Melepas Tali Kekang

Apakah kamu mau menjadi seorang Joki atau seekor kuda?

Pertanyaan ini cukup absurd. Kenapa tiba-tiba melontarkan pertanyaan tersebut? Semua ini berhubungan dengan tali kekang yang identik dengan kuda. Tenang, aku tidak sedang membahas bagaimana cara beternak kuda atau menungganginya. Kita akan membicarakan sesuatu yang lebih spesifik yaitu tali kekang.

Manusia kadang-kadang senang menggunakan suatu istilah untuk menjelaskan atau menggambarkan hal lain yang serupa dan memiliki kemiripan.

“Jadi kamu mau bilang, aku ini mirip kuda?”

Selow, bro. Tak ada yang menyebutmu seperti itu. Untuk menjawabnya, yuk simak dan resapi penuturanku di bawah ini.

Bagaimana cara agar bisa melepaskan diri dari tali kekang atau kendali orang lain? Semua bermula dari sikap ‘tidak enakan’ terhadap orang lain. Juga karena pada dasarnya kamu adalah orang baik yang tidak ingin mengecewakan orang lain. Misalnya saat ada seseorang yang meminta suatu barang darimu, kamu membolehkan dia mengambilnya. Di lain waktu orang itu datang kembali dan melakukan hal yang sama. Dia ada pada posisi orang yang berani meminta sedangkan kamu berada pada posisi orang yang takut untuk menolak.

Untuk satu atau dua kali permintaan, kamu bisa menganggapnya sebagai sikap toleran terhadap orang lain. Namun ketika sudah tiga kali atau lebih, dia terus meminta (mengambil dengan paksa) maka hal tersebut tidak boleh kamu biarkan. Rasa sungkan atau ‘tidak enakan’ kepada orang lain pada tahap ini mesti dihentikan jika kamu sudah tidak nyaman. Sesuatu yang membuatmu dongkol, jengkel atau kesal dalam hati maka lambat-laun akan mengakibatkan suatu penyakit. Bisa berujung pada penyakit ‘dzohir’ (nyata) atau ‘bathin’ (dalam hati).

Lain halnya apabila kamu sama sekali tidak keberatan jika ada orang lain meminta, mengambil, atau membujukmu untuk memberikan sesuatu. Kamu merasa baik-baik saja misalnya karena sesuatu yang diminta oleh orang itu kamu memilikinya dalam jumlah banyak. Ada orang yang minta makanan, minuman, rokok atau apapun, lantas kamu bilang, “Ambil saja, aku punya banyak.”

Merasa diri terkekang atau dikendalikan oleh orang lain berawal dari perizinan yang kamu berikan kepada mereka. Cara menghentikannya adalah belajar mengatakan ‘TIDAK’. Kalau ada orang yang menurutmu sudah melewati batas wajar, kamu hentikan. Bilang kepadanya, “Sudah, aku tak punya lagi. Berhenti meminta dariku.” Atau kalimat lain yang lebih sesuai dan pantas, tergantung kepada situasi dan kondisi.

Belajar mengatakan ‘YA’ itu baik untuk membuka semua peluang yang ada. Misal kamu ditanya oleh bosmu, “Bisa gak kamu scan berkas ini?” Kamu bisa mengatakan, “Ya, saya bisa.” Walau sebenarnya kamu belum mengetahui caranya. Pada saat itu peluang untuk belajar sesuatu hal yang lain menjadi terbuka. Sebelumnya kamu tidak mengerti cara scan sebuah berkas di mesin scan, lalu karena disuruh bos, kamu bertanya kepada rekan kerja dan kamu diajari oleh mereka. Kamu akhirnya bisa menyelesaikan tugas dari bos serta mendapatkan ilmu baru.

Belajar mengatakan ‘TIDAK’ pun dibutuhkan dalam aspek kehidupan. Kamu tidak harus selalu menuruti kemauan orang lain yang meminta sesuatu kepadamu. Tentu alasannya bukan karena kamu adalah seorang yang pelit. Itu berbeda cerita. Orang yang pelit, diminta apa pun akan menolaknya dan mencari seribu alasan untuk membenarkan. Kamu menolak karena kamu tahu jika permintaan itu terus berlanjut dan berulang maka itu tidak akan memberikan dampak positif, baik untukmu atau orang lain.

Contoh paling sederhana yang bisa kuberikan adalah saat Faeeza memintaku membelikannya es krim. Padahal itu baru pukul 7 pagi. Dia belum sarapan, cuaca di Bandung juga sangat dingin kalau pagi. Semilir anginnya bisa merasuk ke dalam pori-pori bahkan tulang-belulangmu. Aku berkata kepada anakku itu, “De, nanti Papa belikan es krimnya siang saja ya.” Karena masih kecil dia ngambek dengan menangis dan menjerit-jerit, tapi aku mencoba membujuk dan mengalihkan perhatiannya kepada hal lain.

Apakah aku tidak sayang kepada anakku karena tidak memberikan apa yang dia inginkan? Untuk yang sudah menjadi orang tua tentu akan paham bahwa kadang-kadang bentuk kasih sayang itu bukan saja berupa kata ‘YA’ tapi ada saat kata ’TIDAK’ dibutuhkan.

Contoh lain yang lebih luas dan rumit bisa kamu temukan sendiri di lingkunganmu. Baik itu di rumah, sekolah, tempat kerja, pasar, halte, stasiun dan sebagainya. Selalu ada 2 orang dalam hal siapa yang memegang tali kekang. Seorang yang dominan adalah yang memegangnya dan seorang lemah adalah yang dikendalikannya.

Semua keputusan berada di tanganmu. Kamu mau pilih yang mana?

###

Perlu motivasi lainnya? Klik di sini

23 thoughts on “Melepas Tali Kekang

  1. ini hampir selalu terjadi pada saya, kalau orang dekat minta tolong bantuan ini itu, susah sekali bilang tidak, biarpun ingin menolak, tali kekang sialan!

      1. ini persis seperti episode spongebob yg kesulitan untuk bilang ‘tidak’ pada gerry siput yg terus merengek minta dibelikan snack snailbite yang pabriknya sudah tutup 😂😂

          1. Wah, biasa aza kali, tak usah terlalu dituakan nanti jadi makin cepat tua pula aku karena dituakan ha ha ha.
            Btw, kelahiran 87 ya? Seusia adekku yg paling kecil😀😃

  2. Kita memang perlu belajar mengatakan “TIDAK”. Adakalanya perlu dijelaskan adakalanya tdk perlu. Dengan catatan : tetap hati2 agar tdk menimbulkan kesalahpahaman.😁

    Nice article, Kang Fahmi.

  3. Tulisan yang sangat menarik, Kak.

    Berani untuk berkata ‘tidak’ dan mempertanggungjawabkannya. Ini juga adalah bagian penting dari ekspresi tanda cinta kepada orang yang dikasihi.

    Ngomong-ngomong, template blog-nya baru ya, kereeen!

  4. Menurutku, selama dikomunikasikan dengan baik, kata “tidak” tak jadi masalah. Asal berani mengambil keputusan apapun resikonya.

    Pernah dapat tawaran kerja di pulau sebelah dengan tawaran yang cukup menggiurkan secara materi. Aku tolak, tak sanggup rasanya jauh dari keluarga dengan kondisi anak yang masih butuh seorang ibu.

Comments are closed.