Anosmia

Halo, Sahabat!

Apa kabarmu hari ini? Semoga kita senantiasa diberikan kesehatan karena di masa pandemi ini sehat adalah sesuatu yang mahal dan berharga.

Berita soal COVID sudah sering kita dengar, baca dan tonton. Salah satu gejala COVID yang beredar di masyarakat yaitu jika seseorang sedang tidak bisa mencium bebauan maka ia harus berhati-hati. Dan, aku ada cerita tentang hal ini.

Saat kemarin sakit, aku dirawat di rumah Ibu di kampung halaman. Sakit yang aku derita adalah GERD. Tapi warga, khususnya tetangga sudah berburuk sangka kepadaku karena mengira aku terpapar corona.

(Hellooo… kamu bukan dokter, dari mana tahu seseorang covid atau bukan hanya dari sekilas pandang?)

Pertama datang ke rumah, Teteh langsung memanggil dokter untuk memeriksa. Diagnosanya adalah asam lambung naik atau GERD. Dokter tidak menyarankan aku untuk swab test karena suhu badan masih panas. Aku kesal karena Kepala Dusun atau disebut Punduh keukeuh menyuruhku swab.

Sekitar sepuluh hari kemudian, saat tubuh sudah lebih baik, aku datang ke klinik terdekat untuk diperiksa. Selain diberi obat untuk GERD, aku meminta untuk dilakukan swab test. Dan alhamdulillah, hasilnya negatif. Sesampainya di rumah aku langsung minta Teteh untuk memberitahu si Punduh tentang hasil milikku itu.

Pada pos ini, aku tak akan bahas lebih lanjut perihal kesotoyan si Punduh, tapi ada sesuatu hal lain. Ketika dites swab, sebelum hidungku dicolok, aku diminta untuk mencium bebauan dari beberapa toples kecil. Aku disuruh untuk menebak bau apa itu. Ibarat lolos tes CPNS, aku senang bisa menyebutkan bau yang benar.

Usai dari sana, aku penasaran tentang hal ini. Memang penting ya harus mengetahui apakah kita bisa mencium bebauan atau tidak? Jawabannya, iya. Dan, itu ada istilahnya yaitu anosmia.

Anosmia adalah hilangnya kemampuan seseorang untuk mencium bau. Kondisi ini juga dapat menghilangkan kemampuan penderitanya untuk merasakan makanan.

Kehilangan kemampuan indera penciuman atau anosmia dapat memengaruhi hidup seseorang. Selain tidak bisa mencium bebauan dan merasakan makanan, kondisi ini dapat memicu hilangnya nafsu makan, penurunan berat badan, malnutrisi, hingga depresi.

Proses penciuman terjadi ketika bau yang masuk ke dalam hidung diterima oleh sel-sel saraf pembau. Sel-sel saraf pembau ini kemudian mengirim sinyal tersebut ke otak untuk diolah dan dikirimkan kembali sehingga bau terindentifikasi.

Gejala anosmia adalah hilangnya kemampuan untuk mencium bau. Sebagai contoh, anosmia bisa membuat penderitanya tidak bisa mencium wangi bunga atau bau tubuh sendiri. Bahkan, bau sesuatu yang menyengat seperti asap kebakaran atau gas yang bocor.

Periksakan ke dokter jika muncul keluhan tidak bisa mencium bau, terutama bila kamu tidak menderita pilek atau flu dan keluhan tersebut berlangsung lama. Atau jika kamu tiba-tiba tidak bisa mencium bau yang disertai gejala pusing, lemah otot dan bicara yang kurang jelas.

Semoga kita tetap sehat ya, Sahabat!

###

Informasi selengkapnya bisa kamu baca di alodokter

Yuk, baca pos menarik lainnya di sini.

Apa komentarmu tentang pos ini?

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s