Bukan Lagu Valentine

Kadang-kadang manusia melakukan kesalahan bukan karena ketidaktahuan atau kurang ilmu. Seseorang yang bahkan sudah mengetahui sesuatu itu salah tetapi tetap ia lakukan. Apalagi jika motivasinya adalah cinta. Maka sebutan cinta itu virus, racun, atau buta memang pantas. Ketika mabuk kepayang karena cinta, seseorang bisa melakukan apa saja untuk menyenangkan orang yang ia cintai. Misalnya momen Valentine yang jatuh pada tanggal 14 Februari. Bodohnya, aku juga pernah mengalami hal ini.

Usia remaja, darah muda serta semangat membara menjadi bahan bakar alami ketika melakukan pendekatan kepada perempuan yang disukai. Istilahnya gebetan atau calon pacar.

Berlabel Hari Kasih Sayang, tanggal 14 Februari menjadi target empuk tidak hanya para bucin (budak cinta) melainkan tim marketing dari beragam bidang usaha. Hari Valentine identik dengan cokelat, bunga, surat dan amplop khusus membuat para penjualnya banjir order. Apalagi sekarang banyak bonus atau promo tertentu saat Hari Valentine di platform marketplace. Barang-barang yang dijual menjadi lebih murah dari biasanya. Dan siapa target pasar mereka? Para bucin silakan acungkan tangannya!

Aku masih ingat hari itu, ketika jantung berdegup lebih cepat. Tangan kananku membawa satu bungkus cokelat berbentuk segitiga memanjang dan sebuah amplop kecil yang di dalamnya berisi sepucuk surat yang kutulis semalaman serta sebuah pita warna merah untuk mengikatnya supaya tidak lepas. Sementara tangan kiri bertugas sebagai pengelap keringat yang bercucuran secara perlahan. Dari dahi, pipi bahkan tengkuk pun ikut-ikutan basah.

Pagi hari, sebelum semua siswa datang, aku mendekati tempat duduk Tania –sebut saja dia begitu-. Cokelat dan sepucuk suratnya kumasukkan ke laci meja. Tapi kenapa cokelatnya tak muat? Saat kulihat, ternyata di dalamnya sudah ada cokelat. Kira-kira empat atau lima. Aku tak terlalu ingat. Saat tertegun dan meresapi kenyataan yang sedang terjadi itu Tania masuk ke dalam kelas. Ia melihatku seperti pria tolol yang terciduk sedang melakukan hal buruk di mejanya. Aku malah celingak-celinguk, menggaruk kepala yang tak gatal lantas pergi ke luar kelas. Aku tinggalkan Tania tanpa sepatah kata, Tania heran. Mungkin di kepalanya ada begitu banyak pertanyaan. Atau, ia tak peduli sama sekali.

Sekarang, aku memandang tanggal 14 Februari itu tak beda dari hari lainnya. Apalagi setelah mengetahui sejarah kelam dan tragis di balik peristiwa lampau kala itu. Bagiku, kasih sayang bisa diekspresikan setiap hari tanpa mesti menunggu tanggal 14 Februari. Sudut pandang ini bahkan menjadi lebih berubah ketika aku sudah menikah. Kebersamaan dengan anak dan istri itu jauh lebih berharga daripada perayaan Valentine yang hanya satu hari. Sama seperti Hari Ayah atau Hari Ibu. Sebagai anak, seseorang tak perlu menunggu tanggal tersebut untuk membuktikan baktinya kepada orang tua.

Untukmu yang masih merayakan hari Valentine, sadarlah bahwa ungkapan kasih sayang itu tidak hanya terjadi di satu hari pada tanggal 14 Februari. Untukmu yang masih pacaran dan menjadikan momen Hari Valentine untuk berbuat mesum, percayalah, setelah kamu menikah kamu bisa melakukannya semaumu dengan pasangan halal. Untukmu yang masih tak peduli tentang hal ini, sebaiknya kamu dengarkan Bukan Lagu Valentine dari Fiersa Besari. Itu adalah sebuah gambaran tentang bagaimana seharusnya sepasang insan manusia menilai tanggal 14 Februari. Ah iya, ada pula parodi dari lagu ini yang dibuat oleh Dzawin Nur. Liriknya usil, kocak tapi dalam.

Salam.

Bukan Lagu Valentine – Fiersa Besari
Bukan Lagu Valentine – Dzawin Nur (cover parody)

###

View My Daily Post

One thought on “Bukan Lagu Valentine

Comments are closed.