Ditinggal Menikah

Aku pernah mengalami rasa cinta yang sangat dalam kepada seseorang sekaligus rasa benci secara bersamaan. Waktu itu sedang mabuk kepayang. Nasihat dari orang-orang terdekat tidak aku dengarkan. Hidup gue, urusan gue.

Ya, betapa aku sangat bebal. Hingga akhirnya semuanya tidak berujung bahagia. Aku telah menuliskan ceritaku itu pada sebuah pos. Kamu bisa membaca pos Bertemu Dengan Sang Joker, dan nanti bisa paham apa yang kualami.

Continue reading “Ditinggal Menikah”

Mereka Bilang Saya Perawan Tua 14 – Penawar Racun

Tokoh : Rama

Reni dan Bi Nendah duduk berhadapan denganku di ruang tamu. Sementara Ibu masih berada di dapur membereskan apa saja yang mesti dibereskan. Hari ini aku belajar sesuatu lagi yaitu seseorang bisa berubah sifat dan sikapnya kepada orang lain setelah dia mengalami sebuah kejadian. Contohnya adalah Bi Nendah. Dulu beliau tidak terlalu peduli denganku bahkan berubah menjadi rasa antipati tingkat tinggi tetapi sekarang dia sangat berbeda. Begitu baik dan sopan kepadaku. Aku merasa bahwa aku sudah tak pantas membencinya. Begitu juga dengan Reni. Saat kulihat dirinya yang sekarang aku merasa pangling atau terkesima dan terheran-heran karena sudah lama tak bertemu. Senyumannya itu yang membuat rencanaku mulai goyah. Sejak awal pulang ke sini, tujuanku satu yaitu menolak semua ajakan atau tawaran apapun dari keluarga Reni lalu kmebali ke Jakarta. Continue reading “Mereka Bilang Saya Perawan Tua 14 – Penawar Racun”

Mereka Bilang Saya Perawan Tua 13 – Tamu Tak Terduga

Tokoh : Rama

Apa sih arti kebahagiaan itu? Kok rasanya aku tidak mendapatkannya sekarang. Apakah aku bisa dikatakan orang yang tidak bersyukur? Mungkin benar seperti itu.

Eh, sebentar deh. Aku ralat. Hari ini aku bukan tidak bersyukur tapi aku sedang tidak percaya diri. Aku sedang berputus asa. Hilang semangat dari diri. Menguap ke udara menjadi kosong dan hampa. Continue reading “Mereka Bilang Saya Perawan Tua 13 – Tamu Tak Terduga”

Mereka Bilang Saya Perawan Tua 12 – Kandas

Tokoh : Rama

Aku sampai di rumah disambut oleh kumandang adzan Subuh. Tas dan barang bawaan lainnya aku simpan di ruang tengah. Setelah menyalami Ibu, aku mengambil kain sarung dan bergegas ke masjid dekat rumah.

Brrr..! Aku bergidik. Bulu kuduk berdiri. Bukan karena takut penampakan setan melainkan hembusan Sang Bayu yang menyentuh lembut kulit yang sebelumnya sudah dibasuh oleh air yang juga dingin. Momen seperti ini memang sesuatu yang aku tunggu. Jujur saja, aku jarang pulang kampung. Ada banyak alasan kalau aku ingin ungkapkan. Ah, tapi itu alasan klise yang sudah basi. Tak bisa pulang karena banyak kerjaan, bukanlah sebuah alasan yang mudah diterima oleh Ibu. Aku tahu kalau memang aku mau niat pulang kampung, aku hanya perlu naik bus jurusan Tasik dan sampailah di rumah. Continue reading “Mereka Bilang Saya Perawan Tua 12 – Kandas”

Mereka Bilang Saya Perawan Tua 11 – Kenangan dan Harapan

Tokoh : Via

Suara klakson bus mengagetkanku. Abang Kondektur berteriak memanggil-manggil para penumpang agar kembali masuk ke dalam bus. Tidak butuh waktu lama, bus sudah terisi kembali.

Alhamdulillah, kenyang banget. Kapan ya terakhir makan kayak gini? Oh iya, mumpung perut sudah terisi dan energi sudah on lagi, aku masih punya janji untuk bercerita kepada teman seperjalananku ini. Continue reading “Mereka Bilang Saya Perawan Tua 11 – Kenangan dan Harapan”

Mereka Bilang Saya Perawan Tua 10 – Cegukan

Tokoh : Via

Seperti janjinya, bus jurusan Jakarta-Tasik ini berhenti di rumah makan. Kami diberi waktu kurang lebih setengah jam untuk istirahat, makan, solat atau buang hajat.

