Cinta Monyet

Hai, Sahabat! Apa yang kamu pikirkan ketika mendengar kata Cinta Monyet? By the way, kita tidak sedang bicara soal cintanya seseorang kepada hewan (dalam hal ini adalah monyet), melainkan sebuah istilah hubungan antara lelaki dan perempuan dalam fase awal percintaan.

Secara sederhana Cinta Monyet dapat diartikan sebagai bentuk cinta seseorang kepada lawan jenisnya untuk pertama kali dan ia tak tahu harus berbuat apa. Hal ini memberikan kesan betapa tingkahnya norak, konyol bahkan gila sebab ia kurang pengalaman dan belum tahu banyak hal tentang bagaimana cara mendekati si gebetan (orang yang ia taksir).

Aku juga berpikir mengenai nama hewan yang disematkan di belakang kata ‘cinta’. Kenapa mesti monyet yang dipilih? Apakah si penemu istilah ini dulunya sering berkunjung ke kebun binatang atau hutan? Atau mungkin saat ia kasmaran, di rumahnya terdapat hewan peliharaan dari kelas primata. Apa kau tahu alasannya?

Jika menelisik dari perilaku gerombolan monyet secara umum, tingkah laku mereka itu konyol, sering tertawa dan berteriak tanpa sebab, melakukan hal-hal gila demi sesuatu misal makanan. Mereka juga berpikiran pendek karena yang dipikirkan adalah bagaimana cara mengamankan pasokan makanan bahkan kalau perlu tega merebut dari monyet lain. Tentu tak semua monyet seperti itu. Karena ada pula monyet cerdas seperti Simpanse yang disebut-sebut peneliti memiliki kemiripan struktur otak 98% dengan manusia.

Kembali ke soal di atas, sepertinya penyematan nama monyet dalam istilah Cinta Monyet lebih cenderung dipilih karena tingkah konyolnya. Waktu aku SD, di kelas 6 teman-teman siswi yang sekelas sudah mulai dewasa. Beberapa di antara mereka ada yang sudah mengalami siklus haid dan pertumbuhan buah dada yang signifikan. Dan secara naluri para bocah yang beranjak remaja ini ada yang sudah mengenal apa itu dandan. Mereka kreatif. Bisa belajar dari ibu, kakak atau sepupunya yang perempuan. Atau jika di era milenial seperti sekarang, sudah banyak beauty vloger dan MUA (make up artist) dadakan yang menebar ragam tips dan trik berdandan.

Saat para siswi sudah mulai dewasa dengan perubahan bentuk fisiologis tubuh dan psikologisnya, kami para siswa masih bertahan di posisi sama. Masih tolol dan tak tahu bagaimana cara memperlakukan perempuan. Yang kami tahu adalah menjaili mereka, iseng, kadang-kadang sampai merundungnya tapi kami senang. Tertawa-tawa dan bahagia melihat teman siswi sekelas diperlakukan seperti itu.

Tentu ada saja siswi yang berani dan balas melawan kelakuan para siswa. Seperti jika ada siswi yang dijaili dengan menaruh sisa permen karet di kursinya sehingga ketika diduduki dan bangkit si permen karet itu akan melekat erat pada rok merahnya. Dan bagi kalangan siswi yang pemberani, akal jail terlintas pula di pikirannya. Ia akan mengambil penghapus papan tulis kapur (waktu aku kecil belum ada papan tulis putih dan spidol) lalu menempelkannya di pipi siswa jail tadi. Ah, tidak berhenti hingga di sana. Rambut hitamnya pun tak luput menjadi sasaran empuk. Plus celana pendek warna merah menjadi target berikutnya. Dan suasana kelas menjadi riuh-rendah, berantakan, tidak karuan. Yang kami lakukan berikutnya adalah tertawa sebelum datang guru, lengkap dengan omelan dan mistar kayu panjang yang diacung-acungkan.

