Saat Terakhir

“Tak pernah terpikir olehku. Tak sedikit pun kubayangkan. Kau akan pergi tinggalkanku sendiri. Begitu sulit kubayangkan. Begitu sakit kurasakan. Kau akan pergi tinggalkanku sendiri. Di bawah batu nisan kini. Kau telah sandarkan. Kasih sayang kamu begitu dalam. Sungguh ‘ku tak sanggup ini terjadi.Karena ‘ku sangat cinta. Inilah saat terakhirku melihat kamu. Jatuh air mataku menangis pilu.” (Saat Terakhir – ST12)

Hal yang membuatku sedih salah satunya adalah jika tidak mampu membantu orang lain. Ada keinginan untuk membantu tetapi tidak memiliki kemampuan, baik secara finansial atau kekuatan lainnya semisal pengaruh dan kemampuan untuk didengar.

Aku memiliki sepupu. Namanya adalah Ismi. Dia anak dari kakak ibuku, Uwa Ika. Kehidupan keluarga Uwa Ika tidak lebih beruntung daripada keluarga lainnya. Keluargaku tidak bisa dibilang kaya tetapi tidak sampai miskin. Sedangkan Uwa, hidup dalam kemiskinan.

Anaknya hanya bisa disekolahkan hingga SMP. Lulus dari sekolah ia bekerja serabutan. Semampunya. Dan karena desakan ekonomi dan kebutuhan untuk mengisi perut, ia terlibat dalam hal-hal buruk seperti pencurian. Hingga pernah dipenjara selama berbulan-bulan.

Ismi selalu baik kepadaku dan keluarga. Dia sopan dan senang membantu. Tapi menurut keluarga kami yang lain sikapnya berbeda. Aku tahu apa yang dilakukan Ismi tidak bisa disebut kebaikan kalau sampai ia mencuri. Tetapi kepada keluargaku, ia tidak berani. Entah karena keluargaku sama-sama susah. Atau ia memang tak ada niatan buruk itu.

Selama bertahun-tahun ia berada di jalanan. Menginap di terminal, mengamen, berkumpul dengan anak-anak jalanan dan entah hal apa yang ia perbuat lainnya.

Suatu ketika, aku naik bus menuju Bandung untuk pergi kuliah lagi setelah liburan. Di tengah perjalanan, bus berhenti untuk menaikkan penumpang. Selain penumpang ada seorang pengamen dengan ukulele di tangannya. Ia bernyanyi dengan suara seadanya dan dengan hapalan lagu yang sudah ia latih. Kunci nadanya sama dan berulang.

Ketika pengamen itu melewatiku dan mengulurkan bekas bungkus permen, aku kaget. Itu Ismi, sepupuku. Aku segera mengambil beberapa lembar uang. Tidak banyak. Sungguh, jika saat itu aku memiliki banyak uang maka aku ingin memberikannya kepada Ismi. Lantas ia buru-buru pergi karena bus sudah mau berangkat lagi.

Aku sedih karena tak bisa membantunya lebih banyak. Aku kesal karena tak bisa berbuat apa-apa untuk keluarganya. Aku yakin hidup di jalanan bukanlah keinginan dia. Tak ada orang yang memiliki cita-cita seperti itu.

Selang beberapa tahun kemudian aku dengar ia sudah menikah dan memiliki seorang anak perempuan. Hasanah adalah nama istrinya yang berasal dari Banjar. Dan Riska adalah nama yang diberikan untuk anaknya. Uwa Ika sungguh sayang kepada cucunya itu. ia yang sakit-sakitan dan tak memiliki banyak uang tetapi selalu memberikan uang untuk cucunya. Uang itu adalah hasil pemberian keluarga untuk Uwa.

Tahun berganti, musim berubah. Masih segar di dalam ingatan, ketika usai sidang skripsi teleponku berdering. Teteh mengabari bahwa Uwa Ika telah meninggal. Aku kaget dan sedih. Betapa berita kematian itu selalu mendadak. Dan aku sedih bukan hanya karena Uwa telah pergi tetapi aku juga belum bisa pulang ke rumah. Saat itu masih ada agenda kampus yang tidak bisa ditinggalkan. Aku baru bisa pulang sekitar sebulan ke depannya.

Musim berubah, usia bertambah. Memang panjang usia seseorang tak ada yang tahu. Setiap tahun ada yang terus tumbuh menjadi lebih tua. Ada pula yang berhenti karena ajalnya sudah tiba. Dan ajal itu telah menemui sepupuku. Ia meninggal di daerah Banjar.

