam.

Ketiga platform sosial media di atas menyediakan sebuah ruang bagi para penggunanya untuk berekspresi. Twitter dibuat pertama kali dengan aturan sangat terbatas yaitu 144 karakter agar para tweeps bisa berbagi hal yang dia rasakan dalam konteks yang lebih ringkas.

Instagram dibuat sebagai media berbagi gambar dan video yang disukai oleh penggunanya. Kalau kamu perhatikan, fitur-fitur yang terdapat di Instagram jauh lebih banyak berfokus kepada penggunaan media gambar dan video. Caption disediakan hanya untuk memperjelas isi gambar atau video yang diunggah. Tapi sekarang banyak orang membuat caption yang super panjang. Mereka ingin bercerita tetapi memaksakan batasan yang diberikan oleh Instagram perihal jumlah karakter yang bisa ditulis per caption. Maka tak jarang kamu melihat ada banyak caption yang panjang di Instagram dan berlanjut di komentar.

Hal yang serupa terjadi di Facebook. Pada setiap status di Facebook, hal yang ditanyakan kepada penggunanya adalah “Apa yang kamu pikirkan?” Facebook tidak bertanya, “Apa yang ingin kamu ceritakan?”

Apakah hal ini berefek pada ketiga sosial media itu? Tentu tidak. Seperti yang kubilang sebelumnya. It’s all about business. Semakin banyak orang yang menggunakan layanannya maka semakin baik untuk mereka. Karena artinya semakin banyak pula pundi-pundi uang yang bisa dihasilkan.

Aku bisa menarik kesimpulan bahwa keinginan orang-orang untuk bercerita itu masih tinggi. Mereka menggunakan akun sosial media sebagai sarana untuk bercerita meskipun ada batasan karakter atau jumlah tulisan untuk setiap pos.

Pertanyaannya adalah jika keinginan untuk berbagi cerita itu tinggi dan si pencerita membutuhkan wadah yang jauh lebih luas dan tak terbatas, lantas kenapa mereka tidak memilih blog sebagai jalan keluarnya? Pada sebuah pos di blog, bloger bisa menuliskan tulisan sepanjang apapun yang ia mau. Ia bisa menyisipkan gambar atau video yang ia suka dan sebagainya.

Setelah aku renungkan ternyata jawabannya karena blog tidak sepopuler dulu. Bahkan saat ini orang-orang yang dulu memiliki blog sudah menelantarkan blognya. Ada di antara mereka yang sudah tidak tahu nama blog dan URL-nya. Ada yang tahu nama blognya tetapi tidak ingat password dan beragam alasan lain.

Alasan kedua karena netizen lebih senang disuguhi konten yang diberikan di akun sosial media mereka. Selain ketiga akun sosial media itu, ada satu lagi yaitu Youtube. Youtube lebih khusus berfokus kepada video.

Pernahkan kamu berpikir kenapa di HOME akun Youtubemu terdapat banyak video yang direkomendasikan untuk kamu tonton? Pernahkah kamu cek di tab explore di Instagram dan melihat-lihat gambar dan video yang disarankan untuk kamu lihat? Itu semua terjadi karena ada algoritma rumit pada sistem pencarian kata yang sering kamu ketik. Atau sederhananya seperti ini. Jika kamu sering mengetik ‘mobil’ maka akunmu akan dikenali sebagai seseorang yang menyukai mobil. Pada pencarian berikutnya kamu akan diberikan rekomendasi hal yang serupa. Atau kamu senang mencari gambar atau video yang berhubungan dengan ‘kecantikan’ maka hal yang serupa terjadi.

Ini seperti pedang bermata dua. Di satu sisi kita dimudahkan untuk mencari apa yang kita mau dan suka. Kedua, kita menjadi malas untuk membuat konten di akun sosial media sendiri. Keinginan untuk mengkonsumsi feed menjadi jauh lebih tinggi.

Jadi alasan kenapa orang-orang meninggalkan blog yaitu mereka sudah beralih ke platform sosial media yang lain. Kedua, mereka lebih nyaman dengan suguhan informasi yang dicekoki ke depan muka alih-alih membuat dan menulis sendiri.

Kamu sebagai bloger yang sedang membaca tulisanku ini, apakah kamu merasakan hal ini? Apakah kamu memiliki pemikiran yang sama denganku? Apakah kamu ingin tetap menjadi bloger dan terus aktif menulis? Atau menjadi netizen yang hanya gemar mengkonsumsi informasi tanpa memproduksi?

