QRIS

Zaman telah berubah secara drastis, baik kita sadari atau tidak. Perkembangan teknologi dari masa ke masa telah membuat banyak perubahan besar. Misalnya dalam hal transaksi jual-beli yang dilakukan setiap hari oleh manusia di Bumi.

Dulu kita pernah menggunakan sistem barter barang untuk mendapatkan sesuatu, kemudian beralih ke uang logam dan kertas. Kini pembayaran terhadap suatu barang bisa dilakukan tanpa uang tunai (cashless). Sebut saja GoPay, OVO atau LinkAja yang memudahkan penggunanya membayar sesuatu tanpa harus repot membawa uang di dompetnya.

Dan tahukah kamu, ternyata ada hal terbaru yang sedang dan akan terus digarap oleh Bank Indonesia yang berkaitan dengan metode pembayaran cashless? Namanya adalah QRIS. Bukan keris ya. Hehe…

Quick Response Code Indonesian Standard atau biasa disingkat QRIS (dibaca KRIS) adalah penyatuan berbagai macam QR dari berbagai Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran (PJSP) menggunakan QR Code. QRIS dikembangkan oleh industri sistem pembayaran bersama dengan Bank Indonesia agar proses transaksi dengan QR Code dapat lebih mudah, cepat, dan terjag​a keamanannya. Semua Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran yang akan menggunakan QR Code Pembayaran wajib menerapkan QRIS.

Layanan sektor keuangan dan pembayaran berbasis non tunai bermanfaat bagi ekonomi dan masyarakat. Di antara manfaatnya adalah efisiensi dan efektivitas layanan pembayaran non tunai di sektor retail yang inklusif khususnya segmen mikro, mengakselerasi berbagai program terkait keuangan inklusif dan non tunai serta mendorong kolaborasi di ekosistem pembayaran.
Hal tesebut mendorong BI untuk mencari strategi dan cara yang sesuai agar transaksi retail dapat dilakukan secara non tunai dengan cepat dan praktis antara lain dapat dilakukan dengan QR Code.
QR Code payment dapat menjadi salah satu insiatif Indonesia dalam menyongsong ekonomi digital karena banyak turunan transaki digital lainnya yang dapat dikembangkan berdasarkan data transaksi customer dari QR Code payment tersebut.

Standarisasi QR Code dengan QRIS memberikan banyak manfaat, antara lain:

Bagi pengguna aplikasi pembayaran: just scan and pay!

  1. Cepat dan kekinian.
  2. Tidak perlu repot lagi membawa uang tunai.
  3. Tidak perlu pusing memikirkan QR siapa yang terpasang.
  4. Terlindungi karena semua PJSP penyelenggara QRIS sudah pasti memiliki izin dan diawasi oleh Bank Indonesia.

Bagi Merchant:

  1. Penjualan berpotensi meningkat karena dapat menerima p​embayaran berbasis QR apa pun.
  2. Meningkatkan branding.
  3. Kekinian.
  4. Lebih praktis karena cukup menggunakan satu QRIS.
  5. Mengurangi biaya pengelolaan kas.
  6. Terhindar dari uang palsu.
  7. Tidak perlu menyediakan uang kembalian.
  8. Transaksi tercatat otomatis dan bisa dilihat setiap saat.
  9. Terpisahnya uang untuk usaha dan personal.
  10. Memudahkan rekonsiliasi dan berpotensi mencegah tindak kecurangan dari pembukuan transaksi tunai.
  11. Membangun informasi credit profile untuk memudahkan memperoleh kredit kedepan.​

###

Baca info selengkapnya dari Bank Indonesia

Baca pos menarik lainnya di sini.

Bumi Tanpa Kamu

Hai, Sahabat! Bisakah kamu hitung sudah berapa hari, bulan atau tahun sejak kemunculan virus corona hingga hari ini (September 2021)?

Dengan adanya pandemi ini telah banyak merenggut nyawa manusia di seluruh penjuru Bumi. Bukan hanya mereka yang telah tiada, manusia yang masih berjuang untuk bertahan hidup pun tak luput dari ancaman virus ini. Selain harus taat protokol kesehatan dengan segala keruwetannya, banyak dari kita yang terjungkal lantaran masalah ekonomi. Urusan perut tak bisa menunggu. Orang yang lapar bisa nekat berbuat apa pun. Kalau pemerintah belum bisa mengurus hingga ke level mendasar ini, maka jangan salahkan kalau rakyatnya berteriak. Meskipun mirisnya saat ini cara untuk mengekspresikan diri tampak terbatas.

Selain corona, Bumi yang kita tinggali ini memiliki banyak masalah lain. Masalah yang juga tidak kalah pentingnya selain menjaga kesehatan masing-masing orang. Pernah aku dengar sebuah pendapat liar tentang corona. Dikatakan bahwa corona muncul sebagai metode pembersihan Bumi terhadap dirinya sendiri. Karena disadari atau tidak, kerusakan di muka Bumi ini selalu ada campur tangan manusia.

Dunia sedang menghadapi tantangan sumber daya alam dan lingkungan yang sangat serius seperti perubahan iklim, mencairnya es di kutub, penangkapan ikan yang berlebihan di laut, penggundulan hutan, polusi udara dan air, perjuangan untuk makan setiap hari dan masalah sampah yang tak kunjung usai. Semua tantangan ini diperburuk oleh permintaan yang terus meningkat – selama 40 tahun ke depan diperkirakan permintaan air bersih akan meningkat 50%, permintaan makanan akan meningkat 70%, dan permintaan energi akan hampir dua kali lipat – semuanya dalam periode yang sama.

Jika kita fokus pada satu masalah saja misal tentang sampah, maka urusan ini pun bukan masalah kecil yang mesti dihadapi. Masalah sampah tidak kunjung selesai hampir di setiap daerah. Tidak usah jauh, di lingkungan sekitar rumah ibuku seperti itu. Para warga membuang sampah ke sungai.

Beberapa daerah ada tempat penampungan sampah yang berujung pembakaran. Ada tempat yang menyediakan mesin daur ulang sampah. Ada juga tempat penampungannya yang terlalu penuh hingga sampah menggunung. Dan semua itu masih belum selesai.

Masalah sampah masih menghantui lingkungan kita. Bisakah kita setertib negara-negara maju dalam mengelola sampah?

Jawabannya, bisa. Untuk mewujudkan kota bebas sampah mesti didukung oleh semua faktor. Masyarakatnya yang sadar lingkungan, ketersediaan tempat sampah di rumah, pemilahan jenis sampah, pengangkutan sampah ke tempat penampungan akhir. Di sana sampah dipilah sekali lagi untuk didaur ulang, ditimbun, dibakar atau difungsikan dalam kreasi bentuk barang yang baru

Jika satu masalah sampah ini selesai, maka kita, umat manusia ini setidaknya bisa mengurangi satu beban Bumi. Kita tidak bisa asal pindah planet dengan alasan tidak betah tinggal di Bumi dengan segudang masalahnya.

Semua masalah ini, meskipun sangat berat dipikul, namun kita harus tetap mengatasinya. Minimal, untuk urusan sampah ini kita mesti menaruh perhatian lebih. Misal sampah-sampah di rumah itu sudah dipilah dan dipilih sebelum diangkut ke tempat penampungan akhir.

Kita berdoa suatu nanti Bumi ini bisa bersih dari sampah dan segala permasalahan lainnya. Sampah itu ibarat racun yang menyebar ke dalam tubuh. Ia mesti diserap habis lalu dibuang karena merusak. Kita berharap Bumi bisa kembali sehat.

Bumi tanpa sampah bisa jauh lebih baik. Kita pasti bisa.

“Bumi bisa hidup tanpa kamu, sampah!”

###

Pos lainnya ada di sini.

Wanita Penakluk

Pernah mendengar sebuah perkataan yang berbunyi, “Di balik suami yang hebat ada istri di belakangnya (yang mendukungnya).” Apakah terdengar semacam joke bapak-bapak belaka? Kalau dipikirkan lebih jauh, perkataan itu ada benarnya. Seorang lelaki hebat memiliki orang terdekat yang mendukungnya di segala aspek kehidupan. Dalam hal ini adalah pasangan hidupnya yaitu sang istri. Pertanyaannya adalah tipe wanita apa yang bisa menjadi istri yang seperti itu?

