Ishfah Seven

Semangat dan Mimpi


3 Comments

Satu Tahun

Met Milad, El-Faeeza!

Setelah kamu tumbuh besar dan cantik, bertekadlah untuk menjadi seorang muslimah sholehah yang pintar, ramah, tegas, bisa membedakan mana kebenaran dan kebatilan, menguasai berbagai macam bahasa dan tentunya menjadi seorang Hafidzah Al-Qur’an yang tawadhu dan paham teknologi.

Continue reading

Advertisements


Leave a comment

MSM 5 – Teman Yang Perhatian

–DINI—

Pekan ini berlalu sangat lambat, seperti bertahun-tahun rasanya. Belum pernah aku merasa hari-hari dan jam-jam merayap tak berkesudahan begini. Kucoba mencari-cari kegiatan apa saja untuk menyibukkan diri dan sedapat mungkin aku ingin melupakan perkataan Mama waktu itu. Ketika aku tiba di rumah setelah percobaan bunuh diri. Ingin rasanya dipeluk Mama dan ditenangkan hati, tetapi itu hanyalah ilusi dari pikiranku saja. Aku malah dimarahi habis-habisan dan seolah-olah kejadian yang menimpaku adalah hal lumrah bahkan sepele baginya. Continue reading


Leave a comment

MSM 4 – Wulan

–GILANG–

Aku mengambil handphone yang diberikan Wulan. LCD-nya pecah di bagian atas, bagian belakang handphone baret dan lecet, suara telepon sudah tidak bisa berfungsi jika pakai mode loudspeaker. Beruntungnya handphone itu masih bisa digunakan menelpon, walau harus memakai earphone. Aku segera mengabari keluargaku di Cirebon tentang kondisiku saat ini. Aku bilang pada kakakku agar tidak khawatir karena 5 hari setelah kejadian itu, tubuhku sudah membaik dan akan berangsur-angsur pulih. Begitu kata dokter yang memeriksaku.

“Terima kasih, Lan. Kamu sudah menemukan handphone ini.”

“Iya, Kak. Tadinya Wulan mau langsung ke sini sesaat setelah nemuin HP Kakak, tapi baru bisa hari ini.”

“Tidak apa-apa. Lagian dua hari pertama ini, aku masih belum siuman.”

Badanku rasanya pegal. Punggungku masih terasa sakit. Andai saja teman-teman tidak segera bertindak melakukan tindakan penyelamatan dengan membentangkan kain itu, mungkin aku tidak akan selamat. Syukur Ahamdulillah, Allah masih memberiku kesempatan hidup. Continue reading


Leave a comment

MSM 3 – Pikiran Pendek

–DINI—

Hari itu awalnya biasa-biasa saja. Semua orang pada umumnya membenci pagi-pagi hari Senin, tapi aku tidak. Bukan hanya Senin saja, semua hari aku suka, asal aku bisa keluar dari rumah. Lepas dari bayang-bayang Mama yang selalu membela Andre dibandingkan anaknya sendiri.

Aku senang datang pagi-pagi ke kantor, menyalakan komputer, membereskan meja kerja dan mengelapnya sampai kinclong. Work Station-ku berada di paling pojok sebelah kiri ruangan. Bersebelahan dengan Ira dan Kaka, teman kerjaku yang bawel dan heboh. Kalau ada mereka, rasanya beban dalam dadaku seakan terangkat dan hilang begitu saja. Biasanya sebelum mulai bekerja, kami mengobrol banyak hal. Biasanya tentang berita apa yang sedang hot, baik di tempat kerja atau di dunia maya. Selalu ada kabar baru dari Ira yang hobi menggunakan sosial media. Continue reading


Leave a comment

MSM 2 – Aku Tak Akan Melepaskanmu

— GILANG—

Jimmy menepuk pundakku berulang kali sambil menyampaikan ucapan terima kasih. Raut mukanya tak lagi kusut dan tegang. Sebuah senyum menghiasi wajahnya. Ia jadi tampak lebih semangat dan ceria kembali.

“Kalau tidak dibantu sama Akang, saya gak tahu harus bilang apa sama itu bule,” Jimmy kembali mengenakan headset yang tadi aku pakai, “ternyata bahasa Inggris saya masih payah. Beruntung ada Kang Gilang yang mau bantu nyelesain case ini.”

“Sesama Agent harus saling bantu kan,” Aku mengangguk perlahan, tersenyum dan balik menepuk pundak Jimmy. Continue reading


Leave a comment

MSM 1 – Tak Ada Gunanya Aku Hidup

— DINI —

Teman-teman yang satu shift kerja denganku sudah mengemasi barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam tas. Beberapa teman melambaikan tangannya berpamitan pulang. Sementara yang lainnya berjalan santai menuju kantin sekedar untuk melepas penat dari pekerjaan yang membutuhkan kesabaran yang ekstra.

Aku bangun dengan malas dari kursi kerjaku. Aku tak ingin pulang. Tapi aku juga tak mau duduk terus di sini. Dengan langkah gontai dan lemas aku keluar dari ruangan kerja. Melirik kembali sebentar ke dalam ruangan. Dimana Ira? Sepertinya tadi aku melihatnya masih di dalam ruangan dan sedang fokus mendengarkan keluhan dari para customer. Atau mungkin Ira sudah keluar bersama teman-teman yang lain. Continue reading