Pun demikian, benih-benih cinta bisa dirasakan pada anak-anak semi remaja ini. Cinta monyet itu datang juga kepadaku. Di kelas 6, tak akan pernah aku lupa, ada siswi yang aku sukai. Alasannya cukup konyol karena nama dia sama-sama berawal huruf F. Selain itu orangnya kalem dan lembut. Kalau dia senyum luluhlah semua pertahananku. Kalau berpapasan dengannya aku selalu degdegan. Jauh lebih berdebar dibandingkan biasanya. Seolah-olah ada tukang pemukul bedug yang tinggal di jantungku.

Namun semakin aku mengenal dan mengikuti semua informasi darinya, aku patah hati untuk pertama kali. Bukan karena cinta ditolak sebab aku belum sempat menyatakannya, melainkan sebuah tradisi di kampung halamanku. Jika ada orang tua yang memiliki anak gadis, lalu ada lelaki yang berkeinginan untuk meminangnya, ditambah si lelaki merupakan bagian dari keluarga terpandang di kampung, maka sudah bisa dipastikan anak gadis itu akan dijodohkan. Dan itu yang terjadi kepadanya.

Bagi beberapa orang tua di kampungku, terutama mereka yang masuk dalam kalangan ekonomi lemah dan memiliki anak gadis maka semakin cepat dipinang orang semakin baik. Perjodohan macam ini lumrah terjadi di era aku masih kecil (entah sekarang apakah sudah berubah). Bahkan saat aku lulus SMA, hanya 3 orang (termasuk aku) dari teman sekelas lulusan SD yang belum menikah. Ada teman-temanku yang menikah/dinikahkan usai lulus SD, SMP, atau SMA. Beragam. Tergantung syarat dan kondisinya.

Memang tak semua menikah lantaran dijodohkan, ada juga yang jatuh cinta kepada lawan jenis yang berusia di atasnya. Jika teman-temanku semasa SD menikah itu sebelum umur mereka 18 tahun maka aku menikah di usia 28. Menikah bukan soal siapa yang cepat menuju ke pelaminan tetapi tentang keberkahan setelah acara resepsi. Kehidupan seseorang baru akan masuk ke babak baru setelah menikah. Dikatakan bahwa orang yang menikah itu menyempurnakan agamanya. Karena dari lahir hingga saat memikah, ia sudah menjalani sebagian kehidupannya. Sebagian lagi ia jalani usai melangsungkan resepsi.

Tentang Cinta Monyet yang kita bahas di atas, ada satu pertanyaan yang naik ke permukaan. Bisakah Cinta Monyet itu serius?

Berkaca dari pengamatan dan pengalaman dari masa kecil hingga sekarang, Cinta Monyet bisa serius jika terdapat hal-hal berikut:

  1. Kecocokan mental, yaitu kondisi ketika seseorang bisa menjadi dirinya sendiri di depan orang (si pasangan). Sudah tidak merasa malu untuk melakukan apa saja.
  2. Perilaku yang mirip (pada pasangan) dengan orang yang ia kagumi. Misal ia (perempuan) mengagumi lelaki yang baik hati dan santun seperti bapaknya. Atau ia (lelaki) menyukai perempuan yang sangat perhatian layaknya sang ibu.
  3. Tingkat kenyamanan (level of comfort) yaitu keadaan ketika sesorang merasa nyaman dekat pasangan.

Seseorang yang sudah kenal cukup lama (karena cinta monyet saat remaja) memiliki potensi untuk menjadi cinta yang serius (berujung ke pernikahan) jika mereka memiliki ketiga hal di atas.

Apakah kamu pernah mengalami Cinta Monyet? Atau malah pernah merasakan cinta yang lebih besar seperti yang dialami oleh Raditya Dika yaitu Cinta Brontosaurus? Yuk ceritakam Cinta Monyet versimu di kolom komentar!

Dadah!

###

Cari motivasi lainnya di sini.

3 thoughts on “Cinta Monyet

Apa komentarmu tentang pos ini?

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s