Jawabannya bisa beragam dari mulut setiap orang. Tapi kalau pertanyaan itu datang kepadaku, maka kujawab, “Itu adalah tipe wanita penakluk.”

Wanita tipe penakluk ialah wanita yang jika bertemu dengan lelaki, maka lelaki tersebut mudah takluk kepadanya. Namun, wanita dengan kualitas seperti ini tidak menaklukkan semua laki-laki. Tidak sembarang orang. Wanita smart tidak menaklukkan laki-laki yang tidak pantas untuk ditaklukkan.. Dia akan menaklukkan laki-laki yang dihebatkan dan menghebatkannya.

Untuk mengetahui seperti apa wanita penakluk, mari kenali sifat-sifat yang dimiliki olehnya.

MENGENALI IMPIAN LAKI-LAKI

Sifat pertama yaitu wanita penakluk bisa mengenali impian laki-laki yang akan ditaklukkannya. Wanita ini membaca dan mencari tahu apa yang diimpikan oleh lak-laki tersebut.

Misal, laki-laki ini ingin wanita yang tidak banyak bicara, jadi dia diam. Ingin yang anggun, dia menjadi anggun. Dia menyesuaikan diri. Laki-laki ini suka dengan wanita yang bisa marah. Maka dia marah secukupnya.

Atau laki-lakii ini dekat dengan ibunya. Ibunya sering mengomeli tapi dengan cara yang anggun, maka ditirulah cara tersebut. Jadi laki-laki ini akan melihat, “Ini wanita idaman saya.” Padahal wanita itu telah membaca yang didamkan oleh laki-laki.

MENJADI SEPERTI YANG DIIDAMKAN LAKI-LAKI

Wanita idaman laki-laki memiliki formulanya. Ada formula lazim dan umum. Pun ada formula khusus. Seperti menginginkan wanita yang mendebarkan, tapi ada yang lebih memilih wanita yang anggun, mandiri dan rajin. Ada juga laki-laki yang menyukai wanita yang belanjanya di mall karena kelihatannya keren. Selera laki-laki itu berbeda-beda. Tapi wanita penakluk akan bisa membaca dan mengenali dan menjadi seperti impian laki-laki tersebut.

Lihat, kenapa dia bisa menjadi wanita yang hebat? Karena kalau dia baca dan tidak cocok maka akan ditinggalkan si laki-laki itu. Misal, “Tidaklah pantas kalau saya harus menyesuaikan diri dengan impiannya dan saya menjadi wanita yang murah. So, he’s not for me.”

Dibutuhkan konsistensi bagi wanita oenakluk agar bisa menjadi apa yang diinginkan oleh pasangannya. Dia melakukannya dalam kehidupan sehari-hari tanpa kepura-puraan. 

MEMBIARKAN LAKI-LAKI MERASA BERKUASA

Wanita dengan sifat ini tentulah wanita yang kuat. Dia akan memasang posisi seolah-olah orang yang lemah dan dikendalikan. Jadi laki-lakinya merasa berkuasa. Tetapi tidak lama setelah itu wanita penakluk akan melakukan hal-hal yang membuat laki-laki menurut kepadanya. Dan si lelalki masih tetap merasa berkuasa.

MELATIH LAKI-LAKI BERGANTUNG KEPADANYA

Setelah mengenali impian laki-laki, menjadi seperti yang diidamkan laki-laki dan membiarkannya merasa berkuasa, selanjutnya wanita penakluk akan mengurusi segala urusan laki-laki itu supaya ia bergantung kepadanya.

Wanita penakluk ini akan mengalah kepada laki-laki yang berkualitas (yang ditaklukkannya). Ia tidak masalah saat mengurusi segala keperluan si laki-laki. Menjadi istri dari seorang suami yang sukses jauh lebih baik daripada yang tidak.

Wanita penakluk mau melakukan dan memberesi segala hal yang diperlukan oleh laki-lakinya hingga laki-laki itu bergantung kepadanya. Laki-lakinya itu tidak bisa memutuskan tanpa bertanya kepada si wanita karena wanita inilah yang melakukan urusannya sekarang. Setelah ketergantungan ini ada, maka disiapkanlah cengkeramannya. Dia menguasai laki-laki itu hingga sesuai dengan yang diinginkan olehnya.

Kalau laki-lakinya lemah dari awal, maka ia akan rusak. Tapi jika laki-laki yang dipilihnya itu seorang yang hebat, maka si laki-laki akan semakin hebat daripada sebelumnya dengan dukungan si wanita. Yang lebih hebatnya lagi, dalam kekuasannya sang wanita, ia masih bisa membuat laki-laki itu merasa dialah yang berkuasa.

###

(SUMBER : Channel Youtube – Mario Teguh)

Perlu motivasi lainnya? Klik di sini.

Anosmia

Halo, Sahabat!

Apa kabarmu hari ini? Semoga kita senantiasa diberikan kesehatan karena di masa pandemi ini sehat adalah sesuatu yang mahal dan berharga.

Berita soal COVID sudah sering kita dengar, baca dan tonton. Salah satu gejala COVID yang beredar di masyarakat yaitu jika seseorang sedang tidak bisa mencium bebauan maka ia harus berhati-hati. Dan, aku ada cerita tentang hal ini.

Saat kemarin sakit, aku dirawat di rumah Ibu di kampung halaman. Sakit yang aku derita adalah GERD. Tapi warga, khususnya tetangga sudah berburuk sangka kepadaku karena mengira aku terpapar corona.

(Hellooo… kamu bukan dokter, dari mana tahu seseorang covid atau bukan hanya dari sekilas pandang?)

Pertama datang ke rumah, Teteh langsung memanggil dokter untuk memeriksa. Diagnosanya adalah asam lambung naik atau GERD. Dokter tidak menyarankan aku untuk swab test karena suhu badan masih panas. Aku kesal karena Kepala Dusun atau disebut Punduh keukeuh menyuruhku swab.

Sekitar sepuluh hari kemudian, saat tubuh sudah lebih baik, aku datang ke klinik terdekat untuk diperiksa. Selain diberi obat untuk GERD, aku meminta untuk dilakukan swab test. Dan alhamdulillah, hasilnya negatif. Sesampainya di rumah aku langsung minta Teteh untuk memberitahu si Punduh tentang hasil milikku itu.

Pada pos ini, aku tak akan bahas lebih lanjut perihal kesotoyan si Punduh, tapi ada sesuatu hal lain. Ketika dites swab, sebelum hidungku dicolok, aku diminta untuk mencium bebauan dari beberapa toples kecil. Aku disuruh untuk menebak bau apa itu. Ibarat lolos tes CPNS, aku senang bisa menyebutkan bau yang benar.

Usai dari sana, aku penasaran tentang hal ini. Memang penting ya harus mengetahui apakah kita bisa mencium bebauan atau tidak? Jawabannya, iya. Dan, itu ada istilahnya yaitu anosmia.

Anosmia adalah hilangnya kemampuan seseorang untuk mencium bau. Kondisi ini juga dapat menghilangkan kemampuan penderitanya untuk merasakan makanan.

Kehilangan kemampuan indera penciuman atau anosmia dapat memengaruhi hidup seseorang. Selain tidak bisa mencium bebauan dan merasakan makanan, kondisi ini dapat memicu hilangnya nafsu makan, penurunan berat badan, malnutrisi, hingga depresi.

Proses penciuman terjadi ketika bau yang masuk ke dalam hidung diterima oleh sel-sel saraf pembau. Sel-sel saraf pembau ini kemudian mengirim sinyal tersebut ke otak untuk diolah dan dikirimkan kembali sehingga bau terindentifikasi.

Gejala anosmia adalah hilangnya kemampuan untuk mencium bau. Sebagai contoh, anosmia bisa membuat penderitanya tidak bisa mencium wangi bunga atau bau tubuh sendiri. Bahkan, bau sesuatu yang menyengat seperti asap kebakaran atau gas yang bocor.

