Perban

Kamu datang saat butuh sandaran
Menangis sedu-sedan sebab putus hubungan percintaan
Kekasihmu menghilang, memilih mengejar selingkuhan

Kamu cantik menarik menawan
Rambut panjang, kulit halus mulus, tubuh idaman
Namun kini kamu merengut, cemberut, menyedihkan

Kamu datang membawa masalah kehidupan
Bercerita ini-itu menumpahkan perasaan
Bukankah setengah masalah harusnya hilang kalau kamu rupawan?

Kenapa sekarang mencari si teman?
Orang yang cintanya dulu kamu abaikan
Orang yang kamu anggap sebagai perban

Aku telah mengobati lukamu, menutupinya beberapa jahitan
Setelah sembuh, kau lepas si perban
Lantas pergi lagi mencari si mapan, tampan, pujaan

Padahal aku mampu, kalau diberikan kesempatan
Genggaman, pelukan, kenyamanan
Semua hal yang kamu butuhkan

Cinta memang tak biaa dipaksakan
Tak apalah aku selalu menjadi perban
Entah sampai kapan

###

Lihat puisi lainnya di sini.

Tikus Rakus

Kisah usang para tikus rakus
Berpakaian bagus dengan sutra halus
Cerdik, licik, serta misterius
Miliki modus di balik senyuman yang katanya tulus

Tak ada rumus khusus
Segala cara ditempuh. meski iman terus tergerus
Asal perut penuh, halal disikat, haram jalan terus
Siklus bisnis berputar, bermuara pada satu gugus

Tak ada empati untuk kaum proletar kurus
Ususnya sering cuti seharian, lambungnya sakit cukup serius
Sungguh nasib yang berbeda jauh, berlawanan arus
Satu di Merkurius, lainnya di Neptunus

Kucing datang cepat menjilat dan mengelus-elus
Beri ikan, jalan pun mulus
Kucing pulang, perutnya kenyang, selesailah kasus
Tutup mata, tutup telinga, kecuali anus

Memang sial sang tikus ternyata jenius
Atau sang kucing yang sel otaknya putus
Kita geram, seakan asa telah pupus
Doakan mereka biar cepat mampus

Si tikus kebal punya penangkal khusus
Bak Zeus yang berkuasa, titahnya bermakna harus
Lupakah ia bahwa tak selamanya hidup terus?
Izrail datang, tak bisa disuap, tak ada istilah tebus

Berhentilah, jangan terlampau rakus
Makan seadanya, ambil sewajarnya, hiduplah di jalan yang lurus
Bertobatlah, sebelum menjadi mayat, terbujur kaku tak terurus
Menuju pengadilan Tuhan, memutuskan siap yang gagal, siapa yang lulus

###

Puisi lainnya bisa kamu baca di sini.

Dinda

Kaukah itu, paras yang pernah kukenal?
Nama yang selalu kurapal dalam doa
Senyuman yang kusimpan di saku kiri kemeja

Kaukah itu, jiwa yang pernah mengisi relung hati?
Tak ada hari tanpa ceritamu
Tak ada masa tanpa kehadiranmu

Kaukah itu, yang sekarang menyapaku lagi dalam mimpi?
Sedang bahagiakah? Sedang pilukah?
Rasa penasaran ini sungguh mengganggu

Kuambil ponsel lalu kucari namamu
Tersambunglah telepon, berdeguplah jantungku
“Halo,” seorang pria menerima panggilan itu

Senyap sejenak
Kubilang aku temannya Dinda
Lantas pria itu bercerita semua

Kututup usai berterimakasih
Atas kabar baiknya
Bahwa ia telah bahagia

###

Puisi lainnya di sini.

Senja

Tersebutlah Senja
Cantik, menarik namun manja
Dulu sering jajan cireng di warung Mang Jaja

Oh Senja,
Sudah mekar bak kembang kamboja
Dulu ditimang-timang sekarang dipuja-puja

Pesanku tiga saja
Taati orang tua, belajar rajin, jangan hisap ganja
Beres sekolah langsunglah kerja

###

Puisi lainnya di sini.

Pengikat Kata

Berjuta kata terjalin kuat serta nyata
Goresan tinta bisa merangkai kalimat cinta
Ketikan tangan berpotensi menjadi senjata
Semua mata tersita padanya, terikat dengannya

Jangan memintaku berdusta
Itu perilaku nista penyebab derita
Aku hanya ingin jujur apa adanya
Menulis yang kumau, bukan sekedar data biasa

Ide muncul secepat kereta Parahyangan
Kadang-kadang berlari seperti unta
Ada pula berjalan lambat ibarat gastropoda
Bahkan pernah tertahan, terasing lalu terlunta-lunta

Harta, tahta, wanita dapat dijadikan cerita
Tentang si fulan yang dipenjara lantaran sengketa harta
Tentang ia yang tersungkur jatuh dari kasta penguasa
Atau tentang kita yang buta karena cinta

Kata-kata tertata rapi penuh makna
Gita-gita cinta berkumandang indah di telinga
Masih enggankah kau untuk bersuara?
Utarakan perasaan, ungkapkan pemikiran melalui kata

Kata-kata terjalin bermetamorfosa menjadi kelimat sempurna
Kukuh, kuat, padat, rata
Kau boleh meminta apa saja
Kan kutulis sekarang juga

Kata-kata ibarat sebuah peta
Membimbing harapan dan cita-cita
Dari murung menjadi ceria,
Dari muram durja berubah senyuman bahagia

Aku bukanlah pujangga pandai merangkai kata
Bukan pula duta bahasa
Aku hanyalah manusia biasa
Seorang pengikat kata

###

Kenali lebih dekat para tokoh lainnya di sini

 

ISRA DAN MI’RAJ

Maha Besar Allah
Maha Suci Allah
Atas semua nikmat yang barokah
Atas semua rezeki yang melimpah ruah

Aku berdiri di hadapanmu, Kawan
Tuk menceritakan sebuah kisah teladan
Kisah yang terdapat di dalam Al-Qur’an
Kisah yang tak lekang oleh zaman

Kala itu di malam dua puluh tujuh rajab
Turunlah seorang malaikat ke negeri arab
Ia membawa titah dari Sang Penguasa Alam
Tuk menemui Muhammad Shollallahu ‘Alaihi Wassalam Continue reading “ISRA DAN MI’RAJ”