Menghirup udara malam tidak pernah sehebat ini. Ada aroma kebebasan yang masuk ke dalam tubuh. Rasa pegal dan pantat yang kesal karena berjam-jam hanya duduk di kursi bus, kini mulai bisa berelaksasi. Ini juga menjadi momen istirahat yang pas setelah kejadian ban meletus itu. Continue reading “Mereka Bilang Saya Perawan Tua 10 – Cegukan”

Untukmu, Ramadhan

Bagian 1 – Mudik

Tokoh : Rama

Tadi malam ibuku menelpon dan menanyakan kabarku di Jakarta. Aku sudah lama tidak bertemu dengannya. Terakhir aku pulang ke rumah adalah 6 bulan yang lalu. Waktu itu aku pulang untuk menghadiri acara pernikahan sepupuku.

Bukannya aku tidak rindu sama ibu, tetapi aku terlalu sibuk bekerja di kota ini. Sibuk mencari pekerjaan baru, lebih tepatnya. Dan momen mudik di bulan puasa ini menjadi sangat pas dan mendorongku untuk segera pulang.

Yang aku inginkan sebenarnya bisa pulang setiap bulannya ke kampung halaman. Namun, hal itu sepertinya belum bisa aku lakukan dengan baik. Alasan minta cuti dari kantor yang susah atau tiadanya ongkos untuk pulang menjadi jawabanku kepada Ibu setiap kali beliau menanyakanku kapan aku pulang.

Continue reading “Untukmu, Ramadhan”

Jodohku : Kamu

“Kalau jodoh gak kemana.” (pepatah)

Jodoh. Lima hurup. J.O.D.O.H. Apa yang terpikir di benakmu ketika mendengar kata itu? Pasangan? Ya. Soulmate? Bisa jadi. Atau teman sehidup semati dalam sebuah ikatan pernikahan? Benar. Apa pun persepsi kita tentang jodoh, semuanya berujung kepada hubungan antara seorang laki-laki dan perempuan. Mereka berharap dapat bertemu, saling mencintai, membangun  keluarga dan membina sebuah bahtera rumah tangga.

Well, itu semua terdengar seperti sebuah cerita dongeng yang happy ending, dimana semua orang menginginkannya. Begitu juga dengan diriku. Sampai saat ini jodoh yang ditakdirkan untuk hidup denganku tak kunjung bertemu. Entah karena aku yang memang bodoh dalam hal percintaan atau mungkin aku payah dalam menghadapi perempuan. Continue reading “Jodohku : Kamu”

Pergi Untuk Kembali

Part 1 – Pergi

“Pak, lihat elang itu!”

Seorang bocah tengah menunjuk seekor elang yang terbang berputar-putar di bukit sana.

”Apakah Lingga juga bisa terbang?”

Tatap bocah itu penuh harap. Ayahnya masih menggambar sketsa hotel pesanan kliennya. Si bocah menatap polos ayahnya. Sang ayah menyimpan pensil yang sedari tadi menari-nari di atas kertas kerjanya. Ia bangkit memperhatikan ‘si penerbang ulung’ yang ditunjuk oleh anaknya.

“Lingga, suatu saat nanti kamu pun bisa terbang seperti elang itu. Bebas tanpa beban. Hanya saja untuk mencapai itu kamu perlu tekad yang kuat juga hati yang ikhlas.”

Sang ayah menunjuk dada anak tercintanya. Bocah itu diam tapi tetap mendengarkan. Matanya menyala dengan semangat ksatria. Continue reading “Pergi Untuk Kembali”

Hadiah Untuk Kakak

“Jika kamu sakit hati karena cinta maka untuk mengobati lukanya adalah dengan menerima cinta yang baru.”

Nama gue Hanna. Lengkapnya adalah Hanna Al-Qadri. Gue cewek enerjik, penuh semangat, cantik, menarik, suka blak-blakan, easy going dan tomboy. Gue paling suka makan buah stroberi. Hmmm… Yummy! Gue bisa menghabiskan satu keranjang buah stroberi sendirian. Kakak gue yang sering ngasih stroberi segar buat gue. Dia sayang banget sama gue. Namanya adalah Bang Rocky. Gue juga sayang sama kakak gue itu. Dia adalah keluarga gue satu-satunya. Nyokap dan bokap gue udah lama meninggal dunia. Kini Bang Rocky adalah kakak, ayah, guru sekaligus sahabat gue. Gue gak punya adik. Kita berdua tinggal di rumah sederhana di kawasan Pamulang, Tangerang Selatan. Continue reading “Hadiah Untuk Kakak”