Periksakan ke dokter jika muncul keluhan tidak bisa mencium bau, terutama bila kamu tidak menderita pilek atau flu dan keluhan tersebut berlangsung lama. Atau jika kamu tiba-tiba tidak bisa mencium bau yang disertai gejala pusing, lemah otot dan bicara yang kurang jelas.

Semoga kita tetap sehat ya, Sahabat!

###

Informasi selengkapnya bisa kamu baca di alodokter

Yuk, baca pos menarik lainnya di sini.

7 Makanan Sehat untuk Penderita GERD

Awal bulan Juli kemarin, setidaknya hingga 21 hari, aku terkapar lemah di pembaringan lantaran penyakit asam lambung. Lemas, mual dan tak ada selera makan. Itu yang aku rasakan. Asam lambung naik atau GERD ini sudah dua kali aku alami. Semoga ini menjadi yang terakhir.

GERD (gastroesophageal reflux disease) atau penyakit asam lambung disebabkan oleh melemahnya katup atau sfingter yang terletak di kerongkongan bagian bawah.

Normalnya, katup ini akan terbuka untuk memungkinkan makanan serta minuman masuk menuju lambung dan dicerna. Setelah makanan atau minuman masuk ke lambung, katup ini akan tertutup kencang guna mencegah isi lambung kembali naik ke kerongkongan.

Namun pada penderita GERD, katup ini melemah, sehingga tidak dapat menutup dengan baik. Hal ini mengakibatkan isi lambung yang berisi makanan dan asam lambung naik ke kerongkongan.

Apabila kondisi ini terjadi terus-menerus, lapisan kerongkongan akan mengalami iritasi hingga peradangan dan lama kelamaan menjadi lemah.

Gambar dari Axa

Ketika sedang sakit memang nikmatnya sehat menjadi cita-cita. Setelah sekarang sembuh, aku lebih menghargai betapa mahal dan berartinya sehat bagi tubuh. Salah satu cara supaya tetap sehat dan mencegah GERD kambuh adalah dengan disiplin menyantap makanan yang aman untuk lambung.

Ada banyak makanan, terutama yang berbahan dasar dari tumbuhan, yang dianjurkan untuk dikonsumsi oleh penderita GERD. Namun pada pos ini hanya dibahas 7 jenis makanan.

NASI

Mengkonsumsi nasi merupakan pilihan yang baik karena tahan lama alias tidak cepat lapar. Kalau tubuh masih menolak, bisa dengan membuat bubur. Buburnya yang normal saja ya. Tidak perlu pakai topping yang macam-macam dan bumbu-bumbu yang berlebihan.

Saat sakit kemarin, keinginan makan saja hampir hilang. Yang ada hanya mual. Padahal perut kosong dan lambung perlu mencerna makanan. Jika tak ada makanan yang dimakan maka tubuh makin lemas dan masa penyembuhan masih akan lama tercapainya.

Saran dari dokter waktu itu yaitu aku harus tetap makan. Kalau belum bisa makan dengan porsi normal, makanlah sedikit-sedikit saja namun sering.

Aku makan setengah centong nasi setiap kali makan. Bahkan kadang-kadamg tidak habis. Lauknya pun urung kuhabiskan. Tapi sesuai petunjuk dokter, aku tetap makan sekitar 3 atau 4 jam kemudian. Jangan sampai perut tidak terisi sama sekali. Alhamdulillah, berangsur-angsur kondisiku membaik disertai meminum obat dari dokter.

NASI TIM

Pilihan lainnya adalah nasi tim. Nasi tim adalah hidangan berupa nasi dan ayam berbumbu gurih yang dikukus. Dalam bahasa Indonesia istilah “tim” mungkin berasal dari bahasa Inggris steam yang berarti dikukus.

Bahan-bahannya adalah daging ayam tanpa tulang, jamur, dan telur ayam rebus, semuanya dibumbui bawang putih dan kecap asin. Bahan-bahan tersebut diletakkan di dalam mangkuk logam; dari bahan aluminium, baja tahan karat, atau kaleng. Mangkuk logam ini kemudian diisi nasi hingga padat, kemudian diletakkan di dalam panci pengukus, dan dikukus hingga matang. Masakan ini biasanya disajikan dengan sup bening kaldu ayam ditaburi daun bawang.

Sama seperti bubur, jangan terlalu banyak topping dan bumbu yang macam-macam. Tujuannya adalah membuat tubuhmu bisa diasupi nutrisi dari makanan yang kamu konsumsi.

OATMEAL

Oatmeal terbuat dari oat yang direbus bersama dengan air atau susu. Oat (Avena sativa) diklaim sebagai salah satu biji-bijian tersehat di dunia yang bebas gluten dan memiliki sumber vitamin, mineral, serat, dan antioksidan yang tinggi.

Oatmeal merupakan oat groats yaitu oat meal, corn meal dan pease meal yang dihaluskan. Berbentuk bubuk dengan serpihan kasar. Aromanya gurih wangi seperti susu atau gandum. Ada yang disebut quick oat karena sudah dipotong serpihannya dan dikukus sehingga cepat matang jika dimasak. Ada juga yang instant oat yaitu yang bisa langsung dimakan. Jenis ini biasanya sudah ditambahkan gula dan perasa buah-buahan.

ROTI GANDUM

Pilihan terbaik adalah roti gandum utuh (whole wheat bread) yang dibuat dari tepung biji gandum utuh dengan tekstur agak kasar. Pada sebagian negara, roti gandum dilengkapi dengan biji-bijian di atasnya untuk tampilan yang lebih menarik, sekaligus menambah kandungan nutrisi.

Biji gandum utuh memiliki tiga lapisan secara lengkap, yaitu dedak, endosperma, dan benih. Roti tawar putih yang paling banyak ditemukan di Indonesia, membuang bagian dedak dan benih, sehingga nutrisi penting yang terkandung di dalamnya pun ikut hilang. Roti tawar putih terbuat dari tepung gandum putih, yaitu biji gandum yang hanya diambil bagian endosperma-nya dan diberi pemutih.

Selain sebagai sumber karbohidrat yang cocok untuk sarapan, roti gandum yang terbuat dari biji gandum utuh juga mengandung lebih banyak serat dibanding roti tawar putih. Roti jenis ini diketahui memiliki banyak kandungan nutrisi yang bermanfaat untuk tubuh, seperti protein, antioksidan, mineral termasuk zat besi, magnesium, kalsium, fosfor, kalium, sodium, dan zinc, serta vitamin B, folat, vitamin E, dan vitamin K.

Selain itu, roti gandum utuh juga sangat baik untuk kesehatan karena rendah lemak dan bebas kolesterol. Roti gandum juga dilengkapi dengan senyawa alami yang diduga dapat melawan perkembangan sel-sel kanker.

Jika kamu sering bepergian jauh, bawalah bekal sebagai jaga-jaga jika kamu lapar. Jika membawa nasi dan lauk tidak memungkinkan, piliah roti gandum sebagai bekal pengganti. Mudah dan simpel.

MAKANAN RENDAH LEMAK, GARAM & GULA

Misalnya ayam, ikan, telur dan tahu. Sebaiknya memasak bahan-bahan tersebut dengan cara dikukus, direbus atau dipanggang. Hindari makanan yang digoreng.

Untuk disiplin akan hal ini, jujur kuakui sulit ditahan. Makanan dengan tiga kategori di atas adalah makanan yang paling banyak kita temui sehari-hari. Menahan untuk tidak memakannya menjadi tantangan tersendiri. Setidaknya aku berusaha mengurangi porsi dan kuantitas menyantapnya terlebih dahulu. Dan semoga di akhir aku bisa seutuhnya disiplin.

BUAH-BUAHAN YANG TIDAK ASAM

Makanlah buah-buahan yang tidak asam. Kamu bisa memakannya langsung atau membuatnya menjadi jus.