Istrinya mengabari kami sambil menangis sesunggukan. Keluarga kami segera berangkat menuju Banjar. Kami bererncana untuk mengambil jenazah Ismi untuk dikuburkan di samping kuburan Uwa Ika. Ke mana ayahnya pergi? Jangan tanyakan dia. Tak ada yang tahu ia di mana. Bahkan saat aku kecil pun, orang itu tak pernah datang ke rumah Uwa Ika. Kudengar mereka telah bercerai ketika Ismi masih kecil.

Hari itu, aku mencucurkan air mata kembali. Lagi-lagi karena aku tak bisa mengantarkan sepupuku di saat-saat terakhirnya. Semasa hidup aku tak bisa membantu, lalu ketika ia berpulang aku pun tak ada. Aku sungguh kesal kepada diriku. Kenapa aku tak memiliki kemampuan untuk membantu orang lain?

Satu-satunya jawaban adalah aku harus menjadi orang kaya yang dermawan. Karena keluargaku bukan hanya Ismi dan Uwa Ika yang miskin. Ada adik dari ibuku, Bi Atih. Kondisi keluarganya tak jauh berbeda dengan Uwa Ika. Dan untuk membantu Bi Atih pun aku masih belum mampu.

Aku harus segera mapan. Sangat mapan. Agar tak ada lagi keluargaku yang kelaparan, tidak memiliki baju, tempat berteduh dan ketiadaan kebutuhan pokok hidup.

###

View My Daily Post

Umur Ideal Laki-laki untuk Menikah

Halo, Sahabat!

Untuk kamu yang belum menikah, kira-kira kapan rencana itu akan terwujud? Pada umur berapa kamu akan menikah?

Pertanyaan seperti ini tidak hanya muncul saat keluarga berkumpul di momen Idul Fitri. Biasanya tante yang penasaran, sepupu yang usil atau teman yang K.E.P.O. selalu bertanya ini. Dan ternyata pertanyaan inI pula sedikit banyak mempengaruhi diri sendiri. Seseorang bisa membayangkan hal itu sebelum ia tidur yang membuatnya malah gelisah.

Pada pos berjudul Kapan Nikah, aku sudah membahasnya.

Sebenarnya di umur berapa sih laki-laki itu ideal untuk menikah?

Memang kedewasaan tidak ditentukan oleh umur. Karena ada orang yang berumur 22 tahun dan sudah mapan. Ada orang yang 44 tahun tetapi masih pemarah, emosional atau ngambekan.

Selanjutnya di umur berapa laki-laki itu boleh menikah? Di umur di bawah 25 tahun laki-laki boleh menikah. Bahkan di umur 70 tahun ia boleh menikah (lagi).

Laki-laki pada umur 25 tahun itu sudah diharapkan dewasa. Bukan karena umurnya tetapi masyarakat melihat (menilai) anak muda umur 25 tahun itu sudah mandiri. Ia sudah mulai bekerja dan memiliki pendapatan. Umur di bawah 25 tahun, laki-laki masih kuliah dan persiapan masuk ke dunia kerja. Kalau umur 27 tahun dianggap sudah lebih matang lagi. Artinya ia sudah meniti karier selama dua tahun, memiliki gaji dan posisi sudah bagus. Laki-laki umur 30 tahun sudah matang. Dan pada umur 35, laki-laki sudah sangat matang dalam segala hal. Kalau begitu rentang umur laki-laki yang sudah diduga siap untuk menikah adalah antara 25 hingga 35 tahun. Yang membuat dia siap bukan karena umur semata melainkan ia sudah dewasa. Maksudnya ia sudah lebih matang emosinya (bisa mengendalikan diri), intelekutal dan finansial.

###

Keterangan :

K.E.P.O. adalah akronim dari Knowing Every Particular Object yang artinya sebutan untuk orang yang serba ingin tahu akan detail sesuatu. Apa saja yang terlintas di benaknya akan ditanyakan terus. Hal-hal sepele ditanyakan serta serba ingin tahu urusan orang lain.

K.E.P.O. biasa disematkan sebagai sebutan yang tidak baik karena keterkaitannya pada sibuk mengurusi (sangat ingin mengetahui) apa saja yang terjadi pada orang lain. Lain halnya jika rasa penasaran itu ada pada proses belajar-mengajar, mengkaji ilmu dan sebagainya. Untuk poin kedua ini sepertinya istilah K.E.P.O. tidak cocok.

Pos lainnya ada di sini