Logika dan Perasaan

Kapan waktu yang tepat untuk menggunakan logika dan perasaan pada cinta?

Semua hubungan cinta itu sudah diatapi oleh sesuatu yang bernama perasaan. Pertanyaan ‘kapan menggunakaan perasaan?’ jawabannya yaitu ‘sudah menggunakannya’. Itu sebabnya disebut cinta.

Ketika kita bertemu seseorang dengan perasaan itu maka semua keputusan diwarnai oleh cinta. Cinta itu tidak logis karena cinta memiliki logikanya sendiri. Logika cinta itu apa? Yaitu tergesa-gesa, harus hanya dia, harus selamanya, jangan sakiti aku, setialah hanya kepadaku, dan aku mau apa saja pokoknya kamu harus mengerti. Seseorang yang mengatakan, “Aku butuh pasangan yang pengertian,” itu sama artinya dengan, “Apapun yang aku lakukan, semua hal yang aku mau, kamu HARUS mengerti.”

Semua hal ini dinaungi oleh atap rasa. Supaya seimbang, saat seseorang sedang mabuk kepayang oleh cintanya, ia juga mesti menggunakan otak dan pikirannya. Ia harus punya rasa dan logis dalam waktu bersamaan.

Ketika kamu sedang dalam upaya pendekatan, jangan mengatakan hal-hal yang bisa membuat cemburu si calon pasangan. Baru kenal, jangan bicara tentang mantan kekasih. Baru kenal, sudah membanding-bandingkan. Atau baru kenal mengatakan, “Kamu lebih cantik deh kalau kamu menggunakan jenis potongan rambut seperti ini,” sambil menunjukkan foto seprang model di sebuah majalah. Bayangkan, sudah ada demand, tuntutan dan permintaan yang memaksa. Atau misalnya saat pertama bertemu bertanya, “Gajimu berapa?”Laki-laki yang ditanya soal gaji sama tidak senangnya dengan wanita yang ditanya soal umur dan berat badannya.

Pembuktian yang sebenarnya dalam kehidupan adalah hal yang liogis. Contohnya biaya hidup, kesehatan untuk keluarga dan perawatan anak dalam kandungan hingga melahirkan. Pikiran logis tentang hal seperti ini tidak boleh hilang.

Kalau laki-laki berkata, “Terimalah aku apa adanya. Kita percayakan kepada Tuhan.”

Tuhan menjawab, “Kalau kamu percaya kepada-Ku maka percayalah juga pada hukum upaya. Bahwa kalau kamu mengupayakan sesuatu, kamu akan mendapatkannya.”

Tidak bileh kita mengatakan PERCAYA kepada Tuhan tapi mengabaikan hukum-Nya.

Jadi jawaban untuk pertanyaan, “Kapan seseorang menggunakan perasaannya?” Jawabnya ialah, “Sepanjang waktu.” Perasaan sayang, cinta, memperhatikan dan mengkhawatirkan pasangan dan keluarga dan bertanggung jawab, itu semua digunakan hingga akhir hayat. Sementara logika dimulai seawal mungkin untuk mengenali tanda-tanda ketidaksetiaan, rendahnya tanggung jawab, malas mencari nafkah dan mengurus rumah tangga. Dan logika mesti dipakai secara teratur supaya perjalanan cinta di bawah naungan perasaan itu menjadi indah, logis dan mampu. Karena sulit sekali kita mencintai dengan damai kalau kita tidak mampu secara ekonomi dan logis (mapan dalam kehiduoan dan matang dalam pemikiran).

###

(SUMBER : Channel Youtube – Mario Teguh)

Perlu motivasi lainnya? Klik di sini.