Waktu sakit kemarin, aku makan buah apel, pisang, melon, pepaya dan pir. Bergantian setiap hari. Ini juga membantuku untuk tetap merasa terisi perutnya. Juga sebagai makanan tambahan selain nasi dan lauk. Seperti yang kuceritakan di atas, aku memakan nasi tidak selahap biasanya. Makan empat atau lima sendok makan saja sudah sebuah prestasi. Dengan mengkonsumsi buah-buahan, ada asupan makanan lain yang masuk ke dalam tubuh

SUSU

Susu memang dapat memperburuk gejala maag dan asam lambung, tetapi bukan berarti kamu harus sepenuhnya berhenti minum susu. Kamu bisa tetap minum susu dengan nyaman asalkan memilih jenis susu yang tepat.

Berikut beberapa jenis susu yang bisa kamu konsumsi.

1. Susu Rendah Lemak

Ada berbagai jenis susu di pasaran, yaitu whole milk dengan kandungan lemak utuh, susu rendah lemak (2% lemak), serta susu skim atau bebas lemak. Susu yang cocok untuk penderita asam lambung adalah yang mengandung 0 – 2,5% lemak.

Susu bebas atau rendah lemak bisa menjadi buffer sementara bagi lambung. Larutan yang bersifat buffer tidak mudah terpengaruh oleh perubahan pH (tingkat keasaman) lingkungannya. Jadi, suasana lambungmu tidak akan bertambah asam.

2. Susu Almond

Susu almond dinilai sebagai susu yang cocok untuk penderita asam lambung karena sifatnya yang basa. Almond memiliki pH sebesar 8,4. Nilai ini tergolong basa dan lebih tinggi dibandingkan pH susu sapi yang sebesar 6,8.

Nilai pH tersebut diyakini dapat menetralisasi asam lambung. Meski begitu, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan bahwa kandungan susu almond betul-betul aman bagi penderita maag dan asam lambung.

3. Susu Kedelai

Susu kedelai dapat menjadi pilihan yang aman bagi penderita asam lambung karena rendah lemak. Satu gelas susu kedelai (200 mL) hanya mengandung 5 gram lemak, lebih rendah dari susu sapi dengan jenis whole milk.

Susu merupakan minuman dengan segudang manfaat. Namun, penderita maag atau asam lambung perlu ekstra cermat dalam memilih jenis susu yang cocok untuk kondisi pencernaannya.

Susu rendah lemak atau susu alternatif mungkin dapat menjadi opsi yang lebih aman bagi perut. Akan tetapi, jika perutmu masih juga terasa tak nyaman setelah minum susu, sebaiknya konsultasikan kepada dokter untuk mendapatkan solusinya.

###

SUMBER:

  1. Alodokter – GERD
  2. Alodokter – Roti Gandum
  3. Axa
  4. Detik
  5. Hellosehat
  6. Wikipedia
  7. Youtube

Mari pelajari tanaman lainnya di sini

Fabel di Ikatan Kata

Hai, Sahabat! Apakah kamu suka membaca buku cerita? Sejak kapan?

Aku suka membaca buku sejak kecil. Sekitar umur 8 atau 9 tahun sudah senang membaca majalah Bobo. Setidaknya sebulan sekali majalah Bobo dibeli oleh Bapak atau Teteh jika mereka sedang bepergian ke kota. Tinggal di kampung saat itu tidak seramai sekarang. Jangankan para penjual buku yang sifatnya kebutuhan tersier, minimarket saja belum ada untuk memenuhi keperluan sehari-hari. Warga sudah cukup senang pergi ke pasar tradisional atau kalau aku hanya melangkahkan kaki ke warung dekat rumah untuk jajan.

Majalah Bobo memiliki magnet tersendiri bagiku. Selain mendapatkannya susah, ada hal lain yang menarik perhatian. Yaitu isi majalah yang penuh dengan bacaan edukasi. Apalagi dalam majalah Bobo terdapat tokoh-tokoh binatang yang lucu dan menggemaskan. Yang kuingat adalah Bona dan Rongrong. Bona si gajah berwarna pink nan baik hati yang identik dengan belalai panjangnya. Ia memiliki sahabat sehidup semati, Rongrong. Rongrong adalah si kucing siam yang selalu ada di samping Bona ke mana pun dan di mana pun. Dan ada banyak variasi bacaan lainnya seperti fabel.

Fabel adalah salah satu dongeng yang menampilkan binatang sebagai tokoh utama. Tokoh tersebut dapat berpikir, berperasaan, berbicara, bersikap dan berinteraksi seperti manusia. Fabel bersifat didaktis untuk mendidik. Fabel digunakan sebagai kiasan kehidupan manusia dan untuk mendidik masyarakat.

Maju lebih cepat ke saat ini, aku masih suka membaca, khususnya novel. Namun fabel sudah jarang aku baca, bahkan mencari bahan bacaannya pun tidak.

Terbersitlah sebuah ide waktu itu. Aku harus membuat fabel versiku sendiri agar merangsang kembali ketertarikan membaca fabel. Karena ada komunitas bloger Ikatan Kata yang berisi para penulis, maka aku buat tantangan menulis fabel untuk mereka. Tujuannya selain untuk tumbuh dan berkembang bersama melalui tulisan, kami bisa menggalakan kembali kegemaran membaca cerita, khususnya fabel. Dan untuk diketahui, buku anak-anak di toko buku masih masuk ke dalam top selling book di beberapa toko buku terkenal di Indonesia. Di samping alasan di atas tadi, menulis buku anak bisa menjadi pilihan karirmu (jika kamu seorang penulis),

Mari kita intip, beberapa potongan cerita pada fabel yang sudah terbit di blog Ikatan Kata. (Klik judul untuk melihat keseluruhan isi cerita)

Puku dan Tiga Kawan Barunya

“Sudah, Pu. Tapi kadang manusia yang buru-buru dan tidak hati-hati.” Kini giliran Piu yang berbicara. Aku semakin dibuat miris oleh pernyataan Piu dan Roki yang mengatakan bahwa kaki Chiku mungkin akan diamputasi karena benar-benar parah. Aku ngeri membayangkan hal itu jika benar-benar terjadi. Kasihan sekali Chiku.

“Kamu harusnya bersyukur dengan apa yang kamu punya Puku, sayap cantik dan bisa terbang bebas. Bisa makan tanpa bergantung ke manusia,” ucap Roki pelan.

(Cerita ditulis oleh Fitri Putri)

Ular yang Memeluk Tubuhnya Sendiri

Ia benci hujan, tapi ia pun tidak bisa hidup tanpanya. Ia membutuhkan air agar kulit-kulitnya tetap lembab. Masa berganti kulit akan sangat menyakitkan jika keadaan sekelilingnya kering. Bersembunyi di gua-gua lembab juga bukanlah kegemarannya. Ia benci tinggal di tempat-tempat gelap tanpa cahaya. Tidak ada kenikmatan di sana.

Sembari mengamati naik turun nafasnya, ia mengamati dari balik lilitan tubuhnya gerak-gerik penuh curiga. Ada mangsa. Cukup untuk makan malamnya hari ini. Bahkan mungkin cukup untuk beberapa hari ke depan. Tapi, ia bertemu rasa malas yang secara konstan mendorongnya untuk memeluk lebih erat tubuhnya. Ia biarkan berlalu saja.

(Cerita ditulis oleh Ayu Frani)

Aku dan Bledeg

Bledeg memang sang bintang. Tentu seisi rumah tahu semua. Tuan memanjakannya juga tak ada yang mengingkarinya. Kelincahannya, celotehnya dan nyanyiannya memang luar biasa.

Sore ini sepertinya ada yang berbeda. Kisah perjalanan yang biasanya mengalir kini hanyalah desah nafas yang berat. Bledeg mendengkur dalam tidurnya? Tidak, Bledeg tidak sedang tidur. Ada was-was yang tiba-tiba menyelinap dalam diriku. Bagaimana jika terjadi hal yang tak diinginkan pada Bledeg. Terbayang betapa sepinya rumah ini. Ingin sebenarnya aku mendekatinya, sekedar bertanya atau sedikit memberikan hiburan yang menenangkan. Tidak, aku tidak berani, khawatir justru akan mengganggu istirahatnya.