Kalau berjalan sendiri-sendiri kita tidak akan bisa bertahan. Kamu membutuhkan dukungan dan penyemangat dari sesama bloger lain. Kamu mesti memiliki tekad yang kuat untuk kembali menjadi seorang bloger yang sesungguhnya.

Kalau berjalan bersama maka akan ada banyak peluang dan kesempatan yang ada. Oleh karena itu, mari bersama-sama kita menjadi bloger yang keren sekaligus paham akan tata bahasa Indonesia. Aku sangat ingin melihat blog itu bisa sepopuler dulu.

Kalau kamu butuh teman sesama bloger, ada sebuah komunitas baru yang dengan tangan terbuka akan menyambut kehadiranmu. Yuk, gabung bersama kami di Ikatan Kata. Jika tertarik, silakan klik di sini.

Terakhir, aku berharap kepadamu, entah kamu akan bergabung atau tidak, satu pesan yang ingin aku sampaikan kepadamu sebagai sesama bloger adalah tetaplah menulis. Aku percaya selama bloger itu rajin menulis maka lambat-laun kejayaan para bloger akan kembali bahkan jauh lebih wangi dan harum dari tahun-tahun sebelumnya.

###

View My Daily Post

15 thoughts on “Keresahan Seorang Bloger

  1. Di antara banyaknya tulisan yang pernah kubca, hanya ini satu satunya tulisan yg tidak kulewati sebarispun membacanya. Nice thread kak. Dan emang iya, sgt mewakili isi hatiku.
    Sebelum ke WP, aku main di blogger, tpi iya benar, aku meninggalkan blogku karena dirasa sepi. Bahkn blog lamaku udah gak tau email dn sandinya. Sulit menemukannya kembali.
    Aku meninggalkan blog juga sama untuk menulis. Namun, di platform yg beda. Sebenarnya kmbali lagi pada tjuan si penulis itu sih. Dia menulis tujuannya apa.
    Thanks, sangat suka sama tulisannya.

  2. Waaaaawww keren banget tulisannya dan mewakili apa yang aku rasain bangeeet.. Tidak hanya di İnstagram, Twitter, dan Facebook aja, kak. Bahkan aku kadang nemu orang sampai rela menulis panjang di status WhatsApp. Terus aku mikirnya simple aja, “Ni orang kenapa ngga nulis di blog aja sih ? Nulis di blog kan lebih awet dan mungkin dapet pembaca lebih banyak ? Jadi kalau mau kasih nasihat juga bisa ditulis, kalau mau di share ke WA atau medsos lainnya, tinggal kasih link aja..” Dan aku memang sering bgt bikin status begini di WA. Oh my God ngga nyangka ada tulisan begini di blog.. Superb !

  3. Whaaaa nice writing mas!

    Kayaknya belakangan ini saya lumayan sering menemukan tulisan yg berisi keresahan seorang blogger yang merasa kalau sekarang blog udah ga serame jaman dulu, banyak blogger yang pada beralih ke IG dll. Hmm ya mungkin at some point blog udah nggak serame dulu, tapi kalau niatnya adalah untuk menuangkan isi pikiran dan berbagi informasi, tanpa mengharapkan orang orang pada ngomen tulisannya, kayaknya mau sepi atau engga it’s not such a big deal. 😉

    Teruslah menulis walau hanya sebulan sekali wkwkwk

    • Haha. Iya itu fenomena yang terjadi sekarang.

      Kalau sudah ada kecintaaan pada menulis, mau tulisannya dibaca atau tidak, di-like atau tidak; dikomentari atau tidak, I don’t care. Saya akan tetap menulis. Hehe..

      Sepertinya yang hanya mrnulis sebulan sekali ini ya Nadya.

      😀

  4. Inspiratif sekali. Apa yang disajikan di sini cukup mewakili kegelisahan saya, dan justru karena alasan-alasan seperti: suguhan konten yang disarankan itu semakin lama semakin berjejalan, aku memutuskan untuk menutup facebook dan instagram, juga mematikan beberapa fitur di twitter agar yang sedang trend dan highliht yang muncul dari temen tak mucul terus menerus. Justru karena alasan-alasan itulah aku tetap nyaman di blog dan merawat blog. Konten yang tidak terlalu cepat dan ramah untuk otak karena tidak diserang terus menerus oleh iklan dan konten yang semakin rumit itu. Salam. 🙂 🙂 🙂

Apa komentarmu tentang pos ini?

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s