(Cerita ditulis oleh Sunarno)

RAHASIA CINTA CEBI DAN KUPRET

Dan, beberapa detik kemudian Kupret pingsan. Badannya jatuh berdebum hingga mengagetkan papa Kelelawar.

“Kupret. Kupret, anakku. Kenapa kau?” Papa Kelelawar mulai panik. Dipeluknya Kupret. Ďitepuk-tepuknya pipinya dengan harapan tersadar dari pingsannya.

Akhirnya, digendongnya Kupret ke kamar. Dibuatkannya minuman hangat berisi ramuan untuk menyembuhkan Kupret. Saat aroma jahe dan daun mint tercium hidung Kupret, perlahan Kupret siuman. Papa Kelelawar tersenyum girang mendapati Kupret sudah mulai bergerak.

(Cerita ditulis oleh Heri Purnomo)

Suara Billy si Ayam

“Billy, kamu tidak boleh sedih begini. Bukan kamu saja koq yang pernah mengalami hal itu. Banyak yang awalnya tidak bisa bersuara merdu. Intinya, jangan malu dan jangan menyerah. Semangat dan terus mencoba. Percayalah, akan tiba waktunya suaramu akan semerdu ayam lain. Tidak usah peduli bila ada yang memandang sinis, tetap bersuara ya. “

“Iya, Ma. Billy akan terus mencoba sampai bisa. Doakan ya, Ma.”

(Cerita ditulis oleh Sondang Saragih)

Kibo dan Luna

Kibo tertawa dengan lepas, melihat teman-temannya begitu optimis dan mendukungnya. Dari 10 hewan, hanya satu yang tidak terdengar suaranya. Dialah Luna, si landak tangguh dari Desa Kiwi.

“Apa kau tak yakin dengan kekuatanku, girl? Aku adalah hewan terkuat di hutan.”

Luna membuang mukanya lalu pergi menuju rumah. Di sepanjang malam, ibunya memperhatikan Luna melamun dan terlihat sedang memikirkan sesuatu. Lalu Luna bercerita tentang Kibo yang menurutnya terlalu percaya diri. Kalau tidak hati-hati, Kibo bisa kalah bahkan mungkin celaka.

(Cerita ditulis oleh Fahmi Ishfah)

###

Temukan informasi lain tentang hewan di sini.

Toleransi dalam Islam

Assalamualaikum warohmatullahi wabarakatuh!

Alkisah, suatu waktu, Rasulullah Muhammad shollalahu alaihi wassallam didatangi oleh orang-orang Quraisy yang merasa bahwa dakwah beliau sudah mulai mengancam kepentingan-kepentingan mereka. Lantas mereka mengajak Abu Thalib untuk melobi Rasulullah dan bertanya sebenarnya apa yang beliau inginkan. Mereka mengira beliau menginginkan harta, tahta dan wanita.

Mereka datang dan berusaha membujuk Rasulullah untuk menghentikan dakwahnya. Mereka menawarkan harta sehingga Rasulullah akan menjadi orang yang paling kaya di Mekkah. Beliau juga ditawari tahta supaya ia memiliki kedudukan paling tinggi dan bebas memilih wanita manapun yang Rasulullah inginkan. Tapi tawaran mereka itu ditolak mentah-mentah oleh Rasulullah.

“Seandainya matahari itu bisa diletakkan di tangan kanan dan bulan di tangan kiriku maka aku tidak akan meninggalkan urusan dakwah ini sampai Allah memenangkanku atau aku mati di dalamnya.”

Jawaban Rasulullah sangat tegas sekali tetapi orang-orang Quraisy tidak hilang akal. Mereka mencoba untuk menyimpangkan niatan ketataan Rasulullah dengan tawaran lain.

“Ya Rasulullah, bagaimana kalau seandainya kita gantian saja. Kami akan menyembah tuhanmu selama satu tahun dan engkau menyembah tuhan kami selama satu tahun.”

Artinya mencampuradukkan ibadah yang satu dengan lainnya. Maka saat itulah menjadi sebab turunnya (asababul nujul) surat Al-Kafirun.

Turunlah surat Alkafirun yang berisi prinsip seorang muslim bahwa ia tidak menyembah apa yang disembah oleh orang kafir dan begitu pula sebaliknya. Dan prinsip terakhir adalah prinsip toleransi yang diberikan oleh Allah, lakum diinukum waliyaddin. Bagimu agamamu dan bagiku agamaku.

Yang sedang seru sekarang adalah saat orang-orang berbicara tentang toleransi, mereka lupa bahwa toleransi bukanlah mengajak orang lain dengan apa yang kita yakini. Sebab yang demikian itu disebutnya dakwah (mengajak). Begitu juga ketika kita mengajak orang di luar islam untuk mengenal Islam, disebutnya pula sebagai dakwah. Bukan toleransi. Apa itu toleransi?

Toleransi sesungguhnya adalah kita mengetahui ibadah-ibadah dalam Islam dan mengamalkannya dan tidak memaksa orang lain mengikutinya. Jadi lebih kepada bagaimana sikap kita terhadap orang lain bukan memaksa orang lain untuk mengikuti kita. Maka aneh ketika dikatakan toleransi orang muslim terhadap orang Nashrani yang merayakan Natal adalah dengan mengikuti perayaan mereka. Atau memakai atribut-atribut yang mereka pakai, mengunjungi tempat ibadah dan mengatakan selamat saat perayaan hari raya mereka. Ini bukan toleransi tapi seperti yang kita lihat dari asababun nujul surat Alkafirun yaitu mencampuradukkan antara haq (kebenaran) dan bathil (keburukan).

Toleransi dalam Islam, kita meyakini bahwa Allah itu satu. Tapi kita tidak memaksa mereka untuk meyakini bahw Allah itu satu. Biarkan mereka dengan pemahamannya, kita dengan pemahaman sendiri. Kalaupun kita mengajak mereka kepada Islam maka itu adalah bentuk dari dakwah.

Toleransi adalah membiarkan mereka merayakan apa yang mereka yakini tanpa kita ikut campur dengannya. Mengapa? Karena ini adalah permasalahan akidah. Dan segala sesuatu yang terpancar melalui akidah, seperti mengikuti ibadah mereka, itu adalah haram untuk muslim.

Mereka merayakan hari rayanya, itu adalah bagian dari ibadah mereka. Dan ibadah-ibadah mereka ini, kita tidak boleh mengikutinya. Sebab lakum diinukum waliyaddin. Biarkan mereka dengan ibadahnya, kita dengan ibadah sendiri.

Ada yang mengatakan, “Tapi kan itu kan cuma kata-kata saja kalau mengatakan selamat.”

Setiap kata-kata ada konsekuensinya. Seseorang yang mengucap kalimat syahadat artinya dia sudah beragama Islam dan beriman serta memiliki konsekuensi untuk mengikuti ajarannya. Seorang ayah yang menikahkan putrinya dengan seorang lelaki dan lelaki itu menjawab, “Saya terima nikah dan kawinnya Fulanah bin Fulan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai” juga memiliki konsekuensi. Ia sudah menikahi seorang perempuan dan memilik tanggung jawab untuk menafkahi, menjaga dan merawatnya. Mengucapkan, “Saya talaq kamu,” juga memiliki konsekuensinya sendiri. Jadi jangan menganggap sepele sesuatu dengan dalih bahwa itu hanya kata-kata. Karena pembeda iman dan kafir adalah kata-kata juga.

Ada yang mengatakan, “Kita cuma menghormati, kok.”

Penghormatan tidak selalu harus dengan ucapan dan mengikuti. Penghormatan tidak harus dengan lebur dan larut ke dalam perayaan agama orang lain.

Seseorang yang mengikuti ajaran agamanya bukan disebut fanatik melainkan memiliki prinsip. Ketika kita tidak menjalankan agama tapi justru mengikuti ajaran agama orang lain inilah yang disebut sebagai orang yang tidak memiliki prinsip.

Ingatlah, setan itu tidak menyesatkan manusia secara langsung. Setan akan sesatkan manusia sedikit demi sedikit hingga akhirnya aktivitas agama Islam dan kafir menjadi tidak ada bedanya. Mereka melakukan ini, kita pun melakukannya. Kecenderungannya sama.

Kalau mereka masih tersinggung lantaran kita tidak mengikuti ibadah mereka, maka pertanyaannya ialah siapa sebenarnya yang tidak toleransi?

Toleransi kaum muslim adalah lakum diinukum waliyaddin.

###

Kajian selengkapnya bisa ditonton di bawah ini:

Yuk kaji ilmu lainnya di sini.

Mengerti dan Menghargai

“Dengan pengertian maka muncullah penghargaan.”

Mengerti merupakan sebuah tindakan seseorang yang mengetahui dan memahami suatu keadaan dan dapat merasakan apa yang terjadi terhadap sesuatu atau seseorang. Sikap saling mengerti diperlukan antar sesama manusia untuk menjalin keharmonisan dan kenyamanan dalam kehidupan sehari-hari.

Ciri-ciri orang yang mengerti dapat dilihat dari bahasa tubuhnya seperti anggukan kepala, mengatakan Saya mengerti, dan melakukan aksinya dengan tangan. Jika seseorang sudah mengerti maka orang lain akan menghargai.

Respect
Respect

Berikut ini adalah beberapa contoh adegan cerita pendektentang mengerti dan menghargai :

GERALD

Gerald tinggal di rumah kos dekat kantor tempat ia bekerja. Di rumah kos itu terdapat lima kamar. Gerald sangat akrab dengan keempat temannya itu. Jika ada temannya yang sakit, Gerald membantu dan merawatnya. Jika temannya punya masalah, dia ikut memikirkan dan mencari solusi terbaik. Gerald juga sering membagi makanan kepada temannya yang belum makan. Sikap Gerald yang mengerti kondisi temannya itu menimbulkan penghargaan dari teman-temannya. Misalnya mereka membantu Gerald jika ada tugas kantornya yang belum selesai dan tidak makan di depan Gerald ketika mereka berpuasa. Dengan sikap saling mengerti di antara teman menimbulkan sikap saling menghargai.

LEO

Leo adalah seorang pecandu rokok. Dalam satu hari dia bisa menghabiskan empat bungkus rokok. Walaupun sebagai seorang perokok aktif dia masih punya akal sehat. Leo hanya merokok di kamar rumahnya, di bis atau di kantor yang ada ruangan merokok atau di tempat yang tidak mengganggu orang lain. Leo tidak seperti perokok lainnya yang merokok dengan seenaknya di tempat yang mereka anggap asyik untuk merokok. Leo tahu rokok tidak baik untuk dirinya tapi jika tidak merokok sehari saja, ia sudah seperti orang gila, mencari-cari rokok di semua penjuru rumahnya atau ngacir ke warung Mpok Minah untuk membelinya.

Leo punya pikiran seperti ini. “Gue ngerokok karena gue mau dan karena gue udah nyandu. Tapi gue gak akan sembarangan ngerokok di tempat umum, di bis, di angkot, di halte, di terminal, di rumah makan atau di tempat yang bisa ngeganggu orang lain. Gue tau rokok itu berbahaya buat tubuh gue. Sebobrok-bobroknya gue, gue masih inget kata Pak Haji Sadeli, doi bilang merusak diri sendiri dilarang oleh agama dan bisa menjadi dosa. Dosa gue ini udah bejibun banget. Gue gak mau asap rokok gue membuat sesak orang di sekitar dan buat mereka gak enak atau ngerusak tubuh. Bisa-bisa dosa gue terus nambah tiap hari. Ogah ah! Gue ngerokok itu urusan gue. Badan-badan gue ini. Tapi kalo harus buat orang sengsara, eit..tunggu dulu! Gue gak mau.”

Sikap Leo yang mengerti dengan tidak merokok di tempat umum membuat keluarga dan temannya menghargai dia. Bahkan banyak orang yang memuji aksinya. Leo hanya tersenyum melihat reaksi orang-orang kepadanya. Ia teringat kata-kata dari almarhumah emak, “Udin Leonudin, dengerin emak. Lo boleh aje berbuat semau lo, asal lo tau, ngarti ame siap konsekuensinya entar. Kalo lo berbuat dosa, tanggung ama diri lo, jangan ngajak atau ngejerumusin orang jadi berbuat dose. Lo mesti mikir !”

HANI

Hani adalah seorang ibu rumah tangga yang sangat perhatian kepada keluarganya. Dia menyiapkan makanan, pakaian yang bersih dan kenyamanan di rumah kepada suami dan anak-anaknya. Sementara suaminya bekerja di kantor, ia mendidik anak-anaknya di rumah. Menghadapi anak-anak bukanlah perkara mudah tapi tidak sulit. Tergantung dari bagaimana cara seseorang mengatasinya. Diperlukan kesabaran yang ekstra dalam mengurus anak-anak. Namun Hani tetap semangat menjalani kehidupannya. Ia tidak pernah mengeluh sama sekali. Baginya mengeluh adalah sikap seorang yang pengecut.

Setiap hari Hani melakukan rutinitasnya sebagai ibu rumah tangga. Hingga suatu hari ibu yang Super Care ini jatuh sakit. Dan semua pekerjaan rumah menjadi terbengkalai. Tapi Imran, sang suami tidak tinggal diam. Dengan kerelaan hati ia mengemban tugas sebagai kepala rumah tangga sekaligus ibu rumah tangga.

Pagi-pagi sekali setelah sholat subuh, ia menanak nasi, mencuci pakaian dan menyetrika pakaian yang sudah kering kemarin. Kemudian memasak makanan untuk sarapan pagi. Setelah itu menyiapkan kebutuhan si kecil James. Merapikan buku sekolah, menyiapkan botol minuman dan merapikan bajunya. Sementara James makan, Imran menyuapi Hani di kamarnya. Dengan telaten dan penuh cinta ia merawat sang istri.

Hani sempat melarang Imran melakukan tugasnya, namun dengan halus Imran mengatakan bahwa Hani harus istirahat dan membiarkan semua tugasnya diselesaikan oleh Imran. Hani tahu suaminya adalah seorang pekerja yang sibuk di kantornya. Seringkali sebelum Imran berangkat ke kantor, ia sudah ditelpon oleh klien dan bawahannya. Mereka menanyakan banyak hal tentang pekerjaannya. Posisi sebagai General Manager membuat banyak orang bergantung kepadanya. Tapi Hani tahu suami tercintanya itu sangat keras kepala. Imran tidak bisa pergi ke kantor sebelum memastikan istrinya baik-baik saja. Padahal Hani sudah mengatakan ia bisa melakukan pekerjaannya lagi setelah ia istirahat sebentar. Hani merasa kasihan kepada Imran. Setelah semua pekerjaan selesai di pagi hari, Imran harus mengantarkan James ke sekolahnya dan menjemputnya saat ia istirahat kantor. Belum lagi Imran harus jalan berlawanan arah dengan kantornya untuk menuju sekolah James. Dan kemacetan di kota membuat semuanya menjadi sempurna.

Hani tahu, Imran melakukannya karena sayang dan mengerti akan kondisinya sekarang. Sakit anemia yang ia derita sejak awal pernikahan sudah banyak membuat Hani meninggalkan tugasnya sebagai ibu rumah tangga. Hani merasa sangat beruntung mempunyai suami sehebat Imran. Ia bertekad akan mencintai dan hanya akan mencintai Imran sebagai satu-satunya suami. Hani juga tidak akan mengecewakan Imran, Ia akan menjaga hati, badan dan jiwanya dari godaan dan berbakti untuk sang suami. Sikap Imran yang mengerti Hani membuat Imran dihargai dan dicintai lebih dari sebelumnya oleh Hani.

###

Banyak contoh lain mengenai sikap saling mengerti dan menghargai di kehidupan sehari-hari. Sebagai makhluk sosial, sudah seharusnya kita bisa menanamkan sikap saling mengerti agar bisa menimbulkan sikap menghargai dari orang lain kepada kita. Mulailah hari ini. Lalu perhatikan apa yang terjadi.

View My Daily Post

The Importance of Rethinking

Hello, friends! How are you doing now?

Have you ever made a mistake because you didn’t think it carefully? A silly mistake can be so annoying when we remember it. “Why I did that before? I should made a good decision instead of making a fuss.” Well, whatever you did, it’s already happened. You can’t change your past but you still have hope for the future.

In this post, we’ll learn something about rethinking. I thought it’s very necessary for us to know how good rethinking is. I learned it from TED with Adam Grant as it’s speaker.

Adam M. Grant (born August 13, 1981) is an American psychologist and author who is currently a professor at the Wharton School of the University of Pennsylvania specializing in organizational psychology. He received academic tenure aged 28, making him the youngest tenured professor at the Wharton School.

Just sit, relax and read it slowly. Oh, maybe you’ll need a cup of coffee or tea with various Idul Fitri dishes.

You might have heard that if you drop a frog in a pot of boiling water, it will jump out right away. But if you put it in lukewarm water, and then slowly heat it up, the frog won’t survive. The frog’s big problem is that it lacks the ability to rethink the situation. It doesn’t realize that the warm bath is becoming a death trap, until it’s too late.

Human might be smarter than frogs, but our world is full of slow-boiling pots. Think about how slow people were to react to warnings about a pandemic, climate change or a democracy in peril. We fail to recognize the danger because we’re reluctant to rethink the situation.

We struggle with rethinking in all kinds of situations. We expect our squeaky brakes to keep working until they finally fail on the freeway. We believe the stock market will keep going up, even after we hear about a real-estate bubble. And we keep watching ‘Game of Thrones’ even after the show jumping the shark.

Rethinking isn’t a hurdle in every part of our lives. We’re happy to refresh our wardrobes and renovate our kitchens. But when it comes to our goals, identities and habits, we tend to stick to our guns. And in a rapidly changing world, that’s a huge problem.

I’m an organizational psychologist. It’s my job to rethink how we work, lead and live. But that hasn’t stopped me from getting stuck in slow-boiling pots, so I started studying why.

I learned that intelligence doesn’t help us escape. Sometimes, it traps us longer. Being good at thinking can make you worse at rethinking. There’s evidence that the smarter you are, the more likely you are to fall victim to the “I’m not biased” bias. You can always find reasons to convince yourself you’re on the right path, which is exactly what my friends and I did on a trip to Panama.

I worked my way through college, and by my junior year, I’d finally save enough money to travel. It was my first time leaving North America. I was excited for my first time climbing a mountain, actually an active volcano, literally a slow-boiling pot. I set a goal to reach the summit and look into the crater.

So, we’re in Panama. We get off to a late start, but it’s only supposed to take about two hours to get to the top. After four hours, we still haven’t reached the top. It’s a little strange that it’s taking so long, but we don’t stop to rethink whether we should turn around. We’ve already come so far. We have to make it to the top. Do not stand between me and my goal.

We don’t realize we’ve read the wrong map. We’re on Panama’s highest mountain, it actually takes six to eight hours to hike to the top. By the time we finally reach the summit, the sun is setting. We’re stranded, with no food, water, cell phones, and energy for the hike down.

There’s a name for this kind of mistake. It’s called “escalation of commitment to a losing course of action.” It happens when you make an initial investment of time or money, and then you find out it might have been a bad choice, but instead of rethinking it, you double down and invest more. You want prove to yourself and everyone else that you made a good decision.

Escalation of commitment explains so many familiar examples of businesses plummeting. Blockbuster, Blackberry, Kodak. Leaders just kept simmering in their slow-boilling pots, failing to rethink their strategies.

Escalation of commitment explains why you might have stuck around too long in a miserable job, why you’ve probably waited for a table way too long at a restaurant, and why you might have hung on to a bad relationship long after your friends encourage you to leave.

It’s hard to admit that we were wrong and that we might have even wasted years of our lives. So we tell ourselves, “If I just try harder, I can turn this around.”

We live in a culture that worships at the altar of hustle and prays to the high priest of grit. But sometimes, that leads us to keep going when we should stop to think again.

Experiments show that gritty people are more likely to overplay their hands in casino games and more likely to keep trying to solve impossible puzzles.

My colleagues and I have found that NBA basketball coaches who are determined to develop the potential in rookies, keep them around much longer than their performance justifies. And researchers have even suggested that the most tenacious mountaineers are more likely to die on expeditions, because they’re determined to do whatever it takes to reach the summit.

In Panama, my friends and I got lucky. About and hour into our descent, a lone pickup truck came down the volcano and rescued us from our slow-boiling pot.

There’s a fine line between heroic persistence and stubborn stupidity. Sometimes the best kind of grit is gritting your teeth and packing your bags.

“Never give up” doesn’t mean “keep going the thing that’s failing.” It means, “Don’t get locked into one narrow path, and stay open to broadening your goals. The ultimate goal is to make it down to the mountain, not just to reach the top.

Your goals can give you tunnel vision, blinding you to rethinking the situation. And it’s not just goals that can cause this kind of shortsightedness, it’s your identity too.

As a kid, my identity was wrapped up in sports.  I spent countless hours shooting hoops on my driveway, and then I got cut from the middle school basketball team, all three years.  I spent a decade playing soccer, but I didn’t make the high school team. At that point, I shifted my focus to a new sport, diving. I was bad. I walked like Frankenstein. I couldn’t jump. I could hardly touch my toes without bending my knees, and I was afraid of heights. But I was determined. I stayed at the pool until it was dark and my coach kicked me out of practice.

I knew that the seeds of greatness are planted in the daily grind, and eventually, my hard work paid off. By my senior year, I made the All-American list, and I qualified for the Junior Olympic Nationals.

I was obsessed with diving. It was more than something I did, it became who I was. I had a driving sticker on my car and my email address was diverag@aol.com.

Diving gave me a way to fit in and to stand out. I had a team where I belonged and a rare skill to share. I had people rooting for me and control over my own progress. But when I got to college, the sport that I love became something I started to dread. At that level, I could not beat more talented divers by outworking them. I was supposed to be higher dives, but I was still afraid of heights, and 6am practice was brutal. My mind was awake, but my muscles were still asleep. I did back smacks and belly flops and my slow-boiling pot this time was a freezing pool. There was one question, though, that stopped me from rethinking, “If I’m not a diver, who am I?”

In psychology, there’s a term for this kind of failure to rethink, it’s called “identity foreclosure.” It’s when you settle prematurely on a sense of who you are and close your mind to alternative selves.

You’ve probably experienced identity foreclosure. Maybe you were too attached to an early idea of what school you’d go to, what kind of person you’d marry, or what career you’d choose. Foreclosing on one identity is like following a GPS that gives you the right directions to the wrong destinations.

After my freshman year of college, I rethought my identity. I realized that diving was a passion, not a purpose. My values were to grow and excel and to contribute to helping my teammates grow and excel. Grow, excel, contribute. I didn’t have to be a diver to grow, excel and contribute. Research suggests that instead of foreclosing on one identity, we’re better off trying on a range of possible selves.

Retiring from diving freed me up to spend the summer doing psychology research and working as a diving coach. It also gave me a time to concentrate on my dorkiest hobby, performing as a magician. I’m still working on my sleight of hand.

Opening my mind to new identities opened new doors. Research showed me that I enjoyed creating knowledge, not just consuming it.

Coaching and performing helped me see myself as a teacher and an entertainer. It if hadn’t happened, I might not have become a psychologist and a professor, and I probably wouldn’t be giving this TED talk.

See, I’m an introvert, and when I first started teaching, I was afraid of public speaking. I had a mentor, Jane Dutton, who gave me some invaluable advice. She said, “You have to unleash your inner magician.” So I turned my class into a live show.

Before the first day, I memorized my students’ names and backgrounds, and then I mastered my routine. Those habits served me well. I started to relax more and I started to get good ratings. But just like with goals and identities, the routines that help us today can become the ruts we get trapped in tomorrow.

One day, I taught a class on the importance of rethinking. Afterward, a student came up and said, “You know, you’re not following your own principles.” They said feedback is a gift, but right then, I wondered, “How do I return this?”

I was teaching the same material, the same way, year after year, I didn’t want to give up on a performance that was working. I had my act down. Even good habits can stand in the way of rethinking. There’s a name for that too. It’s called “cognitive entrenchment,” where you get stuck in the way you’ve always done things.

Just thinking about rethinking made me defensive. And then I went through the stages of grief. I happened to be doing some research on emotion regulation at the time, and came in handy. Although you don’t always get to choose the emotion you feel, you do get to pick which ones you internalize and which ones you express.

I started to see emotions as works in progress, kind of like art. If you were a painter, you probably wouldn’t frame your first sketch. Your initial feelings are just a rough draft. As you gain perspective, you can rethink and revise what you feel. So, that’s what I did. Instead of defensiveness, I tried curiosity. I wondered, “What would happen if I became the student?”

I threw out my plan for one day of class, and I invited the students to design their own session. The first year, they wrote letters to their freshman selves, about what they wish they’d rethought or known sooner. The next year, they gave passion talks. They each had one minute to share something they loved or cared about deeply. And now, all my students give passion talks to introduce themselves to the class.

I believe that good teachers introduce new thoughts but great teachers introduce new ways of thinking. But it wasn’t until I ceded control that I truly understood how much my students had to teach one another, and me. Ever since then, I put an annual reminder in my calendar to rethink what and how I teach. It’s a checkup. Just when you go to the doctor for annual checkup when nothing seems to be wrong.

You can do the same thing in the important parts of your life. A career checkup to consider how your goals are shifting. A relationship checkup to re-examine your habits. An identity checkup to consider how your values are evolving.

Rethinking does not have to change your mind. It just means taking time to reflect and staying open to reconsidering. A hallmark or wisdom is knowing when to grit and when to quit. When to throw in the towel on an old identity and dive into a new one. When to walk away from some old habits and start scaling a new mountain.

Your past can weigh you down and rethinking can liberate you. Rethinking is not just a skill to master personally. It’s a value we need to embrace culturally.

We live in a world that mistakes confidence for competence, that pressures us to favor the comfort of conviction over the discomfort of doubt that accuses people who change their minds of flip-flopping. When in fact, they might be learning. So let’s talk about how to make rethinking the norm. We need to invite it and to model it.

A few years ago, some of our students at Wharton challenged the faculty to do that. They asked us to record our own version of Jimmy Kimmel’s Mean Tweets. We took the worst feedback we’d ever received on student course evaluations, and we read it out loud.

The names below are teachers and they read their Mean Tweets from students. (see full video at the end of post)

  1. Angela Duckworth: “It was easily one of the worst three classes I’ve ever taken, on of which the professor was let go after the semester.”
  2. Mohamed El-Erian: “The number of stories you tell give ‘Aesop’s Fables’ a run for its money. Less can be more.”
  3. Adam Grant: “You’re so nervous, you causing us to physically shake in our seats.”
  4. Mae McDonnell: “So great to finally have a professor from Australia. You started strong but then got softer. You need tenur, so toughen up with these brats.”
  5. Michael Sinkinson: “Prof Sinkinson acts all down with pop culture but secretly thinks Ariana Grande is a font in Microsoft Word.”

After I show these in class, students give more thoughtful feedback. They rethink what’s relevant. They also become more comfortable telling me what to rethink because I’m not just claiming I’m receptive to criticism. I’m demonstrating that I can take it. We need that kind of openness in schools, families, businesses, governments, and nonprofits.

A couple of years ago, I was working on a project for the Gates Foundation, and I suggested that leaders could record their own version of Mean Tweets. Melinda Gates volunteered to go first and one of the points of feedback that she read said, “Melinda is like Mary effing Poppins. Practically perfect in every way.” And then, she started listing her imperfections.

People at the Gates Foundations who saw that video, ended up becoming more willing to recognize and overcome their own limitations. They also more likely to speak up about problems and solutions. What Melinda was modeling was confident humility.

Confident humility is being secure enough in your strenghts to acknowledged your weaknesses. Believing that the best way to prove yourself is to improve yourself. Knowing that weak leaders silence their critics and make themselves weaker, while strong leaders engage their critics and make themselves stronger.

Confident humility gives you the courage to say “I don’t know,” instead of pretending to have all the answers. To say. “I was wrong,” instead of insisting you were right. It encourages you to listen to ideas that make you think hard not just the ones make you feel good, and to surround yourself with people who challenge your thought process, not just the ones who agree with your conclusions. And sometimes, it even leads you to challenge your own conclusion, like with the story about the frog that can’t survive the slow-boiling pot.

I found out recently that’s a myth. If you heat up the water, the frog will jump out as soon as it gets uncomfortably warm. Of course it jumps out, it’s not an idiot. The problem is not the frog, it’s us. Once we accept the story as true, we don’t bother to think again.

What if we were more like the frog, ready to jump out, if the water gets too warm? We need to be quick to rethink.

###

View My English Post.

Gak Boleh Mudik!

Sebelumnya di pos Ishfah Seven berjudul Bingung, aku sempat menuliskan keresahan tentang larangan mudik. Minggu kemarin saat menonton acara SUCI di Kompas TV, Gilang Bhaskara membahas hal yang sama. Ia bercerita soal kebingungannya dengan kebijakan pemerintah pada masa pandemi, lakban X dan termo gun.

Gua bingung banget ya sama pandemi di Indonesia. Selama setahun terakhir, Gua hampir di rumah terus. Pandemi ini membingungkan. Sudah setahun lebih, anak-anak belum masuk sekolah tapi mall, kafe dan restoran buka kayak biasa.

Ini sudah bulan puasa kedua selama pandemi. Mudik lagi-lagi dilarang. Tapi orang liburan kemarin-kemarin, boleh. Mudik? Ergh.. tidak boleh! Ketemu sodara? Gak boleh! Nongkrong dan liburan ke pantai? Boleh. Memang membingungkan. Bikin pernikahan kecil di gang gitu, gak boleh. Bikin pernikahan besar? Hmm…Bahaya. Gak mungkin boleh, kan?

Tempat wisata, buka semua. Lo ke kebun binatang dari kemarin, udah bisa. Ngunjungin binatang? Bisa. Lo ngunjungin sodara lo? Gak boleh! Lo gak boleh ketemu sodara tapi nemuin binturong di Ragunan, boleh. Lo boleh jalan-jalan ke mana pun, asal gak mudik.

Kebijakannya ini bingungin banget. Ke tempat wisata dibolehin tapi mudik dan sekolah tidak boleh, karena bahaya itu. Bisa nularin virus. Padahal setiap tempat itu harus mengikuti protokol kesehatan. Kayaknya ngelakuin apa pun di Indonesia selama pandemi itu boleh asal ada protokol kesehatan.

Bikin acara tivi? Boleh. Asal pake masker dulu terus dibuka baru ngomong. Boleh! Padahal dulu dibilang kalau bagian luar masker itu gak boleh disentuh karena banyak penyakitnya. Tapi kita lihat news anchor gitu. Ia pegang maskernya, setelah dipakai lalu dicopot saat mau ngomong. Kalau tivi mah boleh.

Kalau orang biasa yang megang masker kayak gitu, itu tidak boleh. Harus segera dibuang karena kotor. Gak boleh dipakai lagi. Kalau di tivi? Maskernya boleh dipakai lagi. Asal ditulis atau diberi keterangan, SEMUA KRU SUDAH DITES SWAB, boleh! Atau tulisannya gini, DIREKAM SEBELUM PANDEMI, boleh! Aman semua. Tapi kalau sekolah dan mudik? Eits, jangan dulu. Tetap gak boleh dong. Bahayyyaaa…!

###

Tonton selengkapnya di Gilang Bhaskara – Liburan Boleh, Sekolah dan Mudik Gak Boleh

View My Daily Post